Category: Motogp

  • Breaking !! Diogo Moreira Resmi Gabung Fabio Quartararo di Tim Pabrikan Honda untuk Musim 2027 ?

    Breaking !! Diogo Moreira Resmi Gabung Fabio Quartararo di Tim Pabrikan Honda untuk Musim 2027 ?

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Manuver transfer yang dilakukan Honda menjelang musim MotoGP 2027 benar-benar di luar dugaan banyak pengamat. Di saat spekulasi mengarah pada talenta muda Moto2 asal Kolombia, David Alonso, pabrikan asal Tokyo justru menjatuhkan pilihan final kepada Diogo Moreira. Keputusan ini sekaligus merombak total formasi tim pabrikan sayap tunggal setelah kepergian Joan Mir dan Luca Marini….!!

    Awalnya, David Alonso berada di pole position untuk merebut kursi panas di tim pabrikan Honda. Terlebih setelah Honda berhasil mengamankan tanda tangan kontrak berdurasi pabrikan untuk Alonso, menyusul tingginya tuntutan gaji yang sempat membuat Ducati dan Aprilia mundur.

    Namun, dinamika berubah di balik layar. Muncul keraguan internal terkait tingkat konsistensi adaptasi Alonso jika langsung melompat ke tim pabrikan utama. Alih-alih mengambil risiko dengan sang debutan Moto2, petinggi HRC lebih melirik potensi progresif yang ditunjukkan Diogo Moreira.

    Pembalap muda berbakat asal Brasil tersebut tampil memukau di musim debut MotoGP bersama LCR Honda. Penampilan puncaknya terlihat jelas saat seri GP Aragon, di mana Moreira sukses finis di posisi ketujuh pada sesi Sprint Race dan mengamankan posisi kesembilan di balapan utama. Mengantongi 64 poin dan bertengger di peringkat ke-14 klasemen sementara, potensi mentah Moreira dinilai sangat matang untuk digembleng langsung di bawah panji tim pabrikan.

    Kepala Tim LCR, Lucio Cecchinello, bahkan menjadi salah satu figur yang paling vokal mendorong promosi Moreira. Cecchinello meyakini bahwa menahan Moreira terlalu lama di tim satelit justru berisiko menghambat kurva peningkatannya.

    Bagaimana Nasib David Alonso?

    Meski gagal promosi langsung ke tim pabrikan utama untuk tahun 2027, masa depan David Alonso tetap aman di dalam ekosistem Honda. Berdasarkan laporan dari jurnalis Simon Patterson melalui siniar The Race MotoGP, keputusan internal Honda ini sudah done and dusted (kunci rapat) cak…

    Alonso dijadwalkan tetap melanjutkan debut kelas para rajanya bersama skuad LCR Honda—berduet dengan Johann Zarco di bawah arahan manajer tim kawakan, Santi Hernandez. Menanggapi situasi ini, Alonso sendiri dilaporkan bersikap santai dan tidak ambil pusing. Ia menegaskan tidak peduli di garasi mana ia akan diletakkan pada 2027, asalkan tetap mendapat dukungan penuh berstatus spesifikasi motor pabrikan penuh dari Honda.

    Last…Langkah strategis ini menandai babak baru yang sangat menarik bagi proyek kebangkitan Honda di MotoGP. Duet kecepatan dan agresivitas antara Fabio Quartararo dan Diogo Moreira di tim pabrikan diproyeksikan mampu memberikan suntikan motivasi maksimal bagi pengembangan RC213V (atau mesin era baru 850cc). Publik kini tinggal menantikan pengumuman resmi dari Honda HRC untuk meresmikan salah satu line-up paling dinamis di grid masa depan MotoGP. Wah, makin nggak sabar nunggu aksi Moreira tandem bareng Quartararo cak….! (iwb)

  • Hubungan Makin Panas….Fabio Quartaro Pastikan Ogah Bantu Yamaha !!!

    Hubungan Makin Panas….Fabio Quartaro Pastikan Ogah Bantu Yamaha !!!

    Iwanbanaran.com – Cakkkk….Hubungan antara Fabio Quartararo dan Yamaha berada di titik terendah. Juara dunia 2021 tersebut secara terbuka menyatakan tidak akan lagi membantu Yamaha mengembangkan motor untuk musim-musim mendatang. Langkah tegas ini diambil di tengah kepastian kepindahannya ke Honda pada 2027 dan kekecewaannya terhadap lambatnya kemajuan teknis pabrikan asal Iwata tersebut. Wahhhh panasss cakkkk….

    Frustrasi yang dirasakan Quartararo menjadi sangat terlihat selama akhir pekan Grand Prix Aragon. Yamaha membawa beberapa komponen baru ke sirkuit Spanyol tersebut, termasuk sasis baru, dan Quartararo diminta menghabiskan banyak waktu untuk mengujinya. Pembalap asal Prancis itu merasa bahwa pekerjaan tersebut tidak memberikan peningkatan yang diharapkan oleh Yamaha. Ia menguji berbagai versi sasis beberapa kali, namun tidak menemukan solusi yang lebih baik. Komponen-komponen baru ini juga membuat akhir pekan balapannya menjadi lebih sulit karena ia memiliki lebih sedikit waktu untuk berkonsentrasi mencari setelan terbaik untuk balapan. Quartararo pada akhirnya finis di posisi terakhir pada hari Minggu, tertinggal lebih dari 50 detik dari pemenang balapan, Marc Marquez….

    Yamaha masih terus berusaha memangkas jarak yang lebar dengan tim-tim papan atas MotoGP. Pabrikan ini telah melakukan perubahan penting pada mesin dan motornya saat bersiap menghadapi regulasi teknis baru, tetapi hasilnya sejauh ini belum cukup memuaskan. Quartararo telah melalui masa-masa sulit bersama Yamaha. Setelah menjuarai gelar dunia pada 2021, ia tetap bertahan di tim tersebut, namun berjuang keras untuk bisa bertarung secara konsisten di barisan depan seiring tertinggalnya Yamaha dari pabrikan lain seperti Ducati. Keputusan tegas pembalap asal Prancis ini berakar dari penolakan Yamaha untuk mengizinkannya tampil dalam sesi pengujian ban baru Pirelli setelah Grand Prix Austria. Sesi tes tersebut dijadwalkan sebagai bagian dari persiapan transisi regulasi teknis MotoGP untuk 2027…

    Keputusannya untuk pindah ke Honda musim depan menandakan bahwa hubungannya dengan Yamaha kini memasuki bulan-bulan terakhir. Ia siap untuk terus bekerja demi meraih hasil yang lebih baik di musim ini, tetapi ia tidak ingin lagi memberikan porsi usaha yang sama untuk proyek motor Yamaha 2027.

    “Saya ingin meluruskan segalanya… Saya ingin melakukan tes di Austria, tetapi sayangnya Yamaha tidak mengizinkan saya menjajal ban Pirelli. Saya ingin berkontribusi, tetapi mereka melarangnya. Secara pribadi, saya tidak ingin mengembangkan motor untuk pembalap lain di 2027. Jika ada yang bisa ditingkatkan untuk musim ini, saya akan lakukannya. Namun, saya tidak akan lagi mendorong diri hingga batas maksimal dan bertindak seperti test rider seperti yang saya lakukan pekan ini. Masalahnya adalah dari September hingga November, kami tidak membuat langkah maju. Paket yang kami miliki saat ini hampir sama dengan motor pertama yang kami uji. Biasanya pada proyek baru, langkah awal sangat besar, tetapi kami tidak pernah benar-benar mengalami lompatan itu..”

    ” Pada tes Valencia tahun lalu, saya merasa membutuhkan sesuatu yang baru. Dari situ, kami memutuskan untuk berpisah dari Yamaha. Saat itu, saya belum tahu persis akan pindah ke tim mana, tetapi saya tahu saya ingin berganti tim dan saya pikir itu adalah momen yang tepat. Saya sebenarnya masih berharap kondisinya bisa jauh lebih baik daripada sekarang, terutama kalau melihat bagaimana kami menjalani tes pertama di Barcelona… sebenarnya itu bukan tes yang sangat luar biasa, kami lebih lambat dibanding mesin empat silinder segaris (inline-four), tetapi kondisi lintasan saat itu memang kurang mendukung. Catatan waktu saya tidak terlalu buruk mengingat itu adalah kali pertama motor tersebut turun ke trek bersama saya, dan saya juga cukup kencang.

    ” Namun masalahnya…kami tidak membuat kemajuan sama sekali. Paket yang kami miliki saat ini benar-benar hampir sama dengan motor pertama yang kami jajal. Biasanya, ketika Kalian memulai proyek baru, langkah awal peningkatannya sangat besar, baru kemudian terasa sulit untuk mencari sisa sepersekian detik terakhir. Namun, kami tidak pernah benar-benar mengalami lompatan besar tersebut dari motor baru menuju motor yang kini usianya sudah hampir satu tahun. Inilah mengapa saya pikir kami berada dalam situasi yang sangat sulit.” seru Fabio Quartararo

    FYI…Sesi pengujian ban Pirelli dan spesifikasi motor 2027 di Austria (Red Bull Ring, Spielberg) dijadwalkan berlangsung pada 21 September 2026. Tes resmi ini dilaksanakan tepat satu hari setelah berakhirnya akhir pekan balap Grand Prix Austria 2026 (20 September 2026). Selain masalah izin tes ban, rasa frustrasi Quartararo dipicu oleh performa mesin V4 Yamaha yang tak kunjung menunjukkan peningkatan signifikan. Meskipun proyek tersebut sempat memberi harapan awal saat uji coba di Barcelona, pengembangan teknis dinilai stagnan.

    Last….Sikap Yamaha yang membatasi akses Quartararo dapat dipahami dari sudut pandang bisnis, karena mereka tidak ingin memberikan data atau keuntungan awal kepada calon pembalap rival. Namun, keputusan ini juga menjadi bumerang. Kehilangan masukan dari pembalap tercepatnya di saat pengembangan motor 2027 berada di fase krusial berisiko memperlambat proses bangkitnya Yamaha dari masa-masa sulit. Untuk sisa musim ini, Quartararo menegaskan hanya akan fokus pada performa balapan akhir pekan tanpa terbebani tugas uji coba komponen masa depan….(iwb)

  • Jack Miller Puji Mesin V4 Yamaha di Tikungan…” Setara Marquez” serunya !!

    Jack Miller Puji Mesin V4 Yamaha di Tikungan…” Setara Marquez” serunya !!

    Iwanbanaran.com – Cakkkk….pembalap Prima Pramac Yamaha, Jack Miller, memberikan evaluasi jujur terkait performa prototipe Yamaha YZR-M1 bermesin V4 usai berlaga di seri MotoGP Aragon 2026. Miller mengklaim bahwa kelincahan sasis dan corner speed (kecepatan di tikungan) mesin baru Yamaha tidak perlu diragukan lagi, bahkan mencatatkan sector time yang sebanding dengan Marc Marquez. Namun, defisit top speed di trek lurus panjang menjadi kelemahan fatal yang membuatnya harus kehilangan posisi dari para rivalnya. Wahh menarik kiii…!!

    Pada balapan utama GP Aragon hari Minggu, Miller sempat tampil menjanjikan dengan merangkak naik dari posisi ke-13 ke urutan ke-9 di lap-lap awal. Namun, memasuki lap ke-16, kelemahan daya pacu Yamaha V4 mulai terseok-seok saat Enea Bastianini menyalipnya di trek lurus, disusul oleh Brad Binder (KTM) pada lap ke-22.

    “Saya sudah memberikan segalanya. Sayangnya, kami harus menyerahkan posisi kepada para pembalap KTM di akhir balapan. Saya mencoba menyulitkan Enea dengan melakukan pengereman lambat (late braking), tetapi pada akhirnya dia menyalip saya di pertengahan trek lurus… dan Brad melakukan hal yang sama,” ungkap Miller.

    Miller mengakui defisit top speed hingga 10 km/jam dibanding mesin KTM RC16 membuat usahanya di area pengereman menjadi sia-sia begitu memasuki trek lurus panjang.

    Meski mengeluhkan performa mesin di jalan lurus, rider asal Australia ini memberikan pujian tinggi untuk kelincahan sasis Yamaha V4 saat melibas tikungan. Pada sesi Sprint Race hari Sabtu—saat ia finis ke-10 sebagai pembalap Yamaha terbaik—data telemetri menunjukkan kecepatan tikungan yang sangat kompetitif.

    • Kecepatan Sektor 4: Di Sektor 4 (area yang mencakup tikungan terakhir berkarakter cepat sebelum garis finish), Miller yang menggunakan kombinasi ban Medium-Medium mencatatkan waktu 24,936 detik.

    • Menempel Marc Marquez: Catatan waktu Sektor 4 milik Miller tersebut hanya terpaut 0,003 detik dari Marc Marquez (24,933 detik) yang menunggangi Ducati Desmosedici.

    “Motor ini bekerja sangat baik di tikungan, saya tidak bisa menyalahkannya sama sekali. Kemarin di Sprint Race, kecepatan saya di sektor terakhir hampir setara dengan Marc Marquez, dan saya pastikan kecepatan itu bukan datang dari trek lurus! “Jika kamu menambahkan 20 hp lagi, itu tentu akan mengubah karakternya. Namun di luar itu, kami mampu membalikkan keadaan dalam waktu yang cukup singkat. Ini adalah sepeda motor yang benar-benar baru, jadi kami melakukan apa yang kami bisa” tegas Miller.

    Last…Pada balapan utama (Main Race), Miller terpaksa merubah gaya balapnya untuk menjaga daya tahan ban depan. Hal tersebut berdampak pada penurunan roll speed di tikungan. Mengingat tingginya tingkat graining pada ban depan saat Sprint Race, Miller memilih untuk tidak terlalu memaksakan front-end di balapan utama. Karena harus menjaga usia ban, keunggulan roll speed Yamaha V4 tidak bisa dimaksimalkan secara agresif seperti saat Sprint Race, yang membuat motor mengalami understeer saat ban mulai tergerus….(iwb)

  • Pecco Super Frustasi pada Ducati….” Motor Bergetar dan Tanpa Traksi..” !!

    Pecco Super Frustasi pada Ducati….” Motor Bergetar dan Tanpa Traksi..” !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Francesco “Pecco” Bagnaia, mengutarakan kekhawatiran mendalam terkait performa motor Ducati Desmosedici GP26 miliknya setelah mengalami crash pada balapan utama MotoGP Aragon. Juara dunia dua kali tersebut mengaku tidak bisa membayangkan masalah besar apa yang bakal dihadapinya ketika harus berlaga di sirkuit-sirkuit dengan tingkat daya cengkeram (grip) aspal yang rendah. Bagnaia terus mengalami tren sulit sejak berakhirnya jeda musim panas, di mana masalah kurangnya rear grip (daya cengkeram ban belakang) yang ia keluhkan sepanjang musim justru semakin memburuk. Setelah sempat gagal finis akibat kecelakaan di GP Inggris (Silverstone), pembalap asal Italia tersebut kembali harus mengakhiri balapan lebih awal di Aragon usai terjatuh saat berada di posisi ketujuh pada lap ke-6 dari total 23 lap. Pecco Super Frustasi pada Ducati….” Motor Bergetar dan Tanpa Traksi..” !!

    Usai balapan, Bagnaia mengungkapkan bahwa ban belakang kompon medium miliknya tergerus sangat cepat dalam waktu singkat, yang menjadi pemicu utama kecelakaan tersebut.

    “Kehilangan bagian belakang, lalu kehilangan bagian depan. Bagi saya, hilangnya daya cengkeram ban belakang ini sangat luar biasa cepat, saya benar-benar mendapatkan zero grip (tanpa daya cengkeram sama sekali). Saya bahkan sudah berusaha mengubah mapping ke opsi tenaga yang lebih rendah setelah lima lap karena ban belakang sudah benar-benar habis hanya dalam lima putaran, padahal saya tidak sedang menekan keras (pushing) atau melakukan manuver agresif. Saya sangat kesulitan, motor mulai mengalami gejala bergetar atau melayang (floating) di lap kelima. Lalu saya kehilangan traksi ban belakang, dan ketika bagian belakang mendapatkan cengkeraman kembali secara tiba-tiba, ban depan langsung lepas (lost the front)…

    “Sebenarnya feeling terhadap motor tidak terlalu buruk hingga GP Sachsenring. Semuanya bekerja dengan lebih konsisten. Meskipun saat itu saya masih mengalami kesulitan, setidaknya hasil akhir masih memberikan optimisme. Namun sejak Silverstone, ada sesuatu yang terjadi karena saya benar-benar kehilangan daya cengkeram ban belakang. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika kami tiba di sirkuit-sirkuit dengan tingkat grip aspal yang lebih rendah. Tidak ada yang berbeda soal setingan, setelan motor kurang lebih mirip. Kemarin pagi saya merasa sedikit lebih baik. Kami sempat mencoba memindahkan beban ke bagian belakang, tetapi itu membuat balapan Sprint terasa lebih sulit. Pada sesi warm-up pagi hari, kami kembali ke setelan standar sepanjang musim. Namun di balapan utama, ban belakang justru habis hanya dalam waktu lima lap,” keluh Pecco terlihat super frustasi…

    Last…Secara keseluruhan, keterpurukan Pecco di Aragon bukan dikarenakan penurunan performa berkendara (riding style), melainkan kegagalan mekanikal-geometri dalam menemukan kompromi antara downforce aerodinamika, set-up sasis, dan daya tahan ban belakang Michelin pada permukaan aspal Aragon. Hingga detik ini Ducati bungkam karena tenggelam oleh eforia kemenangan Marc di Aragon yang sapu bersih Sprint dan Sunday Race….(iwb)

  • ” Marquez Terlalu kuat di Aragon…” Seru Marco Bezzecchi

    ” Marquez Terlalu kuat di Aragon…” Seru Marco Bezzecchi

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Pembalap Aprilia Racing, Marco Bezzecchi, mengakui bahwa Marc Marquez memiliki pace atau kecepatan yang lebih unggul dalam gelaran MotoGP Aragon. Kendati demikian, Bezzecchi tetap memberikan perlawanan gigih untuk mencoba menahan laju sang juara bertahan. Memulai balapan dari posisi pole, Bezzecchi sempat memimpin di lap-lap awal. Namun, pembalap asal Italia ini dengan cepat menyadari bahwa kecepatan motornya tidak cukup untuk membendung serangan Marquez. ” Marquez Terlalu kuat di Aragon…” Seru Marco Bezzecchi

    Saat Marquez melancarkan manuver manuver di area chicane pada lap keenam untuk mengambil alih pimpinan balapan, Bezzecchi merespons dengan melakukan perlawanan balasan di trek lurus panjang (back straight). Duel ketat terjadi saat kedua pembalap memacu motor berdampingan pada kecepatan lebih dari 300 km/jam.

    “Bahkan saat saya memimpin balapan, saya menyadari pace saya bukan yang terbaik. Saya mencoba membuka jarak, tetapi saya tahu Marc akan kembali mengejar. Jujur, saya ingin membuat hidupnya sedikit lebih sulit, begitu juga untuk Pedro (Acosta), tetapi saya malah kehilangan dua posisi sekaligus hanya dalam hitungan detik! Ketika kami berada sangat dekat di trek lurus, aliran udara terasa ada yang aneh. Saya ingin menjauh darinya, tetapi terkadang motor saya justru bergerak semakin dekat ke Marc. Kemudian posisi saya terlalu jauh di sisi kiri [lintasan], sehingga saya harus melakukan titik pengereman sedikit lebih awal. Pada saat itulah Pedro datang dari sisi kanan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sangat disayangkan saya harus kehilangan posisi tersebut, tetapi itu adalah momen yang menyenangkan! Ini adalah akhir pekan yang luar biasa. Tahun lalu saya datang ke sini dan mengawali balapan dari posisi terakhir. Tahun ini, saya berhasil meraih pole position dan mengamankan ganda podium (Sprint dan Main Race). Jadi, saya sangat puas,” pungkas Bezzecchi…

    Last…Meskipun posisi Bezzecchi di klasemen sementara dunia tergeser ke peringkat ketiga di belakang Marc Marquez, hasil dari MotorLand Aragon ini membuatnya berhasil memangkas jarak tujuh poin dari rekan satu timnya sekaligus pemimpin klasemen sementara, Jorge Martin….(iwb)

  • Mengerikan cakk! Marquez Ungkap Momen “Terhisap” Aerodinamika saat Duel 300 km/jam vs Bezzecchi di Aragon!

    Mengerikan cakk! Marquez Ungkap Momen “Terhisap” Aerodinamika saat Duel 300 km/jam vs Bezzecchi di Aragon!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) kembali membuktikan ketangguhannya di sirkuit favoritnya, MotorLand Aragon. Namun, di balik kemenangan manis kasebut, ada satu insiden yang bikin jantung fans dag dig dug alias scary moment saat sang Baby Alien terlibat duel sengit berdampingan dengan Marco Bezzecchi (Aprilia Racing) di trek lurus dalam kecepatan lebih dari 300 km/jam, cakk! Bahkan Marc Ungkap Momen “Terhisap” Aerodinamika saat Duel 300 km/jam vs Bezzecchi di Aragon! Waahhh..kok bisa ??

    Insiden mencekam iki terjadi di lap keenam. Marquez yang baru saja melancarkan manuver menusuk dari sisi dalam Bezzecchi di area chicane, mendapatkan perlawanan sengit. Bezzecchi yang mendapatkan exit corner lebih rapi langsung menempel ketat di lurus panjang menuju area pengereman keras. Nah, pas kedua motor dalam posisi berdampingan penuh dan berakselerasi di gigi 6, turbulensi aerodinamika motor MotoGP modern justru menyedot kedua kuda besi tersebut saling mendekat cakk! Bayangin cakk… stang ke stang di kecepatan mendekati 350 km/jam!

    ” Itu adalah momen yang luar biasa. Maksudku momen yang menakutkan, karena dengan semua perangkat aerodinamika tersebut, pada kecepatan 300 kilometer per jam motor kami seperti saling terhisap satu sama lain. Aku sudah berusaha [memberi ruang] dan bergerak ke sisi kanan, tetapi kami seperti ‘terikat’. Jika kalian melihat tayangan ulangnya, bahkan sempat terjadi wheelie kecil di gigi enam! Sulit untuk menjauh dari motornya. Jadi itu adalah momen yang menakutkan, tetapi menjadi tontonan yang bagus bagi para fans. Kemudian sampailah pada titik di mana Marco sedikit mengalah karena dia berada di sisi lintasan yang kotor. Begitu aku memimpin balapan, aku berusaha mengendalikan ritme. Ketika balapan menyisakan sepuluh putaran, aku sedikit menekan, membuka jarak, dan mengendalikan jalannya balapan kembali.”...seru Marc..

    yup…Untungnya, Bezzecchi yang berada di sisi jalur yang lebih kotor (dirty side) memilih untuk sedikit mengalah sebelum titik pengereman demi menghindari risiko tubrukan fatal cak. Marquez pun berhasil mengamankan posisi terdepan, disusul Pedro Acosta yang memanfaatkan celah untuk mengambil alih posisi kedua dari Bezzecchi.

    Last…setelah memimpin jalannya balapan, Marc Marquez langsung memainkan ritme untuk menjaga usia ban sebelum akhirnya menekan di 10 lap terakhir hingga membuka jarak aman 1,8 detik dari Acosta sampai menyentuh garis finish. Kemenangan ini sekaligus memperpanjang rekor tak terkalahkan Marquez di Aragon bersama Ducati menjadi enam kemenangan beruntun (termasuk sprint), sekaligus menggeser posisi Bezzecchi di klasemen sementara ke peringkat kedua, terpaut 19 poin di belakang sang pemimpin klasemen, Jorge Martin…..(iwb)

  • Mesin Yamaha M1 “Jebluk” di Aragon…Fabio Sudah Feeling !!

    Mesin Yamaha M1 “Jebluk” di Aragon…Fabio Sudah Feeling !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Akhir pekan yang sulit bagi Fabio Quartararo di MotoGP Aragon terus berlanjut. Pembalap Monster Energy Yamaha tersebut terpaksa menyelesaikannya lebih awal saat sesi Sprint Race setelah mesin motor YZR-M1 miliknya mengalami kerusakan parah hingga mengeluarkan asap (meledak) di lap kelima dari 11 lap balapan. Juara dunia 2026 itu mengungkapkan bahwa kendala pada mesinnya sudah terasa sejak lampu start padam, sebelum akhirnya ia benar-benar terhenti di tepi lintasan. Yup…Mesin Yamaha Meleduk di Aragon…Fabio Sudah Feeling !!

    Quartararo yang harus memulai balapan dari posisi ke-17 usai sesi kualifikasi yang mengecewakan, langsung merasakan ada yang tidak beres pada motornya begitu balapan dimulai.

    “Saya pikir mudah untuk melihat apa yang terjadi. Sejak awal start, mesin saya hampir saja mati (nearly stopped). Lalu, tenaga motor mulai menurun secara bertahap (losing power step by step). Kejadian ini pernah terjadi pada saya di Thailand. Saya sudah tahu ada yang tidak beres sampai akhirnya kita semua melihat apa yang terjadi di lap tersebut. Jadi, tidak banyak yang bisa saya katakan lagi. Jujur saja, saya tidak tahu berapa banyak mesin yang kami miliki saat ini, tapi menurut saya stok yang tersisa tidak begitu banyak. Jadi saya tidak tahu apakah mesin yang meledak itu mesin lama [sudah terpakai] atau bukan. Namun sepanjang akhir pekan, motor ini memang sangat lambat. Kami harus menguji banyak hal sepanjang akhir pekan. Jadi saya terus berganti dari satu motor ke motor lainnya. Akhir pekan ini lebih fokus pada pengujian ketimbang mencoba mencari performa terbaik. Tapi saya berharap mesin itu adalah mesin yang sudah memiliki jarak tempuh tinggi (high-mileage).”..tukasnya..

    Kerusakan mesin ini menjadi kerugian besar bagi Yamaha. Meski pabrikan asal Spanyol/Jepang tersebut mendapatkan hak konsesi (Rank D) yang memungkinkan mereka mengalokasikan hingga 10 mesin per musim, hilangnya satu unit mesin di tengah musim tetap membatasi pilihan komponen balap. Quartararo sendiri berharap unit yang meledak di Aragon adalah mesin lama yang sudah memiliki jarak tempuh (mileage) tinggi. Selain masalah mesin dan kendala pada ride-height device saat start, Quartararo menyayangkan bahwa sepanjang akhir pekan di Aragon ia lebih banyak berperan sebagai test rider ketimbang fokus mencari performa balap. Yamaha membawakan beberapa komponen baru untuk diuji coba secara beruntun, termasuk sasis baru yang justru dinilainya terasa lebih buruk dari sasis standar.

    “Kemarin saya katakan sasis baru itu lebih buruk. Mereka ingin membandingkannya lagi pagi ini, dan hasilnya tetap lebih buruk. Jadi seperti yang saya katakan, akhir pekan ini saya lebih seperti test rider, menguji sasis hingga tiga kali namun tidak ada yang bekerja. Kami juga mencoba link baru tapi tidak ada peningkatan. Memang agak membingungkan ketika terus berpindah dari satu sasis ke sasis lain, feeling terhadap motor jadi hilang. Tapi inilah situasinya dan kami terus berusaha mencari performa yang lebih baik,” pungkas Quartararo. Mumet tenan kayaknya cak…(iwb)

  • Marco Bezzecchi Akui Kecepatan Marquez di Aragon..” Ban tidak masalah..” !!

    Marco Bezzecchi Akui Kecepatan Marquez di Aragon..” Ban tidak masalah..” !!

    Iwanbanaran.com – Cakkkk…. Pembalap Aprilia Racing, Marco Bezzecchi, menegaskan bahwa pilihan ban belakang jenis soft bukanlah penyebab ia gagal memenangi sesi Sprint Race MotoGP Aragon. Meski duo Ducati, Marc Marquez dan Alex Marquez, berhasil meraih podium 1-2 dengan menggunakan ban medium, Bezzecchi yakin strateginya bersama Aprilia sudah tepat. Marco Bezzecchi Akui Kecepatan Marquez di Aragon..” Ban tidak masalah, mereka lebih baik..” !! serunya

    Bezzecchi, yang meraih pole position dengan rekor lap baru pada kualifikasi, memilih opsi ban belakang soft—sama seperti rekan setimnya, Jorge Martin. Di sisi lain, sebagian besar pembalap di tiga baris terdepan, termasuk Marc dan Alex Marquez, memilih ban medium. Balapan 11 lap tersebut berakhir dengan kemenangan Marc Marquez, disusul Alex Marquez di posisi kedua, dan Bezzecchi harus puas finis di urutan ketiga. Seusai balapan, Bezzecchi menepis anggapan bahwa keputusan memakai ban soft adalah sebuah kesalahan strategi dari Aprilia.

    “Sekarang memang mudah untuk mengatakan bahwa ban medium lebih baik. Namun jujur saja, ide untuk memakai ban medium tidak pernah terlintas di pikiran saya karena saya merasa cukup nyaman dengan ban soft. Saya bekerja sangat baik sepanjang hari dengan opsi itu, jadi saya sangat yakin. Saya tidak yakin apakah dengan ban medium saya bisa tampil jauh lebih baik. Justru saya lebih yakin hasilnya bisa saja lebih buruk. Jadi bagi saya pribadi, keputusan itu sudah tepat. Menurutku pemilihan ban tidak masalah..mereka (Marquez) memang kencang…” serunya..

    Selain faktor ban, momen krusial balapan terjadi di Tikungan 1 pada lap pertama. Bezzecchi melakukan pengereman terlalu dini, yang dimanfaatkan Marc Marquez untuk mengambil alih pimpinan balapan dari sisi dalam. Manuver bersih namun agresif dari Marquez juga memaksa Bezzecchi melebar ke sisi luar, hingga memberi celah bagi Alex Marquez untuk merebut posisi kedua. Kendati mengakui bahwa memimpin sejak awal balapan akan sangat membantu, Bezzecchi realistis mengenai kecepatannya (pace) dibanding para pesaingnya.

    “Memimpin balapan tentu bisa membantu, tetapi saya tidak tahu apakah itu satu-satunya alasan. Yang saya tahu, pace saya hari ini memang seperti itu. Mungkin jika saya memimpin hasilnya bisa sedikit lebih baik, tetapi kecepatan pembalap lain hari ini sedikit lebih cepat. Tentu saja saya seharusnya bisa tampil sedikit lebih baik di tikungan pertama. Namun bagaimanapun, saya tetap senang dengan hasil ini karena sangat penting bagi saya. Hari seperti ini tetaplah hari yang baik. Balapannya cukup menantang, saya menikmatinya. Hasil keseluruhan hari ini sangat positif bagi saya; bisa menempel ketat Marquez bersaudara di Aragon adalah hasil yang bagus,” tutupnya…

    Last…Meski finis di posisi ketiga, hasil ini cukup memuaskan bagi Bezzecchi. Terlebih lagi, ia berhasil mengungguli rekan setimnya, Jorge Martin, yang finis di posisi kelima. Tambahan poin dari Sprint Race ini sekaligus membantu Bezzecchi memangkas jarak poin di papan atas klasemen sementara….(iwb)

  • Marc Marquez Akui Overtake Aragon Beresiko..” Tapi Itu Satu-satunya Jalan ! ” serunya

    Marc Marquez Akui Overtake Aragon Beresiko..” Tapi Itu Satu-satunya Jalan ! ” serunya

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Marc Marquez mengungkapkan alasan di balik aksi menyalipnya yang cukup agresif dan berisiko saat menjalani sesi Sprint Race MotoGP Aragon. Pembalap asal Spanyol tersebut menegaskan bahwa momen krusial itu adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki jika ingin mengamankan kemenangan. Tampil dominan sepanjang akhir pekan di Sirkuit MotorLand Aragon, Marquez yang memulai balapan dari posisi terdepan sempat kehilangan traksi di awal start. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh rivalnya untuk menekan, memaksa juara dunia delapan kali itu bertarung ekstra keras sejak lap-lap awal. Marc Marquez Akui Overtake Aragon Beresiko..” Itu Satu-satunya Jalan ! ” serunya

    Poin krusial terjadi ketika Marquez memutuskan untuk melancarkan serangan kilat demi merebut kembali posisi terdepan cak. Manuver menyalip yang dilakukannya terbilang sangat berani dan menyisakan sedikit sekali ruang aman. Usai balapan, pembalap bernomor 93 itu mengakui bahwa aksi tersebut memang membawa risiko tinggi, terutama dengan kondisi lintasan Aragon yang memiliki tingkat cengkeraman (grip) yang cukup menjebak.

    “Saya tahu jika saya tidak mengambil risiko di momen tersebut, balapan akan terasa jauh lebih sulit,” ujar Marquez. “Itu adalah satu-satunya kesempatan yang saya miliki untuk berada di depan dan mengatur tempo permainan sendiri.” serunya. Berikut rekapan serangan Marc ke Bezzecchi hingga juara Sprint Aragon cak…

    “Saat saya melihat Marco memulai balapan dengan ban soft, itulah satu-satunya kesempatan untuk menyerang di tikungan pertama. Itu yang saya lakukan, itu memang ada dalam rencana saya, meskipun start saya tidak begitu bagus. Tapi rencana saya memang menyerang di tikungan pertama. Saya tahu itu tikungan tempat saya merasa kuat, dan ketika Kamu memimpin balapan, Kamu bisa mengontrol [ritme] dengan lebih baik. Ketika hanya ada satu pembalap di depanmu, mudah untuk menyerang dengan cara seperti itu. Saat pembalap di depan mengerem, Kamu mengerem sedikit lebih lambat. Dan jika Kamu melakukan kesalahan, masih ada area run-off.

    “Jadi, ya, tentu saja itu berisiko. Tapi itu bagian dari balapan. Tentu saja, kalau Kamu berada di tengah rombongan, Kamu tidak bisa melakukan pergerakan semacam ini. Tapi kalau Kamu start di barisan depan, ya bisa. Apalagi Tidak ada peluang bagi pembalap Ducati pakai ban soft. Semua pembalap Ducati menggunakan ban medium karena ban soft ini sama dengan yang ada di Silverstone. Dan pagi ini kami mengalami masalah yang sama seperti di Silverstone. Jadi, tidak ada gunanya mengambil risiko itu karena jika kamu mulai mengalami graining, kamu akan kehilangan setengah detik hingga satu detik per lap. Sebenarnya aku sudah melakukan lap yang bagus walaupun kehilangan pole. Aku tidak bisa bilang, ‘Oh, tapi saya membuat kesalahan’. Tidak, itu lap yang bagus….

    “Saya punya dua kesempatan. Kesempatan pertama sudah merupakan lap yang bagus, tetapi saya lihat Marco memang lebih cepat. Dan saat time attack itu, mereka sangat cepat. Saya tidak kecewa. Tentu saja saya ingin meraih pole position. Tapi ketika ada seseorang yang lebih cepat darimu, sementara kamu merasa telah melakukan tugas dengan baik, Kamu tidak boleh kecewa.” tutup Marc…

    Last…Strategi Race berani tersebut membuahkan hasil manis cak. Setelah berhasil merebut kembali pimpinan balapan, Marquez mampu melesat dan menciptakan jarak yang aman dari kejaran para pesaing di belakangnya. Kemenangan di sesi Sprint Race ini tidak hanya menjadi pembuktian kembalinya performa terbaik Marquez di sirkuit favoritnya, tetapi juga memberikan tambahan poin penting dalam persaingan papan atas musim ini. Kendati berhasil meraih kemenangan, Marquez tetap bersikap realistis menghadapi balapan utama (Main Race). Ia menekankan pentingnya menjaga fokus dan manajemen ban, mengingat jarak balapan penuh akan jauh lebih menuntut kesabaran serta konsistensi. Gooo Marc !! (iwb)

  • Marc Marquez Raja Sprint Aragon 2026….Bezzecchi kecolongan !!!

    Marc Marquez Raja Sprint Aragon 2026….Bezzecchi kecolongan !!!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Juara dunia bertahan, Marc Marquez, berhasil bangkit dari kekalahan sesi kualifikasi untuk merebut kemenangan dominan dalam sesi Sprint Race MotoGP Aragon. Pembalap Ducati tersebut tampil tak terbendung sepanjang 11 lap balapan dan memimpin dominasi 1-2 untuk pabrikan asal Italia bersama adiknya, Alex Marquez. Yup…Marc Marquez Raja Sprint Aragon 2026….Bezzecchi kecolongan !!!

    Meskipun harus merelakan pole position kepada pembalap Aprilia, Marco Bezzecchi, saat sesi kualifikasi, Marc Marquez langsung melancarkan aksi agresif saat lampu start padam cak. Marquez melakukan aksi block pass di bagian dalam Tikungan 1 untuk mengambil alih pimpinan balapan dari Bezzecchi, yang juga kebobolan dari Alex Marquez untuk merebut posisi kedua. Posisi Marc yang sedikit keluar dari T1 membuka ruang bagi Marc untuk menyalip dari dalam…brilian. Kemenangan ini diraih setelah Marquez memimpin di setiap lap dan finis dengan keunggulan 1,140 detik dari Alex Marquez, menandai kemenangan Sprint ke-20 sepanjang kariernya sekaligus yang pertama sejak GP Jerman.

    Cuaca terik Aragon memicu perbedaan strategi ban, di mana duo Aprilia (Bezzecchi dan Jorge Martin) memilih ban belakang soft, sementara Marquez bersaudara menggunakan ban belakang medium yang terbukti lebih konsisten di lap-lap akhir. Bezzecchi harus puas finis di posisi ketiga setelah gagal memanfaatkan keunggulan ban soft, disusul Pedro Acosta di posisi keempat setelah menyalip Jorge Martin yang melebar di tikungan terakhir pada lap kelima.

    Martin finis di posisi kelima, diikuti Fermin Aldeguer yang tampil impresif finis keenam dalam balapan perdananya pasca cedera sejak GP Belanda. Diogo Moreira finis ketujuh untuk LCR Honda, diikuti Raul Fernandez di posisi kedelapan dan Johann Zarco di posisi kesembilan yang mengamankan poin terakhir setelah pulih dari cedera.

    Last…Hasil Sprint ini memberikan dampak signifikan pada peta persaingan gelar juara dunia, di mana Marc Marquez berhasil memangkas defisit poin dari pemuncak klasemen Jorge Martin menjadi 33 poin dan mengamankan posisi ketiga klasemen menggeser Ogura yang cedera. Di sisi lain, Pecco Bagnaia gagal meraih poin setelah hanya mampu finis di posisi ke-11, sementara Fabio Di Giannantonio mengalami crash pada lap kedua yang membuatnya tertinggal 46 poin dari Martin. Nasib kurang beruntung juga menimpa pembalap lain, dengan Luca Marini yang terjatuh di lap pembuka serta Fabio Quartararo yang mengalami masalah teknis pada mesin Yamaha miliknya di lap kelima. Berikut hasil Sprint Aragon 2026…(iwb)

    2026 Aragon MotoGP – Sprint Race Results

    Pos Rider Nat Team Time/Diff
    1 Marc Marquez SPA Ducati Lenovo (GP26) 19m 37.995s
    2 Alex Marquez SPA BK8 Gresini Ducati (GP26) +1.140s
    3 Marco Bezzecchi ITA Aprilia Racing (RS-GP26) +2.089s
    4 Pedro Acosta SPA Red Bull KTM (RC16) +2.648s
    5 Jorge Martin SPA Aprilia Racing (RS-GP26) +6.237s
    6 Fermin Aldeguer SPA BK8 Gresini Ducati (GP25) +10.475s
    7 Diogo Moreira BRA Pro Honda LCR (RC213V)* +11.071s
    8 Raul Fernandez SPA Trackhouse Aprilia (RS-GP26) +11.213s
    9 Johann Zarco FRA Castrol Honda LCR (RC213V) +12.021s
    10 Jack Miller AUS Pramac Yamaha (YZR-M1) +12.166s
    11 Francesco Bagnaia ITA Ducati Lenovo (GP26) +14.575s
    12 Alex Rins SPA Monster Yamaha (YZR-M1) +14.648s
    13 Toprak Razgatlioglu TUR Pramac Yamaha (YZR-M1)* +15.776s
    14 Enea Bastianini ITA Red Bull KTM Tech3 (RC16) +16.051s
    15 Brad Binder RSA Red Bull KTM (RC16) +16.761s
    16 Joan Mir SPA Honda HRC Castrol (RC213V) +19.845s
    17 Pol Espargaro SPA Red Bull KTM Tech3 (RC16) +23.160s
    18 Franco Morbidelli ITA Pertamina VR46 Ducati (GP25) +25.074s
    19 Lorenzo Savadori ITA Trackhouse Aprilia (RS-GP26) +27.798s
    Fabio Quartararo FRA Monster Yamaha (YZR-M1) DNF
    Fabio Di Giannantonio ITA Pertamina VR46 Ducati (GP26) DNF
    Luca Marini ITA Honda HRC Castrol (RC213V) DNF