Category: Motogp

  • Breaking !! Pecco marah Besar pada Media….isu Ducati Melarang adalah Fitnah !!

    Breaking !! Pecco marah Besar pada Media….isu Ducati Melarang adalah Fitnah !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…Pebalap Ducati Lenovo Team, Francesco “Pecco” Bagnaia, marah besar kepada media atau pemegang hak siar MotoGP, DAZN. Juara dunia dua kali asal Italia itu menyebut tindakan stasiun televisi tersebut “sangat tidak sopan” setelah merilis rekaman percakapan pribadi yang memicu kontroversi. Menurut Pecco ini adalah tindakan fitnah dan tidak bisa diterima…waahh panass cakk !!

    Seperti yang besar IWB bahas cak…Kontroversi ini bermula usai seri San Marino, di mana DAZN menyiarkan potongan video percakapan off-camera antara Bagnaia dan Fabio Di Giannantonio. Dalam video tersebut, Bagnaia terdengar seolah mengkritik pabrikan Borgo Panigale dengan menyebutkan bahwa Ducati “tidak membiarkannya” melakukan perubahan set-up tertentu di tengah masa sulit yang tengah dihadapinya.

    Sebagaimana diketahui, Bagnaia sedang mengalami periode sulit dalam performanya, termasuk rentetan hasil gagal finis (crash) di tiga grand prix terakhir akibat masalah cengkeraman ban belakang (rear grip) yang membingungkan.

    Menjelang rangkaian GP Austria, Bagnaia akhirnya buka suara untuk meluruskan kesalahpahaman sekaligus mengecam cara kerja media yang mengambil videonya di luar konteks. Ini detil jawaban dan kekesalan Pecco…

    “Saya ingat berkali-kali kalian bertanya, ‘Apakah tim mendukungmu?’ Dan saya selalu menjawab ya….tim melakukan segalanya dengan maksimal untuk membantuku. Setelah aku mengatakan itu, apa yang terjadi pada balapan terakhir di Misano, menurutku ini adalah hal yang sangat tidak sopan dilakukan oleh DAZN. Video dan rekaman itu keluar dari konteks. Kami sedang membicarakan suatu hal, tidak sepenuhnya rahasia, tetapi ini adalah percakapan pribadi….

    “Video itu tidak lengkap. Pastinya, kata terakhir yang saya ucapkan bukanlah kata yang benar, tetapi setiap orang punya masa-masa sulit, setiap orang punya rasa frustrasi. Terkadang kamu mengatakan sesuatu dengan cara yang salah. Namun, apa yang selalu saya katakan adalah Ducati telah sangat mendukungku, dan yang ingin saya maksud adalah bahwa saya telah berkali-kali mencoba hal-hal tersebut (base set up) yang kini tidak lagi diizinkan oleh Ducati, bukan karena apa-apa, melainkan karena saya sudah sering melakukannya dan saya tidak ingin melanjutkan hal semacam itu karena semua terasa tidak bekerja….

    “Apa yang keluar dari mulut saya memang dengan cara yang salah, tetapi kemudian apa yang terjadi selanjutnya adalah bencana bagiku karena itu sepenuhnya keluar dari rasa hormat. Harus ingat….hubungan antara jurnalis dan pebalap harus didasari oleh rasa hormat. Saya pikir saya selalu bersikap baik kepada kalian semua, tidak pernah kasar, tidak pernah mengatakan hal yang salah, mencoba memiliki hubungan baik dengan semua orang karena saya tahu betapa pentingnya hal itu… Dan apa yang terjadi ?? menurutku tindakan kalian ini tidak benar….

    “Jelas bahwa kalian [media] dapat mengambil kata-kata kami dan membagikannya secara online sesuai keinginan kalian, karena kalian bisa mengambil tiga kata dan membuat dua konteks yang sepenuhnya berbeda secara positif atau negatif. Saya tahu kadang penting untuk membuat judul yang bersifat clickbait karena sistemnya bekerja seperti itu. Tapi saya selalu mencoba untuk setransparan mungkin, dan ke depan kalian mungkin tidak akan banyak mendapatkan informasi tentangku (akan lebih membatasi)….

    “Tentu saja [Ducati memahami sudut pandangku] karena kemarin kami langsung membicarakannya. Memang wajar jika hal itu terlihat mengerikan saat sampai di televisi. Tetapi mereka juga memiliki rekaman wawancara pada hari Jumat dan Minggu, dan apa yang saya katakan dalam wawancara-wawancara itu adalah bahwa Ducati mendukungku. Jadi mereka tahu apa yang saya bicarakan, mereka tahu saya tidak gila. Saya meminta maaf atas kata-kata yang saya ucapkan, tetapi saya juga tahu betapa pentingnya hubungan kami (Ducati), dan hubungan kami terus berjalan dengan baik. Jadi, tidak ada yang berbeda dibandingkan masa lalu,” tutupnya….

    Ditempat terpisah Digia juga membenarkan pernyataan Pecco. Dia menyayangkan tingkah laku media yang memotong percakapan dan di framing negatif untuk berita mereka…

    ” Sebenarnya saya tidak ingin berkomentar banyak tentang ini, karena ini bukan cerita saya, tapi yang bisa saya katakan adalah kami sebagai pebalap, terutama kami yang berasal dari Italia, sudah saling kenal sejak lama, dan kami selalu berbicara tentang motor itu adalah hal yang sepenuhnya normal bagi kami. Apa yang terjadi, itu adalah hal di luar kamera, tetapi rupanya ada kamera di sana, jadi saya pikir itu agak tidak adil dilakukan mereka, bukan buat saya melainkan pebalap lain [Bagnaia] sedang membicarakan hal-hal pribadi, jadi terkadang akan lebih baik untuk menghormati hal ini dan tidak hanya mencoba mencari lebih banyak klik….

    “Tetapi terlepas dari itu, dari sudut pandangku, ketika saya sedang kesulitan dengan motor Ducati, saya selalu berbicara dengan Pecco dan mencoba mendapatkan informasi sebanyak yang saya bisa, dan dia selalu membantuku, mencoba memberikan saran terbaik untuk berkembang. Saat saya bisa, saya mencoba melakukan hal yang sama kepada pebalap lain yang sudah saya kenal sejak lama, jadi itu adalah obrolan yang sepenuhnya normal bagi kami.Masalahnya sekarang adalah kita selalu dikelilingi kamera. Kita selalu dikelilingi berbagai macam kamera. Kita sedang menuju ke dunia di mana kita tidak bisa lagi berbicara bebas. Oleh karena itu, saya pikir para jurnalis […] seharusnya memiliki batas etika untuk olahraga ini. Rasanya seperti saya sedang berada di sebuah pub membicarakan tentang motor dan saya tidak perlu khawatir bahwa di suatu tempat ada jurnalis dengan mikrofon, karena itu adalah obrolan yang santai. Jadi, tentu saja ini adalah hal yang bisa kita tingkatkan di olahraga ini, juga karena jujur kakau dibiarkan ini tidak bagus untuk olahraga ini…” tutup Digia…

    Last…jelas cak kemarahan Pecco sudah diubun-ubun dan ini membuat sulit media cak. Celakanya….merasa dirugikan oleh pemberitaan dan fitnah, Bagnaia menyatakan akan lebih tertutup dan membatasi diri kepada media demi menjaga rasa saling menghormati antara pebalap dan jurnalis. Bagnaia menegaskan bahwa hubungannya dengan Ducati tetap berjalan baik dan solid. Pihak manajemen memahami situasi tersebut dan tahu bahwa Bagnaia selalu mengakui dukungan penuh yang diberikan oleh tim. Ambyarrrr tenan kiee mediane wkwkwk….(iwb)

  • Pujian Setinggi Langi Bos Ducati ke Marquez dan Kritikan Pedas ke Pecco….Panas kii !!

    Pujian Setinggi Langi Bos Ducati ke Marquez dan Kritikan Pedas ke Pecco….Panas kii !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….General Manager Ducati Corse, Gigi Dall’Igna, kembali menjadi sorotan setelah melontarkan pujian setinggi langit kepada Marc Márquez usai kemenangan impresif sang pebalap di Sirkuit Misano. Namun, di sisi lain, Dall’Igna juga tidak segan-segan melontarkan kritik terbuka terhadap hasil akhir pekan yang diraih oleh Francesco “Pecco” Bagnaia. Kenapa bisa jadi makin melenceng seperti ini ya cak ??

    Marc Márquez Adalah Sebuah “Fenomena”

    Performa dominan Marc Márquez di atas Desmosedici bersama tim pabrikan terus memukau para petinggi Borgo Panigale. Usai mengamankan kemenangan gemilang di Misano, Dall’Igna secara terbuka memuji mentalitas dan kapasitas luar biasa yang dimiliki pebalap asal Spanyol tersebut.

    “Marc adalah sebuah fenomena sejati. Apa yang ia tunjukkan di atas lintasan, cara ia memahami motor, dan bagaimana ia mampu mengatasi berbagai situasi sulit benar-benar berada di level yang berbeda. Kegembiraan yang dibawa Marc setiap kali ia berada dalam performa terbaiknya adalah energi murni bagi kita semua. Ia adalah pebalap istimewa yang mengeluarkan kemampuan terbaik pada’sang putri’ kesayangan kita—mesin Ducati.” ungkap Dall’Igna dalam analisis pascabalapnya.

    Pujian ini mempertegas betapa cepatnya adaptasi Márquez dengan motor Ducati, menjadikannya salah satu aset paling dominan di grid MotoGP musim ini sekaligus kandidat terkuat peraih gelar juara dunia.

    Kritik Tajam Terhadap Akhir Pekan Pecco Bagnaia

    Berbeda jauh dengan pujian yang diberikan kepada Márquez, nada bicara Dall’Igna berubah menjadi lebih kritis ketika membahas performa Francesco Bagnaia di Misano. Sang juara dunia dua kali itu mengalami akhir pekan yang sangat sulit, bergulat dengan masalah cengkeraman ban (grip) dan gagal mengoptimalkan potensi motornya.

    Dall’Igna menyatakan kekecewaannya atas hasil yang diraih Bagnaia, menegaskan bahwa seorang pebalap pabrikan utama seharusnya mampu menemukan solusi atau setidaknya tampil kompetitif di setiap kondisi.

    “Akhir pekan ini sama sekali tidak berjalan sesuai harapan untuk Pecco. Kami mengharapkan hasil yang jauh lebih konsisten dan kompetitif darinya. Ada banyak hal yang harus kami evaluasi secara mendalam, baik dari sisi data maupun pendekatan yang diambil di garasinya,” tegas Dall’Igna.

    Last…Pernyataan blak-blakan dari petinggi Ducati ini semakin mempertajam sorotan terhadap dinamika internal di garasi Borgo Panigale. Di satu sisi, pabrikan menikmati dominasi luar biasa yang ditunjukkan oleh Marc Márquez. Namun di sisi lain, tekanan mental dan teknis yang mendera Pecco Bagnaia terutama di tengah isu pembatasan setelan dan rencana kepindahannya ke tim lain menciptakan situasi yang kompleks menjelang paruh akhir musim balap MotoGP. Wahhhh kok jadi gini ya cak mbah Gigi….?! (iwb)

  • Tensi Panas….Ducati Sengaja Sabotase Motor Pecco ??? Gilaaaa sih

    Tensi Panas….Ducati Sengaja Sabotase Motor Pecco ??? Gilaaaa sih

    Iwanbanaran.com – Cakkkk….sepertinya Suasana di paddock kejuaraan dunia MotoGP mendadak memanas setelah sebuah rekaman video di balik layar yang tertangkap kamera penyiar DAZN mengungkap polemik internal antara Francesco “Pecco” Bagnaia dan kubu pabrikan Ducati. Perbincangan tak terduga tersebut mendadak viral karena membongkar adanya dugaan pembatasan teknis yang dialami sang juara dunia dua kali terkait pengaturan setelan (setup) sepeda motor Desmosedici miliknya. Nggak heran banyak yang mengatakan Ducati Sengaja Sabotase Motor Pecco ??? Gilaaaa sih kalau benerrr….

    Jadi cak…Insiden bermula dari interaksi santai namun sarat makna antara Bagnaia dan pebalap tim VR46, Fabio Di Giannantonio, usai rangkaian sesi penting di Sirkuit Misano. Dalam percakapan tersebut, Di Giannantonio yang mengamati bagian belakang motor Bagnaia menyarankan agar pebalap utama tim pabrikan Borgo Panigale itu mencoba setelan dasar (basic setup) yang lebih konvensional untuk mengatasi kesulitan yang tengah dihadapinya.

    Alih-alih mengabaikannya, Bagnaia justru merespons dengan pengakuan jujur bahwa ia telah mencoba berbagai variasi setelan tanpa membuahkan hasil positif. Ia bahkan mengeluhkan masalah cengkeraman ban depan yang dirasa terus bermasalah konsisten, apa pun jenis kompon ban yang sedang dipasang.

    Ketika Di Giannantonio kembali mendesaknya untuk mencoba pendekatan setelan yang lebih sederhana, Bagnaia melontarkan kalimat singkat yang langsung mencuri perhatian pengamat balap. Ini dia percakapan lengkapnya cak…

    Digia

    ” Kenapa kamu memakai benda kecil itu di bagian belakang?”

    Pecco

    “Saya cuma memasang apa yang mereka minta untuk saya gunakan. Saya sudah mencoba segalanya… tapi yang aku rasakan mau pakai ban depan Soft atau Medium tidak ada bedanya, rasanya sama saja. Bahkan ban Soft bekas di pagi hari atau ban baru untuk kualifikasi pun terasa sama. Rasanya seperti saya menarik tuas kopling begitu mulai mengerem.”

    Digia

    “Saya paham, tapi menurut saya, kalau kamu memakai setup yang lumayan normal seperti milikku… Set-upku  benar-benar dasar (basic), menurutku…”

    Pecco

    They won’t let me do it” (Mereka tidak mengizinkanku melakukannya).

    Pernyataan blak-blakan ini langsung memicu gelombang spekulasi di kalangan media dan penggemar MotoGP. Banyak pihak mempertanyakan siapa pihak “mereka” yang dimaksud oleh Bagnaia—apakah jajaran insinyur pabrikan, manajemen tim, atau para petinggi Borgo Panigale. Muncul dugaan bahwa pembatasan tersebut diberlakukan demi menjaga keselarasan arah pengembangan motor pabrikan atau menghindari eksperimen ekstrem yang dapat membingungkan data telekomunikasi tim.

    Di sisi lain, situasi ini menyoroti tekanan berat yang sedang dipikul oleh Bagnaia di tengah persaingan ketat perebutan gelar juara dunia. Masalah cengkeraman ban belakang (rear grip) dan inkonsistensi performa pada beberapa seri sebelumnya membuat sang pebalap asal Italia ini dituntut untuk terus mencari terobosan teknis, meski ruang geraknya di garasi tampaknya dibatasi oleh protokol pengembangan tim.

    Menanggapi memanasnya rumor dan pemberitaan di media, manajemen Ducati melalui Direktur Olahraga Davide Tardozzi segera berupaya meredam situasi. Pihak tim menegaskan bahwa hubungan profesional serta tingkat kepercayaan antara Ducati dan Bagnaia tetap terjalin sangat kuat. Manajemen memastikan bahwa para insinyur bekerja keras siang dan malam di balik layar untuk mencarikan solusi komprehensif atas kendala teknis yang dikeluhkan oleh sang pebalap andalan.

    Last…Kendati demikian, bocornya percakapan rahasia ini membuka mata publik akan rumitnya dinamika di dalam garasi tim pabrikan tersukses di era modern MotoGP tersebut. Keseimbangan antara kebebasan pebalap untuk mengeksplorasi potensi maksimal motor dan strategi jangka panjang pabrikan kini menjadi topik perdebatan hangat yang akan terus disorot hingga akhir musim balap. Kalau menurut sampeyan…apakah logis dugaan sabotase motor Pecco yang dilakukan Ducati ?? coba sampeyan berikan analisa dan komennya. Hhmm…menarik kiieee…(iwb)

  • Fabio Quartararo akui tidak sabar Jajal Mesin Honda RC214V !!

    Fabio Quartararo akui tidak sabar Jajal Mesin Honda RC214V !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….seperti yang sampeyan tahu, langkah besar dan penuh risiko tengah dipersiapkan oleh juara dunia MotoGP 2021, Fabio Quartararo. Setelah menghabiskan sebagian besar karier premier kelasnya bersama Yamaha yang puncaknya berbuah manis berupa gelar juara dunia pada musim 2021. Pembalap berjuluk El Diablo ini memutuskan untuk menanggalkan seragam biru khas pabrikan Iwata demi menerima pinangan dan tantangan baru bersama Honda. Dan tahu nggak cak…Fabio Quartararo akui tidak sabar Jajal Mesin Honda RC214V !! ” Setiap malam ketika saya pergi tidur, saya memikirkan bagaimana sensasi pertama saya dengan Honda nantinya..” serunya..

    Keputusan hijrah ini diambil bukan tanpa alasan cak. Dalam beberapa musim terakhir, Quartararo harus berjibaku dengan performa motor Yamaha M1 yang tertinggal jauh dari dominasi pabrikan Eropa seperti Ducati dan Aprilia. Ketidakpuasan terhadap lambatnya progres pengembangan motor, ditambah hubungan yang kian merenggang akibat hasil-hasil minor di papan bawah, membuat pembalap asal Prancis tersebut mantap mencari lembaran baru.

    Meski kepindahannya sudah menjadi rahasia umum di paddock, bayang-bayang transisi besar ini rupanya terus berkecamuk di benak Quartararo. Menjelang tes akhir musim di Valencia yang akan menjadi momen pertamanya menunggangi kuda besi pabrikan asal Jepang berlambang sayap tunggal tersebut, Quartararo mengakui bahwa dia tidak sabar karena pikirannya selalu dipenuhi rasa penasaran setiap kali hendak beristirahat:

    “Setiap malam ketika saya pergi tidur, saya memikirkan bagaimana sensasi pertama saya dengan Honda nantinya. Tapi bukan hanya soal tes di Valencia itu saja. Ini akan terasa sedikit aneh, karena saya telah menghabiskan seluruh karier MotoGP saya bersama Yamaha dan ini adalah perubahan yang sangat besar…

    ” Pada tahun 2021, saya berjuang untuk Kejuaraan Dunia pada tahun 2022, saya hampir meraihnya. Namun, selama tiga tahun terakhir 2023, 2024, dan 2025 kami tidak bersaing di level yang kami targetkan. Hal itu telah menciptakan momen-momen yang pelik. Terdapat saat-saat yang menegangkan, tetapi media memperbesar hal tersebut, membuatnya tampak lebih buruk. Ada masa pasang surutnya. Kami telah menghabiskan delapan tahun bersama, dan saya ingin menyelesaikannya dengan baik.

    “Setelah tes pertama di Barcelona tahun ini, saya merasa optimis, tetapi kami gagal membuat kemajuan secara keseluruhan. Kami tidak dapat meningkatkan kecepatan, daya menikung (turning), cengkeraman (grip), atau tenaga. Yamaha mungkin dapat menjelaskan detail teknisnya lebih baik daripada saya.

    “Saya tidak dapat mengatakan bahwa saya akan datang ke balapan pertama dengan kesiapan untuk menang. Mungkin setelah dua hari tes, saya akan merasa hebat, tetapi kita harus belajar secara bertahap di putaran-putaran awal. Hanya karena saya pindah ke Honda, bukan berarti motornya akan langsung menjadi yang terbaik. Kami harus bekerja keras dan beradaptasi dengan cepat namun hati-hati. Honda telah berinvestasi besar-besaran untuk bangkit kembali dengan regulasi, motor, dan ban yang baru. Saya yakin mereka bisa memberikan kejutan. Honda kehilangan pembalap terbaiknya dan memahami apa yang dituntut oleh Marc. Mereka telah membuat kemajuan signifikan dalam dua tahun terakhir.”

    Last…Peralihan dari Yamaha ke proyek pengembangan motor baru Honda tentu menjadi perjudian besar bagi karier Quartararo yang kini menginjak usia matang. Tegang bercampur penasaran melingkupi mental sang juara dunia, mengingat ia harus beradaptasi total dengan budaya kerja, karakter mesin, serta sasis yang benar-benar berbeda dari zona nyamannya selama bertahun-tahun. Di sisi lain, ketegangan transisi ini juga sempat diwarnai gesekan kecil dengan Yamaha, termasuk keputusan pabrikan Iwata yang melarang Quartararo ambil bagian dalam uji coba ban Pirelli untuk regulasi masa depan demi mengamankan rahasia data internal. Kendati demikian, fokus utama Quartararo kini sepenuhnya tertuju pada masa depan. Tes perdananya di atas motor Honda kelak akan menjadi babak penentu, apakah perjudian besar ini mampu membawanya kembali ke jalur perebutan gelar juara dunia MotoGP. Piye menurut sampeyan…apakah Fabio bakal bisa kencang di Honda ? monggo berikan opininya…(iwb)

  • Performa “Aneh” Yamaha M1 V4 Bikin Toprak Razgatlioglu heran..!!!

    Performa “Aneh” Yamaha M1 V4 Bikin Toprak Razgatlioglu heran..!!!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Pekan balap MotoGP San Marino di Sirkuit Misano menyisakan cerita positif sekaligus frustrasi bagi Toprak Razgatlioglu. Pembalap Pramac Yamaha tersebut sukses mencuri perhatian lewat catatan waktu paruh kedua lomba yang sangat kompetitif. Namun, masalah klasik di sesi kualifikasi serta kesulitan melakukan overtake membuat potensi besarnya tertahan di posisi ke-12. Yup…Performa Aneh Yamaha M1 V4 Bikin Toprak Razgatlioglu heran..!! Kok iso ?? simak detilnya dibawah ini…

    Jadi cak…Ada yang menarik dari performa pembalap asal Turki ini sepanjang hari Minggu. Alih-alih mencatat waktu terbaiknya saat menggunakan ban lunak baru di sesi kualifikasi, lap tercepat Toprak justru tercipta pada paruh kedua balapan utama (Grand Prix) di atas ban medium bekas. Pada lap ke-12 dari total 27 putaran, ia membukukan waktu 1 menit 31,770 detik—setengah detik lebih cepat ketimbang catatan waktu kualifikasinya sehari sebelumnya.

    Bahkan, torehan waktu tersebut sempat menyamai kecepatan para pembalap papan atas, termasuk Fermin Aldeguer, Pedro Acosta, hingga sang pemenang balapan Marc Marquez. Ia juga mengakui bahwa ritme balapnya sangat mirip dengan rekan pabrikannya, Fabio Quartararo. “Saya juga terkejut karena setelah setengah balapan, saya mulai mencatat waktu ’31 dan ini sangat mengesankan,” ungkap Toprak yang merasa bingung dengan performa aneh Yamaha. Lhaa piye cak…lap time Race malah lebih kencang dari kualiafikasi…

    Kendati demikian, kerja keras jawara WorldSBK itu di lintasan terbentur oleh tembok besar bernama posisi start. Memulai balapan dari grid paling belakang membuatnya harus bekerja ekstra keras untuk memperbaiki posisi. Sayangnya, karakter motor MotoGP modern membuat usaha tersebut berbuah simalakama.

    Toprak menjelaskan betapa sulitnya menyalip pembalap lain di Misano. Pola balapannya selalu berulang: tertinggal di lintasan lurus karena defisit akselerasi, lalu harus mengerem secara ekstrem di tikungan demi menutup celah. Situasi “kejar-kejaran” ini memaksa ban depannya terus-menerus berada di balik motor pembalap lain, yang membuat temperatur ban depan melonjak drastis. Akibatnya, ban mulai mengalami locking dan kehilangan cengkeraman, membuat upaya overtake menjadi hampir mustahil dilakukan dengan bersih.

    Selain insiden jatuhnya beberapa pembalap di depan serta penalti long lap yang didapat Franco Morbidelli, sebagian besar posisi yang diraih Toprak murni berasal dari kegigihannya mempertahankan ritme, meski pada akhirnya ia harus puas finis di urutan ke-12.

    Bagi Toprak, akhir pekan di Misano memberikan sinyal yang sangat jelas: basis motor Yamaha sudah menunjukkan kemajuan besar dalam hal race pace, namun kelemahan di sesi kualifikasi harus segera dibereskan. “Bagi saya, masalah terbesarnya adalah saya start dari posisi paling belakang. Jika saya start di posisi ke-10, 12, atau 13, mungkin lebih mudah bertahan di sepuluh besar karena pace saya sama dengan pembalap di posisi 7–8,” ujarnya.

    Last….Evaluasi ini langsung dibawa oleh Toprak dan tim menuju seri berikutnya di Red Bull Ring, Austria. Dengan fokus penuh untuk memperbaiki catatan waktu di sesi latihan Jumat dan Sabtu agar bisa mengamankan posisi start yang lebih baik, Toprak optimistis bisa menerjemahkan kecepatan balapnya yang masuk jajaran sepuluh besar ke dalam hasil lomba yang jauh lebih optimal. Gooo Toprakkk !! (iwb)

  • Marc Marquez diprediksi sukses hancurkan Mental Martin dan Bezzecchi ?!

    Marc Marquez diprediksi sukses hancurkan Mental Martin dan Bezzecchi ?!

    Iwanbanaran.com – Cakkkk….Pekan balap MotoGP San Marino di Sirkuit Misano seharusnya menjadi momen kejayaan bagi Aprilia. Di atas kertas, pabrikan asal Noale ini sukses meracik motor RS-GP sebagai kendaraan paling kompetitif di grid musim ini. Rekor pole position sub-1 menit 29,9 detik yang dicetak Marco Bezzecchi menjadi bukti sahih betapa superiornya performa motor Aprilia. Namun, alih-alih meraup poin maksimal, Aprilia justru harus menyaksikan Marc Marquez (Ducati Corse) kembali menyapu bersih kemenangan dan melejit ke puncak klasemen. Di balik hasil yang mengecewakan tersebut, terungkap satu kelemahan fundamental yang tidak dapat diperbaiki oleh departemen teknik mana pun yakni faktor manusia dan tekanan mental dalam perebutan gelar juara cak !!

    Sepanjang paruh musim ini, Aprilia memegang keunggulan teknis yang jelas atas Ducati. Sayangnya, keunggulan tersebut sering kali kandas akibat inkonsistensi pebalapnya sendiri. Di Misano, Marco Bezzecchi memulai balapan dengan sempurna dan langsung memimpin jalannya lomba. Namun, ia kembali melakukan kesalahan fatal dengan mengalami crash di Tikungan 13 pada lap pembuka. Insiden tersebut menandai kali kelima dalam tujuh seri terakhir Bezzecchi gagal mendulang poin pada balapan hari Minggu. Akibatnya, ia tertinggal semakin jauh di klasemen, terpaut 33 poin dari puncak. Di sisi lain, rekan setimnya, Jorge Martin, juga harus berjuang menghadapi masalah fisik berupa arm pump yang mengancam performanya ke depan.

    Ironisnya, kebangkitan luar biasa Marc Marquez terjadi di tengah kondisi fisik yang tidak 100% prima—bahkan bahu kanannya dikabarkan hanya beroperasi pada kapasitas 50% akibat cedera lama. Kendati demikian, Marquez justru memanfaatkan situasi ini untuk melepaskan diri dari tekanan psikologis. Tanpa beban berlebih, ia mampu tampil konsisten dan memaksimalkan setiap peluang, sementara tekanan berat justru menghujam pundak para pebalap Aprilia. Marco Bezzecchi maupun Martin sama sekali belum pernah memiliki pengalaman bertarung dalam memperebutkan gelar juara dunia MotoGP secara langsung melawan pebalap sekaliber Marquez. Di 2024 Marc saat itu hanya mencoba beradaptasi tanpa mengejar poin juara dunia. Tekanan mental inilah yang menjadi batu sandungan terbesar. Ketika dihadapkan pada situasi krusial di barisan depan, ketenangan mental sering kali runtuh cak…

    Last….Menyongsong seri-seri berikutnya seperti di Red Bull Ring, Austria, Aprilia sebenarnya masih memegang kartu As berupa performa motor RS-GP yang sangat mumpuni. Secara teori, karakteristik sirkuit tersebut sangat cocok dengan paket teknis mereka. Kendati demikian, insiden di Misano memberikan pelajaran berharga bagi kubu Noale: tidak ada komponen aerodinamika, sasis, atau peta mesin baru yang diciptakan insinyur untuk mengatasi tekanan mental dan inkonsistensi pebalap di lintasan. Jika Aprilia benar-benar ingin mewujudkan mimpi meraih titel juara dunia MotoGP, para pebalapnya harus segera belajar mengatasi tekanan psikologis saat melawan sang maestro, Marc Marquez. Yup…melawan sang macan yang ditakuti dari dulu hingga sekarang memang tidak mudah…kita tunggu saja kebangkitan pasukan Aprilia dimasa depan….(iwb)

  • Nicolo Bulega Resmi Gabung VR46 MotoGP….Rossi Bungkam, ada apa ???

    Nicolo Bulega Resmi Gabung VR46 MotoGP….Rossi Bungkam, ada apa ???

    Iwanbanaran.com – Cakkkk…seperti yang sampeyan tahu, Langkah besar baru saja diambil oleh Pertamina Enduro VR46 Racing Team menyambut musim MotoGP 2027. Tim satelit Ducati ini resmi mengumumkan perekrutan bintang WorldSBK, Nicolo Bulega, yang akan mengisi kursi balap mendampingi Fermin Aldeguer. Sayangnya, di balik euforia kepindahan Bulega yang juga lulusan akademi VR46 ada satu hal ganjil yang langsung memicu tanda tanya besar di paddock yakni keheningan total dari sang pemilik tim, Valentino Rossi. Betul cak….Rossi Bungkam, ada apa ???

    Dalam rilis resmi tim maupun unggahan media sosial terkait bergabungnya Bulega, sama sekali tidak ditemukan kutipan, pernyataan, ataupun komentar dari Valentino Rossi. Sorotan justru sepenuhnya terbagi kepada sang pebalap anyar, Direktur Tim Uccio Salucci, Manajer Tim Pablo Nieto, hingga General Manager Ducati Corse, Luigi Dall’Igna. Sikap bungkam Rossi ini ternyata bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, The Doctor juga tidak memberikan komentar publik apa pun mengenai kepergian Franco Morbidelli dari tim. Absennya suara sang legenda hidup mendadak menguatkan spekulasi publik mengenai sejauh mana keterlibatannya saat ini dalam mengelola skuad balap yang ia dirikan sendiri…

    Faktor pendukung spekulasi tersebut terlihat jelas dari tingkat kehadiran Rossi di paddock MotoGP musim ini. Tercatat, juara dunia sembilan kali itu baru mendatangi dua dari 13 seri Grand Prix yang sudah digelar, yakni di Barcelona dan Brno. Pola ini menunjukkan tren penurunan keterlibatan fisik Rossi secara langsung di ajang Grand Prix….

    Sebaliknya, fokus utama pria asal Tavullia tersebut kini lebih banyak tersita di dunia balap mobil (car racing). Sebagai contoh nyata, pada akhir pekan GP Jerman Juli lalu, Rossi lebih memilih hadir di festival otomotif bergengsi Goodwood Festival of Speed daripada mendatangi lintasan balap MotoGP. Pergeseran prioritas ini disebut-sebut ikut berdampak pada performa bisnis dan profit merek VR46 secara keseluruhan. Terus betulkah isu sebenarnya Rossi tidak suka Bulega karena meninggalkan VR46 academy dimasa lalu ?? Kalau kita analisa kecil cak…ini alasan IWB…

    • Perpisahan Baik-Baik di Tahun 2019: Bulega sempat meninggalkan VR46 Riders Academy dan tim Sky Racing Team VR46 pada akhir musim 2019 setelah mengalami penurunan performa di kelas Moto2 dan gagal memperbarui perjanjian manajemennya. Kendati demikian, saat itu Bulega menegaskan bahwa keputusan tersebut murni untuk mencari tantangan baru secara mandiri, tanpa ada rasa dendam atau sakit hati. Ia bahkan tetap menyebut Rossi sebagai sosok “kakak dan panutan terbesarnya.”

    • Tetap Akur dan Terhubung: Selepas keluar dari akademi, hubungan personal mereka tetap harmonis. Bulega terpantau beberapa kali masih menghadiri acara balap internal Rossi, seperti 100Km of Champions di Ranch milik The Doctor.

    • Konsultasi Karier Langsung dengan Rossi: Menjelang keputusannya naik ke MotoGP, Bulega bahkan mengakui bahwa ia sempat menelepon dan meminta saran langsung kepada Valentino Rossi ketika dirinya sempat dilanda keraguan. Rossi meresponsnya dengan hangat dan memberikan dukungan penuh.

    Last….mengingat Morbidelli dan Bulega merupakan produk binaan asli VR46 Riders Academy, publik tentu berharap Rossi bisa berdiri di garis depan menyambut langkah besar mereka. Namun, dengan situasi sekarang, VR46 seolah berjalan sebagai tim milik Rossi “hanya di atas kertas saja”, sementara gairahnya pada balap roda dua tampak mulai meredup. Apakah Rossi akan segera angkat bicara atau justru memilih terus menikmati perannya di dunia balap roda empat? Waktu yang akan menjawabnya nanti cak….(iwb)

  • Marquez hancurkan Aprilia di Misano…Poin Klasemen Motogp 2026 diambil alih !!

    Marquez hancurkan Aprilia di Misano…Poin Klasemen Motogp 2026 diambil alih !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…..Marc Marquez sukses merebut kemenangan gemilang dalam balapan Grand Prix San Marino di Sirkuit Misano, Minggu, yang mengantarkannya mengambil alih pimpinan klasemen sementara MotoGP 2026. Keberhasilan pebalap bintang asal Spanyol ini tak lepas dari drama lap pertama ketika pesaing terdekatnya, Marco Bezzecchi, secara mengejutkan mengalami kecelakaan saat memimpin jalannya race pada 2 tikungan awal…

    Sesi akhir pekan di Misano sebenarnya dikuasai oleh Bezzecchi sejak sesi kualifikasi. Tampil di hadapan publik pendukungnya sendiri, pebalap Aprilia tersebut mencetak sejarah dengan menembus batasan waktu di bawah 30 detik, mencatatkan lap time sensasional 1:29,982 untuk merebut pole position. Sementara itu, Marc Marquez mengamankan posisi start kedua dengan catatan waktu 1:30,180 atau terpaut 0,198 detik di belakang Bezzecchi. Fermín Aldeguer melengkapi baris terdepan di posisi ketiga dengan torehan 1:30,350, diikuti oleh Fabio Di Giannantonio di posisi keempat (1:30,386), Jorge Martín di posisi kelima (1:30,569), dan Luca Marini di tempat keenam (1:30,609).

    Ketika lampu start padam, Bezzecchi langsung melesat memanfaatkan pole position miliknya. Namun, tekanan ketat dari Marquez di tikungan pembuka (Turn 1) menciptakan persaingan sengit sejak meter pertama. Drama besar langsung terjadi di lap pembuka ketika Bezzecchi yang mencoba mempertahankan posisinya kehilangan kendali pada motornya dan mengalami kecelakaan parah. Crash pada kecepatan tinggi di Tikungan 13, yang meloloskan Marquez ke posisi memimpin di depan Martin. Namun kemudian Martin sukses nyalip Marquez di Tikungan 4 pada putaran ketujuh, dan berhasil membangun keunggulan lebih dari delapan persepuluh detik selama beberapa putaran berikutnya….

    Di belakang, Acosta dan Alex Marquez saling tukar posisi, dengan Alex yang akhirnya unggul kemudian mendekati dua pebalap terdepan. Menjelang awal lap 11, kecepatan Marquez kembali meningkat, dan ia mulai menekan Martin dan melancarkan serangan yang sukses merebut kembali pimpinan balapan di Tikungan 6 pada lap ke-12. Alex Marquez berhasil melewati Martin dua lap kemudian mulai mengejar Marc, yang unggul lebih dari satu detik di depan. Namun Marc Marquez tetap mampu bertahan dengan kokoh didepan…

    Masuk garis finish….Acosta berada di posisi ketiga, tertinggal 2,3 detik dari Marc, sementara Fermín Aldeguer berhasil overtake Martin turun ke posisi kelima. Martin terpaut 14,021 detik dari Marc Marquez saat bendera finis dikibarkan. Raul Fernandez finis di posisi keenam yang cukup jauh dengan Trackhouse Aprilia, sementara Fabio Di Giannantonio dari VR46 kesulitan di posisi ketujuh di depan Enea Bastianini, Luca Marini dan Fabio Quartararo. Johann Zarco (LCR) mengalami kecelakaan di detik-detik akhir, sementara Jack Miller (Pramac), Pecco Bagnaia (Ducati), dan Diogo Moreira (LCR) juga terjatuh. Alex Rins (Yamaha) dan Joan Mir (Honda) masuk ke pit dan memilih retire (gagal finis).

    Last…Kemenangan mutlak ini melengkapi akhir pekan yang nyaris sempurna bagi Marquez, yang sehari sebelumnya juga sukses mengamankan kemenangan dalam sesi Sprint Race di sirkuit yang sama. Tambahan 38 poin penuh tersebut memiliki arti sangat krusial bagi ambisi perebutan gelar juara dunia musim ini, mengingat ia berhasil menduduki puncak klasemen kejuaraan untuk pertama kalinya pada tahun 2026. Dominasi Marquez sepanjang akhir pekan di Misano memperlihatkan kematangan taktik dan performa kompetitifnya, sekaligus membuktikan betapa tipisnya margin kesalahan di kelas premier yang mampu mengubah total peta persaingan titel juara dunia….(iwb)

    2026 Misano MotoGP – Race Results

    Pos Rider Nat Team Time/Diff
    1 Marc Marquez SPA Ducati Lenovo (GP26) 41m 13.013s
    2 Alex Marquez SPA BK8 Gresini Ducati (GP26) +0.657s
    3 Pedro Acosta SPA Red Bull KTM (RC16) +2.326s
    4 Fermin Aldeguer SPA BK8 Gresini Ducati (GP25) +6.027s
    5 Jorge Martin SPA Aprilia Racing (RS-GP26) +14.021s
    6 Raul Fernandez SPA Trackhouse Aprilia (RS-GP26) +18.252s
    7 Fabio Di Giannantonio ITA Pertamina VR46 Ducati (GP26) +20.581s
    8 Enea Bastianini ITA Red Bull KTM Tech3 (RC16) +20.858s
    9 Luca Marini ITA Honda HRC Castrol (RC213V) +22.911s
    10 Fabio Quartararo FRA Monster Yamaha (YZR-M1) +23.229s
    11 Brad Binder RSA Red Bull KTM (RC16) +23.905s
    12 Toprak Razgatlioglu TUR Pramac Yamaha (YZR-M1)* +28.031s
    13 Franco Morbidelli ITA Pertamina VR46 Ducati (GP25) +28.927s
    14 Pol Espargaro SPA Red Bull KTM Tech3 (RC16) +31.792s
    Johann Zarco FRA Castrol Honda LCR (RC213V) DNF
    Alex Rins SPA Monster Yamaha (YZR-M1) DNF
    Francesco Bagnaia ITA Ducati Lenovo (GP26) DNF
    Joan Mir SPA Honda HRC Castrol (RC213V) DNF
    Diogo Moreira BRA Pro Honda LCR (RC213V)* DNF
    Jack Miller AUS Pramac Yamaha (YZR-M1) DNF
    Marco Bezzecchi ITA Aprilia Racing (RS-GP26) DNF
  • Pecco Bagnaia Frustasi di Misano..” Aku Hampir jatuh 7 kali..” keluhnya !!

    Pecco Bagnaia Frustasi di Misano..” Aku Hampir jatuh 7 kali..” keluhnya !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Krisis performa yang dialami oleh pebalap pabrikan Ducati, Francesco Bagnaia, tampaknya masih terus berlanjut tanpa menunjukkan tanda-tanda mereda saat akhir pekan Grand Prix San Marino di Sirkuit Misano dimulai. Dalam sesi latihan hari Jumat yang krusial, pebalap asal Italia tersebut mengakui bahwa ia terpaksa harus membalap dengan gaya yang sangat defensif demi mengendalikan motor Desmosedici yang terus memberikannya masalah kepercayaan diri. Situasi ini semakin memperkuat anggapan bahwa sang mantan juara dunia sedang berada dalam salah satu periode paling sulit sepanjang karier kelas utamanya bersama skuad Borgo Panigale. ” Aku hampir jatuh 7 kali…” keluhnya…

    Sepanjang sesi latihan di Misano, Bagnaia terlihat kesulitan untuk mencatatkan waktu kompetitif yang bisa membawanya bersaing secara nyaman di jajaran teratas, jauh tertinggal dari dominasi sesama pebalap Ducati lainnya maupun kejutan yang dihadirkan oleh para pesaing dari pabrikan Aprilia. Ketika dimintai keterangan mengenai gaya balapnya di atas lintasan kandang tersebut, Bagnaia tidak menutup-nutupi fakta bahwa ia tidak bisa lagi memacu motornya secara agresif seperti biasa. Ia menjelaskan bahwa setiap kali ia mencoba menekan batas maksimal, motornya kerap memberikan reaksi yang tidak terduga dan merusak ritme balapnya secara keseluruhan….

    ” Tim sedang bekerja keras untuk mencari tahu masalahnya, tetapi tampaknya mustahil untuk dipahami alasannya. Perbedaannya sangat jelas terlihat pada data antara saya dan semua pebalap Ducati lainnya, karena saya mengerem jauh lebih keras daripada yang lain. Selain itu motornya tidak mau berakselerasi. Saya sangat memperhatikan akselerasi dengan bukaan gas, tetapi justru saya adalah orang yang paling sedikit berakselerasi. Cara kerja motor saya sangat aneh dan tim benar-benar tidak mengerti alasannya. Kami berada dalam situasi yang sangat sulit. Saya mengendarai motor dengan cara yang sangat defensif karena begitu saya mencoba berbuat sedikit saja, saya langsung jatuh…

    “Mengalami crash di setiap tikungan bukanlah cara yang saya inginkan untuk mengatasi situasi ini. Saya hampir jatuh tujuh kali saat sesi latihan dan itu dalam kecepatan yang sangat lambat. Bahkan dalam lap-lap lambat pun saya hampir jatuh, jadi ini sangat aneh dan kita perlu mencari tahu alasannya. Marc membuat perbedaan lebih besar dalam hal itu karena dialah yang menggunakan tekanan rem lebih sedikit tetapi motornya bisa melambat dengan cepat.  Saya menggunakan tekanan hingga dua kali lipat tetapi motornya tidak mau berhenti, jadi ini sangat sulit. Situasinya juga sulit bagi [tim]. Yang saya minta adalah coba pikirkan karena sejak awal musim masalahnya selalu sama. Masalahnya adalah dalam tiga GP terakhir situasinya jauh lebih buruk, entahlah…” keluh Pecco…

    Pendekatan defensif ini tentu saja menjadi sebuah kemunduran besar bagi seorang pebalap yang terbiasa bertarung memperebutkan pole position dan kemenangan di setiap seri cak. Bagnaia menceritakan bahwa masalah utama yang dihadapinya berkaitan erat dengan ketidakcocokan antara karakteristik setelan motor saat ini dengan preferensi gaya berkendaranya. Perubahan kecil pada tingkat cengkeraman lintasan Misano membuat setelan dasar motornya gagal bekerja secara optimal, memaksanya untuk terus-menerus bermain aman di setiap tikungan guna menghindari potensi kecelakaan fatal yang dapat memperburuk kondisi fisiknya maupun mental tim.

    Situasi pelik ini juga memicu berbagai spekulasi di paddock mengenai arah pengembangan teknis yang diambil oleh Ducati Corse. Dalam beberapa balapan terakhir, Bagnaia kerap mengeluhkan kurangnya rasa percaya diri pada bagian depan motor, sebuah komponen krusial yang sangat diandalkannya untuk melakukan pengereman keras dan memasuki tikungan dengan kecepatan tinggi. Meskipun pihak tim telah mencoba berbagai cara untuk mengembalikan performa motornya ke level terbaik, solusi permanen tampaknya masih belum ditemukan hingga hari pertama latihan di Misano ini berakhir.

    Last….Tekanan publik dan media tentu semakin menghimpit pundak pebalap bernomor start 63 tersebut, terutama mengingat statusnya sebagai salah satu ujung tombak pabrikan asal Italia di kandang mereka sendiri. Para penggemar setia Ducati tentu berharap besar melihat pebalap kebanggaan mereka bangkit di Misano, namun realitas di atas lintasan berbicara lain. Dengan sesi kualifikasi dan Sprint Race yang sudah di depan mata, Bagnaia dan tim tekniknya harus bekerja ekstra keras semalaman untuk menemukan terobosan signifikan. Jika masalah utama pada setelan motor ini tidak segera diatasi, Bagnaia diprediksi akan kembali menjalani balapan yang penuh penderitaan dan harus puas berjuang di barisan tengah demi mengamankan poin seadanya. Nggak heran jadi super frustasi cak…semangat Pecco !!! (iwb)

  • Jorge Martin Pusing dengan Ban Lunak Michelin di Misano !!

    Jorge Martin Pusing dengan Ban Lunak Michelin di Misano !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Jorge Martin, mengakui bahwa dirinya harus berjuang keras pada hari pertama sesi latihan Grand Prix San Marino di Sirkuit Misano. Pemimpin klasemen sementara tersebut hanya mampu mengamankan posisi kesepuluh secara dramatis untuk lolos langsung ke sesi Q2, tertinggal cukup jauh dari rekan setimnya, Marco Bezzecchi, yang keluar sebagai yang tercepat. Jorge Martin Pusing dengan Ban Lunak Michelin di Misano cak !!

    Martin mengungkapkan bahwa masalah utamanya bukan terletak pada satu atau dua tikungan saja, melainkan ia kehilangan sedikit waktu di hampir seluruh bagian sirkuit dibandingkan Bezzecchi…

    “Saya sangat kesulitan dengan ban belakang kompon lunak. Sejujurnya, saya memang memperkirakan akan sedikit menderita dengan ban lunak karena di sirkuit ini, dengan cengkeraman yang begitu tinggi rasanya seperti di awal musim keseimbangan motor sangat berubah untuk gaya balap saya. Situasinya memang seperti itu, tetapi saya tidak menyangka akan separah ini, jadi saya langsung merasa kesulitan sejak awal…

    “Saya rasa, dalam hal kecepatan balap, saya tidak tertinggal jauh. Saya mungkin hanya terpaut sekitar dua persepuluh detik dari barisan terdepan. Tetapi begitu kami harus masuk ke mode time attack, saya sangat kesulitan. Kami perlu memahami cara agar bisa lebih kompetitif untuk besok. Saya pikir ada hal-hal kecil di sekujur lintasan yang perlu kami satukan, tetapi jika kami bisa melakukan kualifikasi dengan hebat, saya yakin kami bisa bertarung di barisan depan.”

    “Saat melihat data milik [Bezzecchi], situasinya memang sulit karena perbedaannya ada pada hal-hal kecil di setiap tikungan, bukan masalah besar di dua tikungan tertentu,” ujar Martin. “Di seluruh bagian lintasan, saya terus-menerus kehilangan waktu sedikit demi sedikit.”

    Selain kesulitan menemukan ritme yang konsisten, pebalap asal Spanyol itu juga mengeluhkan perubahan keseimbangan pada motor RS-GP miliknya saat dipasangkan ban belakang kompon lunak (soft) untuk sesi time attack di penghujung latihan. Menurutnya, tingkat cengkeraman (grip) yang sangat tinggi di Misano mengubah perilaku motor secara signifikan dan membuatnya merasa berada di batas maksimal kemampuan motor.

    Kendati demikian, Martin merasa kecepatan balapnya (race pace) tidak terlalu buruk dan hanya terpaut sekitar dua persepuluh detik dari barisan terdepan. Tantangan terbesar baginya saat ini adalah menemukan cara untuk memaksimalkan potensi motor saat melakukan putaran cepat di sesi kualifikasi.

    “Jika kami bisa melakukan langkah maju pada setelan motor, biasanya hal itu akan membuatnya jauh lebih seimbang,” tambahnya.

    Last….Meskipun mengawali akhir pekan dengan hasil yang kurang memuaskan, Martin tetap optimistis menatap sesi balapan. Ia menegaskan bahwa targetnya bukanlah sekadar finis di posisi kelima seperti yang diraihnya di Aragon, melainkan berjuang di barisan depan demi mempertahankan posisi puncak di klasemen kejuaraan dunia MotoGP….(iwb)