Iwanbanaran.com – Cakkkk… selamat pagi dari warung IWB! Piye kabare sampeyan semua? Semoga tetap sehat, dompet tebal, dan tangki motor nggak pernah dibiarkan kerontang alias kosong melompong. Nah, masuk bulan Mei 2026 ini, IWB dapet banyak bisikan dan pantauan langsung di lapangan soal “darah” buat tunggangan kita semua, apalagi kalau bukan BBM!
Yup, setiap awal bulan, ritual kita adalah ngecek harga. Opo maneh jaman sekarang cak, harga BBM suka bikin jantungan kalau nggak dipantau. Pertamina sendiri sudah merilis daftar harga resmi per 1 Mei 2026. Dan jujur cak… ada yang tetap, tapi ada juga yang harganya bikin alis IWB naik !
Oke, langsung saja kita bedah satu-satu berdasarkan pantauan di SPBU wilayah Jakarta dan sekitarnya. Cekidottt cak!
Pertamina: Pertalite dan Pertamax Masih Bertahan!
Kabar gembira buat para pejuang aspal, Pertalite ternyata masih adem ayem di angka Rp 10.000. Jadi buat sampeyan yang masih mengandalkan subsidi, napas masih bisa panjang cak. Tapi buat yang pakai Pertamax…… siap-siap, dan Harganya ternyata masih samaaaa, Juozzz gandozzz tenan iki !
Karyawan melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) kendaraan konsumen di SPBU Coco Plaju, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (20/2/2020). PT Pertamia (Persero) terus mempercepat penerapan digitalisasi SPBU untuk meningkatkan kepastian takaran, dari total lebih dari lima ribu SPBU yang akan digitalisasi, saat ini sekitar tiga ribu SPBU sudah di digitalisasi dan sisanya akan terus dilakukan pada tahun 2020. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
Berikut rincian lengkapnya di wilayah DKI Jakarta:
Pertalite: Rp 10.000/liter
Pertamax (RON 92): Rp 12.300/liter
Pertamax Green 95: Rp 12.900/liter
Pertamax Turbo: Rp 19.400/liter (Walahhh…!!)
Dexlite: Rp 23.600/liter
Pertamina Dex: Rp 23.900/liter
Solar Subsidi: Rp 6.800/liter
Piye dengan SPBU Swasta?
Bukan cuma Pertamina cak, IWB juga intip-intip tetangga sebelah kayak Shell dan Vivo. Ternyata mereka juga main di angka yang kompetitif. Shell Super misalnya, dipasang di angka Rp 12.390, tipis banget bedanya sama Pertamax. Sementara Vivo lewat Revvo 92-nya juga nempel ketat.
Berikut pantauan di SPBU Swasta:
BP Ultimate: –
BP 92: Rp 12.390 per liter
BP Ultimate Diesel: Rp 25.560 per liter
Vivo Revvo 92 (RON 92): Rp 12.390 per liter
Revvo 95 (RON 95): –
Diesel Primus Plus (CN 51): Rp 14.610 per liter
Last…. fluktuasi harga BBM memang sudah jadi “makanan” kita tiap bulan. Namun perang Iran Amerika ini memang bikin jantungan. Jadi Saran IWB sih simpel, berkendara alon-alon ora usah sruntulan buat keiritan motor. Dan gunakan BBM sesuai kompresi mesin motor sampeyan. Jangan dipaksa pakai yang murah kalau spek mesin kudu RON tinggi, nanti malah nglitik dan performa amsyong! Rugi bandar nanti cak kalau umur mesin lebih pendek gara-gara salah minum. Nah, dari daftar di atas, wilayah sampeyan piye harganya? Apakah ada perbedaan yang mencolok? Monggo tumpahkan opininya di kolom komentar. Gazzzz ! (IWB)
Iwanbanaran.com – Asli cak….dunia otomotif memang nggak pernah kehabisan berita. Lhaa piyee…Baru saja IWB memelototi sosok motor baru dari Wuyang Honda (partner Honda di China) bernama Honda NS150ES. Dan impresi pertama IWB pas melihat motor ini adalah: “Lho, ini PCX kok kakinya selonjoran dek rata?”
Iya beneran cak! Bayangkan sampeyan punya Honda PCX 160 yang elegan dan bongsor itu, tapi tiba-tiba area tengahnya dipangkas, punuk tangki bensinnya dibuang, dan diganti dengan dek rata yang luas persis Honda Vario. Inilah konsep yang diusung oleh NS150ES.
Desain: Mewah Tapi Praktis!
Kalau kita intip area depan, aura mewahnya emang dapet banget. Lampu depan atau headlight-nya itu lho cak… besar, sangar, dan sudah full LED dengan desain yang sangat identik dengan keluarga maxi-skutik Honda. Garis-garis bodi sampingnya juga mengalir manis, memberikan kesan high-end scooter.
Tapi kejutan utamanya ada di bawah dek. Berbeda dengan PCX yang tangki bensinnya di depan, NS150ES ini balik ke “khittah” skutik fungsional. Dek rata yang luas ini tentu menjadi jawaban buat Kangbro yang sering bawa barang belanjaan atau galon, tapi tetap pengen tampil parlente layaknya naik motor premium.
Mesin: Tenaga 150cc eSP+
Dapur pacunya nggak kaleng-kaleng cak. Mengusung mesin 150cc eSP+, motor ini diklaim mampu memuntahkan tenaga sekitar 14,5 HP dengan torsi 14,2 Nm. Memang secara kapasitas sedikit di bawah PCX 160 versi Indonesia, tapi untuk penggunaan harian di perkotaan, IWB yakin karakter mesin Honda yang halus dan responsif bakal tetap terasa di sini.
Fitur Melimpah, Khas Honda Modern
Fiturnya? lumayan komplit cak!
Panel Instrumen TFT: Layarnya sudah full warna dan bisa konek ke smartphone. Navigasi? Bisa langsung nongol di speedometer!
Smart Key System: Jelas sudah nggak pakai kunci kontak fisik lagi.
Pengereman: Sudah dibekali cakram depan-belakang plus fitur ABS (Anti-lock Braking System) dan HSTC (Honda Selectable Torque Control) biar nggak gampang sliding pas jalanan basah.
Socket USB: Buat ngecas HP sambil riding tetap aman terkendali.
Last….Munculnya Honda NS150ES ini seolah menjadi jawaban bagi konsumen yang selama ini “galau” antara memilih kemewahan PCX atau fungsionalitas Vario. Di China, motor ini diposisikan sebagai skutik premium serba guna. Pertanyaannya… apakah PT AHM (Astra Honda Motor) bakal memboyong konsep dek rata 150cc ini ke tanah air? Mengingat pasar Indonesia sangat suka dengan dek rata (seperti suksesnya Vario), bukan tidak mungkin sosok NS150ES ini bisa menjadi inspirasi buat “Vario 160 Generasi Baru” atau malah model mandiri lainnya. Kalau menurut sampeyan gimana cak? Cocok nggak NS150ES ini mengaspal di jalanan Indonesia? Atau tetep setia sama PCX berpunuk? Monggo berikan opininya di kolom komentar… gass ! (iwb)
Iwanbanaran.com – Cakkkk…Setelah pada pekan lalu sukses membuka etape perjalanan perdananya mengeksplorasi keindahan bumi Toba Samosir, Sumatera Utara yang menakjubkan, kini MAXi Tour Boemi Nusantara (MTBN) kembali bersiap melanjutkan perjalanan ikoniknya menyusuri keindahan panorama dan kekayaan alam bumi rafflesia Bengkulu dalam semangat eksplorasi dan solidaritas yang MAXimal.
Di etape kedua yang berlangsung pada 25-26 April 2026 ini, Yamaha kembali mengajak dan merangkul para bikers MAXi Yamaha yang terdiri dari media, blogger, vlogger, serta komunitas MAXi yang ada di wilayah Bengkulu untuk menikmati pengalaman riding yang andal bersama MAXi Yamaha dalam menyusuri aneka medan perjalanan Bengkulu yang penuh dengan hidden gems dan kejutan di tiap kilometernya.
“Etape kedua MAXi Tour Boemi Nusantara di Bengkulu ini menjadi wujud nyata komitmen Yamaha dalam merangkul komunitas sekaligus mengeksplorasi kekayaan alam Bumi Rafflesia yang luar biasa. Melalui perjalanan ini, kami tidak hanya ingin mengajak rekan-rekan media, blogger, vlogger, dan konsumen setia untuk sekadar menikmati berbagai hidden gems yang ada di wilayah Bengkulu. Namun lebih dari itu, kami pun ingin terus membuktikan berbagai keunggulan yang diterjemahkan ke dalam fitur canggih MAXi Yamaha dalam memberikan pengalaman berkendara yang MAXimal. Kami berharap melalui kegiatan ini, tali silahturahmi antara para bikers MAXi Yamaha di tanah Sumatera semakin solid dan erat untuk kini dan waktu yang akan datang.,” ujar Wahidin, Deputy GM Sales & Operation Yamaha Main Dealers Thamrin Brothers.
Etape kedua MTBN mengajak para bikers mengeksplorasi panorama alam Kepahiang dengan titik awal keberangkatan dari Yamaha Sentral Bengkulu menuju dataran tinggi. Menempuh rute sejauh 128 km, peserta disuguhkan keindahan perkebunan teh Kabawetan dan jajaran Bukit Barisan yang sangat memanjakan mata. Tantangan utama hadir saat melintasi jalur Liku 9 yang ikonik, di mana berbagai kelokan tajam, tanjakan, dan turunan menguji skill berkendara.
Kondisi perjalanan yang menantang dan penuh kejutan ini pun menjadi playground yang menarik untuk menguji berbagai fitur unggulan pada MAXi Yamaha, mulai dari kehadiran rem ABS dan Traction Control System (TCS) yang bikin sensasi riding terasa semakin pede, rear sub-tank suspension yang mampu meningkatkan performa saat bermanuver, hingga fitur front LED lamp with Dual Projector yang mampu memberikan kualitas pencahayaan yang lebih fokus dan optimal, utamanya saat berkendara di malam hari.
Dalam perjalanan pada hari kedua, para peserta kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Bengkulu untuk join dalam acara community gathering bersama para pengguna MAXi Yamaha yang ada di kota Bengkulu. Melalui rute perjalanan yang jauh lebih panjang sejauh 134 kilometer, para peserta disuguhkan dengan berbagai spot-spot pemberhentian untuk berfoto dan mengabadikan momen perjalanan.
Berbagai spot pemberhentian hidden gem layaknya Sungai Trokon, Danau Mas Harun Bastari, lembah kebun teh Kabawetan, hingga menikmati panorama sunset Samudra Hindia di Pantai Sungai Suci, menunjukkan bahwa Bengkulu boleh jadi salah satu wilayah di Pulau Sumatera yang layak untuk dieksplore dan disinggahi bagi para bikers yang hobi lakoni touring bersama MAXi kesayangannya.
Setibanya di venue community gathering yang berlokasi di Rafflesia Beach Club, para peserta disambut dengan aneka pertunjukkan kebudayaan khas Bengkulu, mulai dari Tari Sekapur Sirih yang menjadi simbol penyambutan yang hangat, atraksi perkusi Dhol yang unik dan anti-mainstream, hingga menerima ikat kepala Besurek yang menyimbolkan rasa solidaritas antar sesama pengguna MAXi Yamaha.
Acara community gathering terasa spesial dengan kehadiran Wiwik Rahayu, S.T., M.Si, selaku Kabid E-Government Kominfo Kota Bengkulu yang memberikan cinderamata ikonik Bunga Rafflesia dan miniatur Tabot. Dalam momen hangat ini, Yamaha turut membagikan informasi produk terbaru seperti oli Yamalube “TURBO” MATIC, aksesori resmi, hingga koleksi apparel kolaborasi eksklusif. Selain itu, para peserta juga diedukasi mengenai pemanfaatan aplikasi My Yamaha Motor yang dirancang untuk menghadirkan kemudahan layanan serta pengalaman digital bagi konsumen….(YIMM PR)
Iwanbanaran.com – Cakkk….Akhir pekan lalu, Ducati kembali menjadi pusat perhatian di MotoGP. Alex Marquez sukses meraih kemenangan mengejutkan di Grand Prix Spanyol bersama tim Gresini, mengendarai Desmosedici GP26. Namun, kegembiraan tidak berhenti di sana. Di sesi tes resmi hari Senin di sirkuit yang sama, pabrikan asal Borgo Panigale itu memamerkan sejumlah komponen inovatif yang mendorong batas performa dan aerodinamika jauh melampaui ekspektasi…!!
Marc Marquez Menguji “Monster” Baru
Marc Marquez, yang terjatuh di balapan utama, menjadi pusat uji coba pengembangan terbaru Ducati. Motor yang ia kendarai dihiasi banyak bagian yang tidak dicat—menandakan bahwa tim masih dalam tahap eksperimen agresif.
Bagian depan motor ini menampilkan fairing yang dirancang ulang secara radikal. Desainnya terlihat lebih lebar dari generasi sebelumnya, memanjang hingga sejajar dengan lebar sayap depan. Ini adalah penyimpangan dari bentuk tradisional seperti anak panah yang selama ini dikenali para penggemar.
Sayap Baru, Filosofi Baru
Tim yang dipimpin oleh jenius aerodinamika Gigi Dall’Igna tidak berhenti di fairing. Mereka mengerjakan ulang kedua sayap depan untuk meningkatkan performa:
Sayap bawah: Memiliki leading edge yang lebih tebal.
Sayap atas: Sudut serangan (angle of incidence) dikurangi dan chord (lebar sayap) dibuat lebih ramping.
Perubahan ini mengindikasikan bahwa para insinyur Ducati berusaha memperluas area kontak aerodinamis, yang secara dramatis dapat mengubah karakteristik handling bagian depan motor.
Fitur lain yang ikut berubah adalah slot pada fairing, yang sebelumnya memiliki desain ramping dan aerodinamis. Kini, slot tersebut dikonfigurasi ulang untuk mengelola dinamika aliran udara dari depan dengan lebih baik.
Difuser, yang diposisikan di bagian bawah fairing, tetap mempertahankan asupan udara yang kuat namun mendapat keuntungan dari saluran keluar atas (upper outlet) yang dirancang untuk mengoptimalkan aliran udara—meningkatkan efisiensi dengan cara yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Yang menarik, saluran pemisah (separation channel) antara difuser dan bodi tengah fairing tampak diminimalkan. Ini mengindikasikan kemungkinan adanya efek Venturi—sebuah prinsip fisika yang dapat meningkatkan kecepatan aliran udara dan downforce secara signifikan.
Bodi aerodinamika baru Ducati ini bukan hanya soal penampilan. Setiap detail dikerjakan dengan presisi untuk peningkatan performa:
Panel samping vertikal (step): Masih dipertahankan, tetapi leading edge-nya dilunakkan.
Leading edge kini lebih membulat untuk mengakomodasi asupan udara yang lebih besar dan tidak terlalu vertikal, yang ditempatkan tepat di bawah step.
Dengan kata lain, seluruh celah pada motor ini telah diteliti dan direvisi.
Kembalinya Sayap Lateral dan Lengan Ayun Baru
Sayap lateral yang sempat menuai kritik dan dipertanyakan khasiatnya selama pramusim, kini kembali hadir. Kehadirannya kali ini tentu dengan penyempurnaan.
Yang lebih menggoda, Ducati juga memperkenalkan lengan ayun belakang baru yang secara artistik menggabungkan komponen logam dengan fairing karbon yang inovatif.
Sementara Marquez menguji paket aerodinamika paling radikal, Francesco Bagnaia terlihat menguji konfigurasi aerodinamika yang sudah dikenali dari tes Sepang. Konfigurasi ini menampilkan fairing berundak (stepped) dengan bagian bawah tanpa saluran sebelumnya—sebuah desain yang sempat disingkirkan, namun kini kembali dipertimbangkan untuk dievaluasi oleh para pembalap.
Last….setelah akhir pekan yang sukses (kemenangan Alex Marquez), Ducati tidak berpuas diri. Tes Jerez membuktikan bahwa mereka terus mengejar inovasi tanpa henti. Portofolio komponen yang diuji—dari fairing lebar, sayap baru, difuser yang dioptimalkan, lengan ayun hybrid (logam-karbon), hingga sayap lateral yang kembali hadir—menunjukkan bahwa Borgo Panigale sedang membangun motor yang benar-benar berbeda. Akankah desain berani ini melambungkan Ducati ke level yang lebih tinggi di kejuaraan? Atau justru ada risiko “tersesat” di tengah pengembangan yang agresif? Satu hal yang pasti: suara Ducati kini lebih keras dari sebelumnya, bergema di seluruh dunia balap MotoGP. Persaingan menuju Le Mans dan seri Eropa berikutnya dipastikan akan semakin sengit. Kita tunggu saja cak…(iwb)
Iwanbanaran.com – Cakkkk….Dunia balap motor internasional baru saja dikejutkan oleh kemunculan talenta muda asal Indonesia, Muhammad Rama Putra Pratama, atau yang akrab disapa Rama Dipa. Pembalap binaan Astra Honda Racing Team (AHRT) ini sukses mencatatkan sejarah dengan menjadi pemenang di ajang Red Bull Rookies Cup (RBRC) seri Jerez, Spanyol. Dan alhamdulilah cak IWB berkesempatan melakukan interview Eksklusif IWB vs Ramadhipa…yup, bintang baru yang bikin Geger Jerez !!
Keajaiban dari Posisi 17 Kemenangan Rama di Jerez bukanlah hal yang biasa. Memulai balapan dari posisi ke-17, Rama menunjukkan mentalitas baja dengan merangsek ke barisan depan. Dalam wawancara eksklusif bersama IWB, Rama mengungkapkan bahwa strateginya hanya satu: menyerang sejak awal. “Saya hanya ingin memberikan 100 persen dari apa yang saya punya, tanpa mau membebani diri dengan target muluk,” ujar pembalap yang juga mengidolai Marc Marquez ini.
Saat ini, Rama menetap di Spanyol untuk menjalani program pelatihan intensif. Hidup di Eropa bukan sekadar soal memutar gas. Rama harus menjalani disiplin fisik yang luar biasa, mulai dari bersepeda puluhan kilometer untuk melatih ketahanan (endurance) hingga sesi gym rutin. Menariknya, di sela-sela jadwal balap yang padat, Rama tetap mengutamakan pendidikan dengan bersekolah di British School. Nahh dari sinilah IWB jadi tahu seperti apa perjuangan Rama. Interview eksklusif yang IWB lakukan membuat mata kita terbuka bahwa untuk meraih prestasi memang butuh konsistensi dan edukasi. Dan dari sini kita juga jadi tahu ternyata Rama sering bertanya pada Veda saat akan balapan. Berikut ringkasan interview IWB dan Rama…
Interview IWB – Rama Pasca Race Jerez
Iwan Banaran (IWB): “Assalamualaikum Rama, apa kabar? Kita sudah memantau kamu sejak zaman Honda Dream Cup saat masih mungil sekali, dan sekarang luar biasa prestasimu. Boleh share ke kita, apa perbedaan mendasar antara pembalap Eropa dengan pembalap lokal yang pernah kamu lawan, khususnya saat di Jerez kemarin?”
Ramadipa: “Alhamdulillah baik, Mas. Perbedaan terbesarnya mungkin di pengalaman. Mereka lebih mengetahui sirkuit-sirkuit di Eropa. Selain itu, level start mereka saat memulai balap sudah lebih tinggi dibanding di Indonesia, jadi perkembangan mereka bisa lebih cepat. Rider Indonesia seperti saya, Veda, atau Mas Mario harus beradaptasi sangat cepat. Saya juga sering bertanya kepada coach agar bisa belajar lebih cepat.”
IWB: “Ada persiapan khusus tidak untuk balapan di Jerez kemarin?”
Ramadipa: “Sebenarnya tidak ada yang khusus, persiapannya tetap konsisten: latihan fisik, gym, sepedaan, dan latihan motor setiap minggu. Yang paling penting adalah fisik untuk recovery agar tetap fit saat balapan, serta mental. Saya mencoba untuk tidak membebani diri sendiri.”
IWB: “Bagaimana jalannya race kemarin? Kamu kan menyalip banyak sekali pembalap.”
Ramadipa: “Seluruh race kemarin sangat menantang. Setiap lap posisi selalu berganti. Saya mencoba memanajemen ban karena saya sudah push sejak lap pertama. Saya lihat lap time saya tidak terlalu kencang di awal, jadi harusnya ban tidak terlalu habis. Yang paling sulit itu saat sudah di grup depan; kita tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun karena sekali melebar, sangat sulit untuk maju lagi.”
IWB: “Kapan kamu mulai merasa yakin bisa menang atau minimal naik podium?”
Ramadipa: “Di tiga lap terakhir saya mulai percaya diri karena saya rasa punya pace yang bagus dan bisa mengontrol diri untuk tidak melakukan kesalahan. Kalau untuk menang, saya baru memprediksinya di sektor terakhir (last sector). Saya lihat saya ada di posisi tiga besar, lalu saya memanfaatkan slipstream sampai tikungan terakhir. Di situ saya sudah tahu apa yang harus saya lakukan.”
IWB: “Boleh cerita sedikit tentang rutinitas latihan kamu di Spanyol?”
Ramadipa:
Sepedaan: “Itu untuk kardio, endurance, dan melatih fokus. Biasanya 2 jam, jaraknya sekitar 60-65 km.”
Gym: “Tiga kali seminggu. Ada latihan kekuatan (strength), sirkuit, dan High Intensity (HIIT).”
Motor: “Latihan motor dua sampai tiga kali seminggu.”
Istirahat: “Tidur minimal 8 jam untuk recovery hari selanjutnya.”
IWB: “Kamu kan masih sekolah juga di sana, bagaimana pembagian waktunya?”
Ramadipa: “Iya, saya sekolah di British School. Di sana belajar bahasa Spanyol, Katalan, dan Inggris. Sekolahnya offline tapi hanya hari Senin saja, karena biasanya setelah balapan hari Senin itu libur. Sisa hari lainnya fokus untuk latihan jika tidak ada jadwal balap.”
IWB: “Apakah kamu sering bertanya atau diskusi dengan senior seperti Veda Ega atau Mario Aji?”
Ramadipa: “Sering. Karena Veda punya pengalaman lebih banyak di Red Bull Rookies Cup (RBRC) dan motornya sama, saya tanya detail teknis seperti di tikungan ini pakai gigi (gear) berapa. Kalau dengan Mas Mario Aji, biasanya lebih ke cerita-cerita personal.”
IWB: “Siapa rival terberat kamu tahun ini dan apa bekal paling berharga dari Astra Honda Racing Team (AHRT)?”
Ramadipa: “Rival yang sudah pengalaman seperti Beñat, Kristian Daniel, atau yang dari Thailand. Tapi saya tidak boleh fokus ke mereka saja, saya harus terus improve diri sendiri. Dari AHRT, bekal paling berharga adalah fasilitas; mulai dari latihan di Spanyol, tempat tinggal, sampai semua biaya ditanggung. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini.”
IWB: “Terakhir, apa pesan untuk fans di Indonesia dan target untuk balapan selanjutnya?”
Ramadipa: “Mohon doanya untuk keselamatan dan kelancaran di setiap race. Target saya adalah bisa konsisten seperti di seri pertama. Target harian saya adalah harus lebih baik dari hari kemarin. Jangan pernah batasi mimpi untuk menjadi nomor satu. Terima kasih semua dukungannya!”
Yup..itulah cak sesi interview IWB dengan Rama. Mimpi Menuju MotoGP Langkah Rama di Red Bull Rookies Cup merupakan jembatan emas menuju kelas utama MotoGP. Dengan konsistensi yang ditunjukkan, Rama Dipa kini dipandang sebagai calon bintang masa depan Indonesia yang siap mengikuti jejak para pendahulunya di ajang Moto3 atau Moto2. Bagi masyarakat Indonesia, kehadiran Rama Dipa adalah simbol harapan baru. Dukungan doa dan apresiasi terus mengalir agar bendera Merah Putih bisa terus berkibar di podium-podium tertinggi sirkuit dunia. Goooo Indonesiaaa !!! (iwb)
Iwanbanaran.com – Cakkkk….Ada kabar yang kurang menyenangkan datang dari negeri Sakura, dimana Yamaha Jepang baru saja memberikan pengumuman yang judulnya cukup kontras: antara prestasi dan tragedi. Kenapa? Karena Yamaha resmi mengumumkan kalau seri Yamaha Tricity skutik roda tiga yang legendaris itu bakal disuntik mati alias stop produksi di Jepang! Waduh, kok bisa ya, Cak? Padahal teknologi LMW (Leaning Multi Wheel) itu sudah jadi identitas Yamaha banget. Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di balik berita ini….
Yamaha Motor secara resmi mengumumkan penghentian produksi untuk seluruh lini model TRICITY di pasar Jepang. Mulai musim panas 2026, skutik roda tiga dengan teknologi kemiringan unik ini akan resmi pensiun dari showroom Negeri Sakura.
Keputusan ini menandai berakhirnya era LMW (Leaning Multi Wheel) di Jepang, menyusul penghentian model NIKEN pada 2024 lalu. Namun kabar baiknya, untuk pasar luar negeri, termasuk Eropa, model ini kemungkinan masih akan terus dijual.
Tiga Varian, Satu Nasib
Yamaha Tricity pertama kali diperkenalkan pada 2013 dan mulai dijual pada 2014. Awalnya hanya tersedia dalam kapasitas 125cc, kemudian diperluas ke 155cc dan 300cc seiring dengan tingginya permintaan akan kendaraan komuter yang stabil dan praktis.
Ketiga varian tersebut Tricity 125, 155, dan 300 akan dihentikan penjualannya di Jepang tanpa alasan resmi yang diungkapkan Yamaha. Namun, beberapa indikasi menunjukkan bahwa faktor pasar domestik dan pergeseran strategi produk menjadi latar belakangnya.
Keunggulan LMW: Stabil tapi Lincah
Keunikan utama Tricity terletak pada sistem dua roda depan dengan mekanisme parallelogram linkage. Sistem ini memungkinkan kedua roda depan bergerak independen saat motor dimiringkan, memberikan stabilitas ekstra tanpa mengorbankan kelincahan layaknya motor roda dua biasa.
Ini menjadikan Tricity sangat diminati untuk berbagai keperluan:
Pengiriman barang (bisnis) karena stabilitas saat berhenti dan bermanuver di perkotaan
Touring jarak jauh terutama untuk varian 155cc dan 300cc yang boleh masuk jalan tol (karena kelasnya light motorcycle)
Pengguna pemula atau yang kurang percaya diri karena rasa aman yang lebih tinggi
Semua varian dibekali mesin BLUE CORE dengan VVA (Variable Valve Actuation) yang juga digunakan di NMAX, terkenal irit bahan bakar dan halus.
Nasib Berbeda di Luar Negeri
Meskipun pensiun di Jepang, Tricity masih akan terus diproduksi dan dijual di luar negeri. Beberapa bukti menunjukkan:
Tricity 300 baru saja diumumkan akan dilengkapi airbag di Eropa (kerja sama dengan Autoliv)
Tricity 125 juga mendapat pembaruan model (model change) untuk tahun 2025 di pasar global
Tidak ada pengumuman serupa tentang penghentian di situs Yamaha global atau regional Eropa
Ini berarti pasar Eropa dan kemungkinan Asia Tenggara (termasuk Filipina, Thailand, Vietnam) masih akan menikmati skutik roda tiga ini.
Dengan dihentikannya Tricity, maka tidak ada lagi model LMW baru yang dijual Yamaha di Jepang. Sebelumnya, saudara besarnya yaitu NIKEN GT (model sport LMW 900cc) sudah lebih dulu dihentikan pada 2024.
Bagi penggemar LMW di Jepang, tahun 2026 adalah kesempatan terakhir membeli unit baru Tricity. Yamaha menyarankan konsumen yang berminat segera menghubungi dealer resmi.
Last….keputusan Yamaha menghentikan Tricity di pasar domestiknya sendiri cukup mengejutkan cak. Namun, ini bisa dimaklumi karena pasar Jepang cenderung konservatif dan lebih menyukai skutik roda dua konvensional untuk mobilitas harian. Sementara di Eropa, keunggulan stabilitas LMW sangat dihargai, terutama oleh pengendara pemula dan pengguna lansia. Yang menarik cak, Yamaha justru menambah fitur (airbag) untuk Tricity 300 di Eropa, menandakan bahwa mereka masih serius menggarap segmen ini secara global. Jadi, ini bukan akhir dari LMW hanya pergeseran fokus pasar. Alhamdulilah cak….nggak jadi berduka cita, jebule mung Jepang wae hehehe….(iwb)
Iwanbanaran.com – Cakkk….Marc Marquez meninggalkan Sirkuit Jerez-Ángel Nieto dengan senyum tipis. Meski akhir pekan yang berat harus ia lalui—jatuh di balapan utama MotoGP Spanyol dan kini tertinggal 44 poin dari pemimpin klasemen Marco Bezzecchi ada kabar baik dari sisi teknis. Dalam sesi tes resmi hari Senin (27/4), juara bertahan itu berhasil menguji sejumlah pengembangan baru pada Ducati GP26 dan pulang dengan perasaan “senang”….
Marquez menjadi pembalap Ducati tercepat di belakang trio Aprilia yang mendominasi tes. Ia sempat memimpin papan waktu dengan catatan 1 menit 36,277 detik di sesi sore dan total melahap 68 lap. Kondisi fisiknya pun disebutnya “oke” setelah absen lebih awal di balapan Minggu.
Peningkatan di Tikungan Kiri dan Kanan
Fokus utama pengembangan Ducati kali ini ada pada aerodinamika dan sasis. Marquez menguji fairing baru, sayap aerodinamika di lengan ayun (swingarm aero), serta rangka yang dimodifikasi.
Hasilnya? Ia mulai kembali merasakan kepercayaan diri di bagian depan motor area yang selama ini menjadi keluhan utamanya.
“Saya mulai merasa sedikit lebih percaya diri dengan bagian depan, terutama di tikungan kiri, yang biasanya menjadi salah satu kekuatan saya, tapi saya justru kesulitan di sana selama beberapa balapan pertama ini,” ujar Marquez.
Ia menambahkan bahwa tikungan kanan juga ikut membaik.
“Kami tidak kehilangan poin-poin kuat, dan kami mendapatkan sedikit peningkatan di area-area lemah.”
Tardozzi: “Marc Senang”
Manajer tim Ducati, Davide Tardozzi, mengonfirmasi bahwa aerodinamika menjadi prioritas utama dalam tes ini. Menurutnya, tim menemukan sesuatu yang menjanjikan.
“Kami banyak menyelidiki area aerodinamika karena itu adalah salah satu kemungkinan kami untuk meningkatkan motor, dan sejujurnya kami menemukan sesuatu,” jelas Tardozzi kepada situs resmi MotoGP.
“Marc senang dengan konfigurasi baru ini. Sementara di sisi lain, Pecco masih memiliki beberapa tanda tanya.”
Perbedaan Kebutuhan Marc dan Pecco
Tardozzi mengungkapkan bahwa Marquez dan rekan setimnya, Francesco Bagnaia, saat ini sedang berjuang dengan masalah yang berbeda pada GP26.
Pembalap
Area yang Ingin Ditingkatkan
Marc Marquez
Kecepatan di tikungan cepat (fast corner speed)
Francesco Bagnaia
Area pengereman dan masuk tikungan (brake area & corner entry)
“Masing-masing dari mereka ingin meningkatkan area yang berbeda. Kami mencoba menemukan sesuatu untuk keduanya. Di sisi Marc, mungkin sudah berhasil. Di sisi Pecco, kita lihat saja nanti,” tambah Tardozzi.
Bagnaia: Cukup Puas, Tapi Masih Butuh Pengereman
Bagnaia, yang juga gagal finis di balapan utama karena masalah teknis, mengakhiri tes di posisi ke-10 gabungan, tertinggal 0,727 detik dari Ai Ogura (Trackhouse Aprilia).
Ia mengaku cukup puas dengan beberapa item yang diuji.
“Paket aerodinamika bekerja dengan baik. Jelas kami butuh lebih banyak waktu untuk memahami semuanya, dan tim perlu menganalisis semuanya, tapi saya cukup yakin hari ini kami mengambil langkah kecil.”
Namun, Bagnaia masih belum menemukan solusi untuk masalah pengereman.
“Kami hanya perlu lebih fokus pada kemampuan menghentikan motor. Hari ini kami mencoba sesuatu, mungkin kami menemukan arah. Jadi, untuk Le Mans, saya harap kami punya sesuatu untuk ditingkatkan.”
Last….dengan tertinggal 44 poin dari Bezzecchi, Marquez sadar bahwa ia tidak bisa terus-menerus mengandalkan pengembangan motor. Namun, temuan positif di tes Jerez setidaknya memberikan harapan bahwa Ducati bergerak ke arah yang benar. Pertanyaan besarnya: Akankah peningkatan di area depan ini cukup untuk mengejar Aprilia yang saat ini sedang sangat kuat? Atau justru Ducati masih perlu satu atau dua langkah besar lagi? Jawabannya mungkin akan terlihat di seri berikutnya, Le Mans, akhir pekan depan cak….(iwb)
2026 Official Jerez Test: Day 2 – Final Combined Times
Iwanbanaran.com – Cakkkk….Estrella Galicia 0,0 Grand Prix of Spain di Circuito de Jerez – Ángel Nieto, Minggu (26/4/2026), menjadi panggung pembuktian bagi pembalap muda andalan Indonesia, Veda Ega Pratama. Start dari posisi ke-17 yang sangat merugikan, Veda melesat bak roket menyelesaikan balapan di peringkat 6 yang spektakuler.
Lebih membanggakan lagi, hasil ini memperkuat posisinya di kancah dunia. Berdasarkan data World Championship Classification pasca balapan, Veda Pratama saat ini bercokol di peringkat 6 dunia dengan koleksi 37 poin. Meski masih awal musim dan rookie, tren peningkatannya sangat jelas: ia adalah salah satu pembalap dengan lompatan posisi terbanyak dalam balapan ini.
Analisis: Tiga Kunci Kehebatan Veda Pratama
Apa yang membuat Veda begitu istimewa di Sirkuit Jerez? Berikut rincian teknis berdasarkan data resmi MotoGP:
1. Kecepatan Puncak (Top Speed) yang Mematikan
Veda adalah pembalap tercepat di antara seluruh peserta dalam hal kecepatan puncak. Bahkan untuk urusan top speed Veda torehkan rekor dunia dengan all time top speed record Moto3 Jerez. Data Top Speed & Average menunjukkan ia mencatatkan 222,2 km/jam, sendirian di puncak klasemen.
Pembanding: Pembalap peringkat 1 (Maximo Quiles) hanya mencapai 219,5 km/jam. Adrian Fernandez (peringkat 2) di 221,7 km/jam.
Dampak: Keunggulan ini memungkinkan Veda menyalip lawan dengan mudah di lintasan lurus panjang Jerez, sebuah senjata utama saat memulai lomba dari belakang.
2. Kemampuan Membaca Balapan (Race Pace) Kelas Dunia
Veda tidak hanya cepat di satu lap, tetapi konsisten sepanjang 19 lap. Catatan Fastest Lap menempatkan Veda di urutan 9 dengan waktu 1’45.077 (lap ke-5).
Uniknya, catatan waktu tercepat Veda hanya terpaut 0,523 detik dari fastest lap mutlak yang diciptakan Adrian Fernandez (1’44.554). Artinya, dalam kondisi ideal, Veda mampu menyamai kecepatan para pembalap terdepan.
Ia finis hanya +10.027 detik dari pemenang balapan. Sangat tipis untuk ukuran start dari posisi 17.
3. Ketangguhan Mental dan Manajemen Ban
Start dari posisi buncit (baris keenam) biasanya memaksa pembalap memaksakan motor di awal. Namun, analisis Chronological Performance menunjukkan Veda justru melakukan pendekatan cerdas:
Lap awal stabil: Di 3 lap pertama, ia tidak ambil risiko berlebihan.
Akurasi Pengereman: Data Average Speed di sektor T4 (tikungan terakhir sebelum start/finish) menunjukkan konsistensi tinggi, menandakan ia sangat baik dalam mengerem lambat untuk menyalip di dalam tikungan, bukan hanya mengandalkan kecepatan lurus.
Hasil finis 6 ini bukan hanya tambahan 10 poin, tetapi sebuah pernyataan. Di klasemen konstruktor, Honda (motor Veda) mengoleksi 72 poin, tertinggal dari KTM (95 poin). Namun, Veda menjadi pembalap Honda ke 2 dengan performa terbaik di balapan ini setelah Fernandez, mengungguli rekannya di Honda Team Asia seperti Zen Mitani (P21).
Dengan modal kecepatan puncak tertinggi dan kemampuan menyalip luar biasa, Veda Pratama kini menjadi ancaman serius di setiap seri. Jika ia mampu memperbaiki kualifikasi (start lebih depan), bukan tidak mungkin podium utama akan segera ia raih.
Last….Veda Pratama bukan lagi sekadar pembalap Asia dengan potensi. Ia adalah the real fighter. Start dari posisi 17 dan finis 6 adalah bukti bahwa ia memiliki kombinasi langka: kecepatan pure (top speed)dan kecerdasan balap (race craft). Peringkat 6 dunia hanyalah awal. Target utama sekarang adalah menembus 5 besar klasemen dalam tiga seri ke depan. Goooo Vedaaa…!! (iwb)
Iwanbanaran.com – Cakkkk…..Ducati akhirnya meraih kemenangan perdananya di MotoGP 2026. Prestasi ini diraih di Sirkuit Jerez, Spanyol, oleh pembalap tim satelit Gresini, Alex Marquez, sementara kakaknya sekaligus juara bertahan, Marc Marquez, gagal finis setelah jatuh di lap awal. Judule ancurrrr cakkkk……
Dalam balapan Grand Prix Spanyol yang berlangsung Minggu (26/4/2026), Alex Marquez sukses tampil dominan. Ia memenangi balapan 25 lap ini dengan keunggulan 1,9 detik atas pemimpin klasemen sementara, Marco Bezzecchi (Aprilia). Kemenangan ini sekaligus memutus rekor lima kemenangan beruntun Bezzecchi sejak awal musim.
Ini adalah kemenangan grand prix pertama bagi Ducati sejak Grand Prix Malaysia tahun lalu.
Marc Marquez Jatuh, Pekan yang Pahit
Harapan besar menyertai Marc Marquez setelah ia menaklukkan Sprint Race yang kacau sehari sebelumnya. Yang lebih impresif, ia memenangi sprint tersebut setelah memulai balapan dari juru kunci alias posisi terakhir.
Pada balapan utama, Marc yang start dari pole position langsung memimpin awal lomba. Namun, situasi berbalik cepat. Pada lap kedua, sang adik, Alex Marquez, berhasil menyalipnya di tikungan 6. Di tikungan 11 di lap yang sama, Marc kehilangan kendali atas motornya dan terjatuh. Kayaknya Marc ingin mengimbangi pace Alex tapi gagal cak…
Ini menjadi kegagalan finis kedua Marc Marquez di hari Minggu pada musim 2026. Nasib buruk juga menimpa rekan setimnya di Ducati pabrikan, Pecco Bagnaia, yang harus tersingkir karena masalah teknis. Akibatnya, tim pabrikan Ducati masih belum pernah naik podium di hari balapan utama sejauh musim ini.
Meski begitu, kabar baik tetap datang dari keluarga Ducati berkat kemenangan Alex Marquez.
Alex Marquez Sempurna, Persaingan Ketat di Belakang
Alex Marquez yang mengendarai Ducati GP26 tampil sangat matang. Setelah memimpin di lap kedua, ia perlahan menjauh dari kejaran Bezzecchi. Pada awal lap kesembilan, keunggulannya sudah mencapai 1,5 detik, dan sempat membesar hingga lebih dari dua detik sebelum ia sedikit melambat di lap terakhir untuk merayakan kemenangan bersama para penggemar Spanyol.
Di belakang Bezzecchi, persaingan memperebutkan posisi ketiga berlangsung sengit. Fabio Di Giannantonio (VR46) akhirnya berhasil mengamankan podium terakhir setelah menyalip Jorge Martin (Aprilia) di lap keempat. Martin yang start dari posisi ke-10 karena penalti harus puas di urutan keempat.
Berikut hasil akhir posisi 5 besar Grand Prix Spanyol:
1. Alex Marquez (Gresini Ducati)
2. Marco Bezzecchi (Aprilia)
3. Fabio Di Giannantonio (VR46 Ducati)
4. Jorge Martin (Aprilia)
5. Ai Ogura (Trackhouse Aprilia)
Dengan hasil ini, Bezzecchi memperlebar keunggulannya di puncak klasemen menjadi 11 poin atas Martin. Sementara itu, Di Giannantonio naik ke peringkat ketiga sebagai pembalap Ducati dengan posisi tertinggi di klasemen. Hasil buruk pabrikan dekati semakin lengkap karena Bagnaia mengalami masalah teknis dengan motor…
Last….Balapan yang kurang beruntung dialami Johann Zarco (LCR Honda) yang start kedua namun hanya finis ketujuh, serta Pedro Acosta (KTM) yang harus puas di posisi 10 setelah motornya mengalami kerusakan fairing depan akibat tabrakan. Hmmm…kayaknya Marc tahun ini kok berat banget ya cak…amsyong tenan hiks ! (iwb)
Iwanbanaran.com – Cakkk….Sirkuit Jerez kembali menjadi panggilan sensasi balap MotoGP. Sprint seri MotoGP Spanyol 2026 yang digelar dalam kondisi cuaca sulit berhasil dimenangkan oleh juara bertahan Marc Marquez dengan cara yang paling tidak terduga: ia menang meskipun sempat jatuh pada lap kedelapan. Yup….Marc Marquez King of Rain….Bezzecchi crash !!
Dalam balapan yang berlangsung kering namun dihujani ancaman hujan, pembalap tim Ducati Lenovo itu menunjukkan kecepatan berpikir dan keberuntungan yang luar biasa, mengalahkan Francesco Bagnaia (Ducati Lenovo) yang finis kedua dan Franco Morbidelli (Pertamina Enduro VR46) yang melengkapi podium.
Kualifikasi Basah: Marquez Sihir di Tengah Hujan
Sesi kualifikasi pagi hari diguyur hujan, menciptakan kondisi trek yang licin cak. Di sinilah Marc Marquez menunjukkan kelasnya dengan merebut pole position. Ia menyebut target podium di kandang sendiri awalnya terasa “optimistis”, start terdepan membuka peluang besar.
Kejutan datang dari Johann Zarco (LCR Honda) yang berhasil mendampingi Marquez di baris terdepan. Zarco menjadi satu-satunya rider yang mampu menantang Marquez saat kualifikasi basah, meskipun pace-nya di sesi latihan kering kurang menjanjikan.
Sementara itu, Alex Marquez (Gresini Racing) yang tampil dominan di latihan Jumat, harus puas start dari baris kedua setelah mengalami kecelakaan di Q2. Rekan setimnya, Fabio Di Giannantonio, dan Marco Bezzecchi (Aprilia) mengisi baris kedua.
Jalannya Sprint: Kekacauan dan Strategi Jenius
Sprint yang digelar siang hari dipastikan dimulai dalam trek kering, namun awan gelap menggantung di atas Jerez, mengintensifkan drama.
Awal Balapan:
Marc Marquez langsung melesat memimpin dari Zarco yang berperan sebagai “cork in the bottle” (penahan laju pembalap di belakang). Namun, masalah langsung menimpa Jorge Martin (Aprilia) yang mundur ke belakang karena masalah rem cakram depan yang membara. Marco Bezzecchi juga melorot ke posisi 16 akibat start buruk.
Puncak Drama Lap 8:
Ketika balapan memasuki lap kedelapan, hujan mulai rintik-rintik. Bendera hujan dikibarkan. Dalam situasi krusial ini, Marc Marquez terjatuh di tikungan terakhir saat diposisi 2. Namun, dengan refleks luar biasa, ia segera kembali menaiki motornya, melaju ke dalam pit, dan langsung mengganti motor. Keputusan untuk masuk pit saat ia terjatuh di area long lap menjadi titik balik kemenangan.
Saat Marquez masuk pit, kepemimpinan berganti. Putaran berikutnya (lap 9), hujan semakin deras. Hampir semua pembalap yang masih di trek kering, termasuk Di Giannantonio yang sempat memimpin, berbondong-bondong masuk pit untuk mengganti motor. Namun, Marquez sudah lebih dulu keluar dari pit dengan motor ban hujan.
Di sisi lain, mereka yang bertahan dengan motor ban slick malah bernasib sial. Brad Binder dan Bezzecchi jatuh di tikungan yang sama (tikungan 2). Alex Marquez yang sempat memimpin pun ikut terjatuh.
Lap Penentu:
Marquez yang keluar dari pit langsung tancap gas. Di lap ke-11, ia sukses menyalip Bagnaia di tikungan sembilan untuk merebut pimpinan. Dengan keunggulan satu detik di lap terakhir, Marc Marquez melesat tak terkejar.
Hasil Akhir Sprint (Top 10) – 12 Lap
Marc Marquez (Ducati Lenovo)
Francesco Bagnaia (Ducati Lenovo)
Franco Morbidelli (Pertamina Enduro VR46)
Brad Binder (Red Bull KTM) – sempat crash
Fabio Di Giannantonio (Pertamina Enduro VR46)
Raul Fernandez (Trackhouse Aprilia)
Fabio Quartararo (Monster Energy Yamaha)
Johann Zarco (LCR Honda)
Luca Marini (Honda HRC)
Alex Rins (Monster Energy Yamaha)
Last….kemenangan ini adalah contoh sempurna dari kecerdasan balap di era flag-to-flag (ganti motor di tengah balapan karena hujan). Marc Marquez mengubah bencana (jatuh) menjadi peluang (masuk pit lebih awal) sementara para pesaingnya ragu-ragu. Sementara itu, Alex Marquez dan Pedro Acosta (KTM) yang cukup kompetitif harus puas gagal finis atau finis di luar poin. Sprint yang dramatis ini menjadi pemanasan sempurna menjelang balapan utama (Grand Prix) besok. Gooo Marc !!! (iwb)