Category: Motogp

  • Nakagami bocorkan Feeling new Honda RC214V 850cc….Sangat Bagus ?!

    Nakagami bocorkan Feeling new Honda RC214V 850cc….Sangat Bagus ?!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…akhirnya Takaaki Nakagami membagikan pengalamannya yang cukup mengejutkan setelah kembali melompat ke atas motor MotoGP 1000cc konvensional. Pembalap penguji (test rider) HRC tersebut mengakui bahwa dirinya sempat mengalami “kejutan besar” (big shock) saat harus beradaptasi kembali dengan mesin 1000cc setelah berbulan-bulan fokus penuh mengembangkan motor prototipe 850cc untuk regulasi baru MotoGP 2027. Sebab Nakagami bocorkan Feeling new Honda RC214V 850cc….Sangat Bagus ?!

    Kesempatan langka menjajal motor 1000cc lagi datang pada awal September lalu dalam sesi private test di Sirkuit Motegi. Maklum saja, sejak cedera punggung serius yang menimpa rekan sesama test rider, Aleix Espargaro, pada April lalu, Nakagami harus bekerja sendirian memikul beban pengujian motor 850cc.

    “Pada awal September kami melakukan tes privat di Motegi dengan motor 1000cc. Itu benar-benar kejutan besar. Sebab sudah lama sekali saya tidak mengendarai motor 1000cc. Kami lebih banyak menghabiskan waktu menguji motor 850cc.”

    Jadwal Nakagami sendiri tergolong sangat padat. Selain harus menggantikan Joan Mir yang absen akibat kelelahan ekstrem di GP Austria, ia juga dihadapkan pada rentetan agenda uji coba ban Pirelli, persiapan wildcard di GP Jepang, hingga tes lanjutan di Sepang. Untungnya, beban kerja Nakagami kini sedikit berkurang setelah Aleix Espargaro dinyatakan pulih dan kembali bergabung dalam program pengujian.

    Dari perbandingan langsung antara dua generasi mesin tersebut, Nakagami secara terbuka mengaku lebih menikmati membesut prototipe 850cc yang dipersiapkan untuk masa depan—termasuk yang nantinya bakal ditunggangi oleh bintang baru Honda, Fabio Quartararo.

    Menurutnya, ada beberapa poin pembeda utama yang membuat motor 850cc terasa jauh lebih menyenangkan:

    • Absennya Perangkat Rear Height Device: Tanpa perlu memikirkan peranti pengubah ketinggian buritan motor, mekanisme balap terasa kembali ke bentuk yang lebih murni dan sederhana.

    • Aerodinamika Lebih Ringkas: Ukuran sayap dan komponen aero yang lebih kecil membuat motor bereaksi secara natural.

    • Karakter Fisik: Motor terasa lebih ringan, lincah, dan memiliki gejala natural pitching yang disukai pembalap.

    • Perbedaan Ban: Nakagami, yang sepandangan dengan test rider KTM Pol Espargaro, menyebut transisi penggunaan ban Pirelli menjadi salah satu faktor paling krusial yang membedakan sensasi berkendara dibanding era sebelumnya.

    “Ya, saya lebih menyukainya dibandingkan 1000cc,” konfirmasi Nakagami. “Anda tidak perlu memikirkan rear height device, jadi lebih sederhana. Ukuran aerodinamikanya juga sedikit lebih kecil, motor terasa lebih natural dan lebih banyak pitching… Saya sangat menikmatinya.”

    Mengenai performa di atas lintasan, Nakagami memilih untuk tidak terlalu terbuka soal catatan waktu lap lantaran fokus utama HRC saat ini masih berpusat pada daftar panjang item pengembangan (testing list). Kendati demikian, ia memberikan sinyal positif bahwa progres sejauh ini berjalan di jalur yang tepat.

    Melalui sesi tes gabungan pabrikan yang kerap dilakukan bersama-sama di Misano dan Mugello, Honda bisa mengukur jarak kompetitif mereka dengan pabrikan rival.

    “Untuk saat ini sulit menilainya secara pasti, tetapi hal yang bagus adalah dalam setiap tes… bukan hanya satu pabrikan yang turun ke trek,” jelas pembalap asal Jepang tersebut.

    “Kami memang belum fokus mengejar catatan waktu lap karena harus mengikuti rencana pengembangan yang panjang. Tapi sejauh ini, kami merasa cukup kompetitif.”

    Last…dengan kembalinya Aleix Espargaro ke garasi pengujian serta kesiapan fisik Nakagami menghadapi rangkaian balapan dan tes non-stop, proyek pengembangan generasi baru Honda menatap paruh akhir musim 2026 dengan optimisme tinggi….(iwb)

  • Jorge Martin akui Lawan Marc Marquez tidak Mudah…” Dia minim Kesalahan !”

    Jorge Martin akui Lawan Marc Marquez tidak Mudah…” Dia minim Kesalahan !”

    Iwanbanaran.com – Cakkk…..Jorge Martin buka suara soal bedanya bertarung lawan Marc Marquez dan Pecco Bagnaia. Jawabannya bikin IWB manggut-manggut cak. Pembalap Aprilia itu sekarang sedang terkunci dalam duel gelar yang super ketat dengan Marquez. Setelah seri Indonesia akhir pekan lalu, jarak keduanya cuma dua poin dengan lima seri tersisa. Ini jarak yang tercatat sebagai rekor untuk dua protagonis gelar sedekat ini di fase akhir musim. Bagi Martin, ini kali ketiga dia bertarung gelar di kelas premier. Tahun 2023 dia kalah dari Bagnaia, tahun 2024 dia balas mengalahkan Bagnaia dan juara. Sekarang lawannya Marquez. Jorge Martin akui Lawan Marc Marquez tidak Mudah…” Dia minim Kesalahan !”

    Ditanya bedanya lawan Marquez vs lawan Bagnaia….“Bagi saya, tidak berubah banyak. Maksud saya, tentu saja ini Marc. Saya punya pengalaman dua gelar [Moto3 dan MotoGP], tapi dia punya pengalaman sembilan. Yang saya lihat, Marc membuat lebih sedikit kesalahan. Setiap hari kamu bikin kesalahan kecil, dia ada di sana untuk mengalahkanmu. Dia selalu ada di sana. Jadi itu memang berbeda. Tapi Saya coba lakukan yang terbaik. Saya tidak bisa melakukan lebih dari yang saya bisa. Dan jujur, menang atau tidak akan jadi konsekuensi dari melakukan segalanya dengan baik.” serunya…

    Marquez Belum Pernah Kalah di Duel Gelar

    Ini statistik yang bikin merinding cak. Hanya dua kali ada pembalap yang mampu menyeret Marquez sampai seri terakhir, dan dua-duanya Marquez tetap juara. Pertama tahun 2013, musim rookie-nya. Keunggulan poinnya tergerus karena diskualifikasi di GP Australia yang dramatis — gara-gara Honda salah hitung kapan dia harus masuk pit ganti motor kedua. Jorge Lorenzo menang di Australia dan Jepang, tapi Marquez tetap juara di Valencia. Kedua tahun 2017, melawan Andrea Dovizioso dari Ducati. Lagi-lagi cak, Marquez menang.

    Ini yang bikin musim 2026 terasa istimewa. Marquez memulai musim dari posisi terlemah. Setelah operasi bahu usai GP Prancis, dia tertinggal 102 poin dari pemimpin klasemen. Sejak itu? Dia menang enam grand prix. Martin? Cuma satu kemenangan sepanjang musim. Jadi cak, bayangkan…Marquez yang awalnya tertinggal 102 poin, sekarang cuma terpaut 2 poin. Itu bukan comeback biasa, itu kebangkitan monster..!!

    Last….Martin adalah pembalap yang konsisten, sabar, dan tidak gampang panik — lihat saja bagaimana dia juara 2024 dengan cuma tiga kemenangan melawan sebelas kemenangan Bagnaia. Tapi melawan Marquez, konsistensi saja tidak cukup cak. Marquez punya naluri pembunuh yang tidak dimiliki Bagnaia. Dia tidak butuh menang setiap minggu, dia cuma butuh sampeyan bikin satu kesalahan kecil, lalu dia hajar. Lima seri sisa. Jarak dua poin. Dan sejarah bilang: Marquez belum pernah kalah kalau duel gelar sampai akhir. Tapi Martin juga bukan pembalap yang mudah goyah cak. Ini bakal jadi lima seri paling mendebarkan dalam sejarah MotoGP modern…. (iwb)

  • Kacauuu…Pirelli di Paksa Tetap terapkan Peraturan ” Tire pressure” di 2027 !!

    Kacauuu…Pirelli di Paksa Tetap terapkan Peraturan ” Tire pressure” di 2027 !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…..kabar kurang enak nih buat sampeyan yang sudah muak dengan drama penalti tekanan ban di MotoGP. Isu tekanan ban kembali panas di Mandalika akhir pekan lalu. Pedro Acosta sampai harus sengaja memperlambat dan turun di belakang Marc Marquez berkali-kali cuma buat menaikkan tekanan ban depannya. Jorge Martin juga kehilangan kemenangan sprint karena masalah serupa. Acosta sampai ngomel cak: “pembalap terlihat seperti keledai.” Celakanya cak….Pirelli ternyata dipaksa akan Tetap terapkan Peraturan ” Tire pressure” di 2027 !! Lhoo kok iso ???

    Biar sampeyan paham, aturan ini lahir setelah tim-tim main di celah regulasi tekanan ban sejak 2022. Atas rekomendasi Michelin, MotoGP akhirnya bikin aturan tegas: pembalap harus menyelesaikan minimal 30% sprint dan 60% balapan utama dengan tekanan ban depan di atas batas minimum 1,8 bar. Kalau gagal? Penalti waktu 8 detik untuk sprint dan 16 detik untuk balapan utama. Nggak heran cak, pembalap jadi sibuk ngatur ban daripada ngatur balapan.

    Pirelli Mau Ubah, Tapi Katanya Dipaksa Tetap Lanjut

    Nah ini bagian pentingnya. Mantan crew chief MotoGP, Ramon Forcada, membocorkan sesuatu di podcast Duralavita. Katanya begini cak: “Dari yang saya dengar, Pirelli ingin melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda. Saya diberitahu oleh Pirelli akan ada regulasi, tapi tidak akan ada penalti pasca-balapan atau perubahan hasil karena tekanan.”

    Caranya sebenarnya gampang menurut Forcada: cek tekanannya sebelum balapan, lalu verifikasi di grid. Masalahnya, verifikasi di grid sangat rumit karena faktor suhu. Analoginya seperti cek bahan bakar cek sejam sebelum balapan, segel tangki, selesai.

    Tapi cak, kenyataannya begini: “[Mereka akan tetap memberi penalti] karena mereka dipaksa. Dan lagipula, saya kira mereka tidak mau masuk seperti banteng di toko pecah belah.”

    Jadi meski Pirelli mau menghapus penalti, mereka terpaksa mempertahankannya demi stabilitas regulasi.

    Pirelli Punya Peluang Lebih Baik

    Sebenarnya cak, Pirelli punya modal bagus. Mereka sudah pasok ban di WorldSBK dan Moto2, dan desain untuk MotoGP kabarnya tidak berbasis keduanya—tapi DNA-nya mirip. Yang bikin optimis: mulai 2027, MotoGP pakai mesin 850cc tanpa ride height device. Artinya beban dan panas pada ban depan bakal lebih terkendali dibanding era sekarang.

    Tapi cak, ada catatan pahit. Michelin sebenarnya sudah berencana bikin ban depan baru untuk 2026 yang bisa menghindari masalah tekanan ini. Prototipe sudah dibawa ke tes Misano 2024, awalnya mau dipakai 2025. Masalahnya, tim cuma menghabiskan setengah jam mengujinya—tidak cukup untuk dipakai dengan aman. Akhirnya ditunda ke 2026, lalu dibatalkan total karena kontrak Michelin tidak diperpanjang.

    Last….andai MotoGP dulu lebih serius melibatkan tim untuk menguji ban itu, drama Mandalika kemarin mungkin tidak perlu terjadi. Sekarang Pirelli masuk dengan niat baik, tapi tetap “dipaksa” meneruskan penalti yang dibenci semua orang. Jadi cak, apakah tahun 2027 nanti tekanan ban masih jadi momok? Jawabannya: kemungkinan besar iya, setidaknya di awal. Semoga Pirelli dan Dorna bisa duduk bareng dan mencari jalan tengah yang tidak bikin pembalap jadi keledai. Btw…Sampeyan setuju penalti tekanan ban dihapus cak? Tulis di komentar! (iwb)

  • Di Keroyok Aprilia…Marc Marquez diprediksi akan keluarkan Jurusnya !!

    Di Keroyok Aprilia…Marc Marquez diprediksi akan keluarkan Jurusnya !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…..seperti yang sampeyan tahu persaingan gelar MotoGP 2026 makin panas cak! Marc Marquez sekarang cuma tertinggal dua poin dari Jorge Martin setelah seri Indonesia di Mandalika akhir pekan lalu. Tapi cak, bukan berarti jalannya mulus. Ada satu orang yang paling tahu kondisi Marc…ya adiknya sendiri, Alex Marquez. Yang terbaru Alex mengatakan…“Dia selamat di Mandalika, tidak diragukan. Saya tidak akan menyebutnya kemenangan, tapi dia keluar dari sirkuit yang sulit baginya dalam keadaan hidup….imbang, 22 poin masing-masing.” serunya. Jadi di Mandalika, Marc dan Martin sama-sama dapat 22 poin. Marc menang sprint, tapi cuma finis keenam di balapan utama. Martin finis keempat dan ketiga. Hasil imbang cak, tidak ada yang untung. Tapi yang bikin saya angkat topi, Marc bisa mengubah sirkuit yang selama ini jadi neraka baginya menjadi hasil yang tetap menjaga peluang juara. Itu bukan keberuntungan cak, itu pengalaman. Di Keroyok Aprilia…Marc Marquez diprediksi akan keluarkan Jurusnya !! Apa gerangan ? berikut penuturan Alex….

    Menurut Alex, Marc tidak sepenuhnya aman. Sebab menurut Alex ada tiga sirkuit di mana Aprilia bakal sangat kuat:

    • Australia (Phillip Island)

    • Qatar (Lusail)

    • Portimao

    Kata Alex: “Pertarungan gelar akan sangat terbuka, meski sekarang kita menuju sirkuit seperti Australia, Qatar dan Portimao, terutama di mana Aprilia bisa tampil sangat baik. Marc harus mengeluarkan trik-triknya…” serunya. Apa maksud trik disini ? apakah jurus pamungkas ?? Dari lima sirkuit sisa, Portimao satu-satunya yang belum pernah dimenangkan Marc. Sisanya…Phillip Island, Sepang, Lusail, Valencia… sudah pernah dia taklukkan.

    Hanya saja posisi Marc akan sulit karena sekarang muncul isu team orders. Aprilia punya dua pembalap di tiga besar: Martin dan Bezzecchi. Bezzecchi tertinggal 46 poin dari Martin. Secara matematis, Bezzecchi masih bisa juara, tapi realistis? Ya harus bantu Martin cak. Aprilia bilang mereka masih menunggu beberapa seri sebelum menerapkan team orders. Alex Marquez punya pendapat menarik:

    “Jelas Aprilia punya ide yang cukup jelas; mereka ingin gelar, dan mereka berbicara dengan semua pembalap. Jadi saya pikir waktunya akan tiba bagi Ducati untuk melakukan hal yang sama, tapi masih agak terlalu dini.” cetusnya.  Artinya cak, Ducati juga bakal main team orders nanti. Tapi Alex bilang, “sekali kita di sana bertarung setiap Minggu, kita akan evaluasi semuanya.” tambahnya…

    Kondisi Klasemen Sekarang

    Pembalap Tim Poin
    Jorge Martin Aprilia Pemimpin
    Marc Marquez Ducati -2
    Marco Bezzecchi Aprilia -46

    Lima seri sisa cak. Setiap poin berharga. Setiap kesalahan bisa jadi bencana.

    Last….Marc Marquez itu pembalap yang paling berbahaya justru saat terpojok. Lihat saja bagaimana dia bertahan di Mandalika. Kalau dia bisa tampil “hidup” di sirkuit yang tidak cocok, apa lagi di Phillip Island, Sepang, dan Valencia yang selama ini jadi kandangnya? Tapi cak, Aprilia musim ini benar-benar serius. Martin konsisten, Bezzecchi siap jadi pendukung. Dan dengan empat pembalap yang bisa menang balapan, strategi team orders bisa jadi penentu. Pertanyaannya cak… apakah jurus pamungkas Marc masih cukup melawan kekuatan Aprilia? jawabannya adalah Lima seri terakhir. Martin atau Marquez? siapa jago sampeyan…monggo Tulis di komentar!

  • Alex Espargaro puji mesin 850cc….MotoGP Bakal Makin Seru ?!

    Alex Espargaro puji mesin 850cc….MotoGP Bakal Makin Seru ?!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Paddock MotoGP dipastikan bakal mengalami perombakan besar-besaran pada musim 2027 mendatang. Tidak hanya soal perubahan kapasitas mesin dari 1000cc menjadi 850cc dan masuknya pemasok ban baru Pirelli, tetapi juga perombakan radikal pada format pekan balap. Mantan pembalap Aprilia yang kini menjadi test rider Honda HRC, Aleix Espargaro, memberikan pandangan menariknya usai menjajal prototipe anyar tersebut. Menurutnya, regulasi baru ini akan menyajikan dua sisi mata uang: balapan yang dipenuhi lebih banyak drama, namun di sisi lain menjadi jauh lebih aman bagi para pembalap. Yup…Alex Espargaro puji mesin 850cc….MotoGP Bakal Makin Seru ?!

    Salah satu poin krusial pada 2027 adalah hadirnya sesi kualifikasi khusus Sprint Race berdurasi 15 menit pada Jumat sore. Dengan 22 pembalap yang memburu waktu dalam durasi super singkat, risiko terjadinya yellow flag hingga lalu lintas padat (traffic) di lintasan bakal makin tinggi.

    “Nanti tidak akan mudah melakukan time attack 15 menit dengan 22 pembalap di lintasan. Pasti akan banyak drama, pembalap-pembalap top bisa saja harus mengawali balapan dari posisi 15 atau 20. Bagi kejuaraan dan penonton ini bagus, tapi bagi pembalap tentu sangat stres,” ungkap Aleix.

    Kondisi ini diprediksi akan mengacak-acak peta persaingan. Pembalap papan atas tidak lagi bisa bersantai karena kesalahan kecil di sesi kualifikasi singkat akan langsung melempar mereka ke barisan belakang.

    Meski format balap makin menekan mental, Aleix menegaskan bahwa dari sisi teknis kendaraan, regulasi 2027 justru jauh lebih ramah dan aman bagi keselamatan pembalap. Pengalamannya menguji prototipe mesin 850cc berbalut ban Pirelli memberikan impresi yang sangat positif. Turunnya kapasitas mesin otomatis memangkas top speed dan tenaga brutal yang selama ini menguras fisik rider. Selain itu, karakter ban Pirelli dinilai sangat bersahabat.

    “Soal keselamatan, ini jauh lebih baik. Ban baru sangat, sangat mudah dikendalikan (super easy to ride), dan motornya juga lebih lambat. Jujur saya pribadi lebih menyukai tenaga ekstra mesin 1000cc, tapi jika bicara keselamatan pembalap, paket baru ini jelas sebuah peningkatan,” tambahnya.

    Last….Menjawab kekhawatiran bahwa banyaknya sesi kualifikasi akan meningkatkan angka kecelakaan akibat aksi time attack berlebih, pihak Dorna dan FIM telah menyiapkan aturan pembatasan ban baru. Di regulasi baru nanti, pembalap hanya diberi alokasi satu set ban baru per sesi kualifikasi. Artinya, jumlah percobaan time attack sepanjang akhir pekan justru berkurang menjadi 2-3 kali saja, lebih sedikit dibandingkan regulasi saat ini yang bisa mencapai 4 kali atau lebih. Perubahan besar ini membuktikan bahwa MotoGP sedang bergerak menuju era baru: menyajikan tontonan yang jauh lebih dramatis bagi fans, tanpa mengorbankan keselamatan para pembalapnya di atas lintasan. Kita tunggu persaingan era baru 850cc nanti cakkk! (IWB)

  • Ducati mengendus…Aprilia akan lakukan Team Order ?!

    Ducati mengendus…Aprilia akan lakukan Team Order ?!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Menyusul dominasi luar biasa Aprilia di Grand Prix Indonesia (Mandalika)—di mana pabrikan asal Noale tersebut sukses menyapu bersih posisi empat besar—persaingan perebutan gelar juara dunia MotoGP semakin memanas. Jorge Martin kembali merebut puncak klasemen sementara, unggul tipis dari rival utamanya, Marc Márquez (Ducati Lenovo). Situasi ketat ini memicu komentar dari kubu rival. Manajer Tim Ducati Corse, Davide Tardozzi, menyatakan bahwa pihaknya “tidak punya keraguan sama sekali” bahwa Aprilia pada akhirnya akan menerapkan instruksi tim (team orders) demi mengamankan titel juara dunia untuk Jorge Martin…!!

    Menyusul performa luar biasa pabrikan asal Noale, Aprilia, yang sukses menyapu bersih posisi empat besar di Grand Prix Mandalika, peta persaingan perebutan gelar juara dunia MotoGP semakin memanas. Jorge Martin kembali merangsek ke puncak klasemen sementara, unggul tipis dari rival utamanya, Marc Márquez yang membela kubu Ducati. Situasi genting ini memantik komentar menohok dari Manajer Tim Ducati Corse, Davide Tardozzi. Ia secara terbuka menyatakan bahwa Ducati sama sekali “tidak punya keraguan” bahwa Aprilia pada akhirnya akan mengaktifkan team orders (instruksi tim) demi mengamankan titel juara dunia pertama bagi Martin.

    Menurut Tardozzi, dengan kedigdayaan motor RS-GP di paruh musim ini dan tensi pertarungan poin yang begitu ketat melawan Márquez, memberlakukan arahan internal adalah keputusan strategis yang paling rasional. Ia menilai bahwa ketika sebuah pabrikan memiliki peluang emas merebut titel juara dunia pebalap, membiarkan para pebalapnya saling bunuh di lintasan pada seri-seri pemungkas adalah tindakan yang kurang bijak secara manajemen tim.

    “Menurut saya itu hal yang sangat logis dan wajar dilakukan. Jika saya berada di posisi manajemen Aprilia saat ini, saya juga pasti akan mengambil keputusan yang sama,” ujar Tardozzi.

    Aprilia saat ini memang memiliki kedalaman skuad yang sangat kuat di barisan depan, termasuk pebalap seperti Marco Bezzecchi, Raúl Fernández, dan Ai Ogura yang mampu mengamankan posisi penting. Di sisi lain, Ducati sendiri berada dalam posisi serupa, di mana pebalap satelit maupun pabrikan seperti Francesco Bagnaia, Franco Morbidelli, hingga Fermín Aldeguer secara matematis dapat dikerahkan untuk membantu pertahanan poin Márquez jika dibutuhkan.

    Last….Meskipun kubu rival menganggap team orders sebagai keniscayaan, pihak internal Aprilia—termasuk CEO Massimo Rivola dan Direktur Teknik Fabiano Sterlacchini—sebelumnya bersikeras mempertahankan filosofi free to race (bebas membalap). Mereka mengeklaim ingin membiarkan para pebalapnya bertarung secara sportif di atas lintasan selama peluang matematis secara adil masih terbuka bagi siapa saja.Namun, dengan sisa beberapa balapan penutup musim dan tekanan masif dari Marc Márquez yang terus memangkas jarak poin, manajemen Aprilia diprediksi harus segera menarik garis tegas. Dalam satu atau dua balapan ke depan, instruksi dari pit wall tampaknya tak terelakkan demi memastikan trofi juara dunia tidak lepas dari genggaman Martin….(iwb)

  • Blak-Blakan…Akhirnya Aprilia akui siapkan “Team Order” Kalahkan Marquez !!

    Blak-Blakan…Akhirnya Aprilia akui siapkan “Team Order” Kalahkan Marquez !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Dominasi luar biasa pabrikan Aprilia di Grand Prix Indonesia (Mandalika)—dengan menyapu bersih posisi empat besar—ternyata menyisakan pekerjaan rumah yang pelik bagi manajemen tim. Di tengah persaingan ketat perebutan gelar juara dunia MotoGP antara Jorge Martin dan Marc Márquez, Direktur Teknik Aprilia, Fabiano Sterlacchini, mengisyaratkan bahwa pabrikan asal Noale tersebut akan segera menetapkan tenggat waktu untuk menerapkan team orders (instruksi tim). Yeess cakkk….Blak-Blakan…Aprilia akui siapkan team Order Kalahkan Marquez !!

    Meskipun CEO Aprilia Massimo Rivola sebelumnya menegaskan bahwa prinsip free to race (bebas membalap tanpa intervensi) masih berlaku, Sterlacchini mengakui bahwa tensi persaingan gelar yang semakin mengerucut membuat kebijakan netral tersebut tidak bisa dipertahankan selamanya. Sterlacchini menegaskan bahwa manajemen harus bersikap realistis demi mengamankan kepentingan besar pabrikan di sisa musim.

    “Ini bukanlah waktu yang tepat untuk instruksi tim saat ini; kami akan memberikan diri kami waktu 1 hingga 2 seri ke depan, lalu kami harus menarik garis tegas dan mulai memberlakukannya; itu sudah menjadi bagian dari olahraga ini,” ujar Sterlacchini.

    Pernyataan ini mengindikasikan bahwa balapan-balapan berikutnya di kawasan Asia dan tur penutup musim bakal menjadi penentu krusial kapan Aprilia harus mulai mengorbankan peluang pebalap lain demi mengamankan poin maksimal bagi Jorge Martin.

    Dilema Kompleks dan Potensi Gesekan di Garasi

    Pemberlakuan team orders di tubuh Aprilia bukanlah perkara mudah karena beberapa faktor internal yang rumit:

    1. Potensi Saling Sikut Antar-Pebalap RS-GP: Kecepatan motor Aprilia RS-GP membuat para pengendaranya—termasuk Marco Bezzecchi yang sukses menjuarai balapan di Mandalika, serta dua rider tim satelit Trackhouse Racing, Raúl Fernández dan Ai Ogura—sering kali bertarung sengit di barisan depan. Insiden bentrokan di tikungan pertama saat Sprint Race Mandalika antara Bezzecchi dan Fernández menjadi bukti nyata tingginya risiko jika pebalap mereka dibiarkan bertarung tanpa batasan.

    2. Status Jorge Martin yang Akan Hengkang: Situasi ini semakin pelik karena Jorge Martin dipastikan akan pindah ke Yamaha pada musim 2027, sementara Marco Bezzecchi diikat kontrak jangka panjang oleh Aprilia. Mengarahkan seluruh sumber daya tim untuk memenangkan pebalap yang akan hengkang, di sisi lain, menguji komitmen internal pabrikan terhadap pebalap masa depan mereka.

    Last…dengan sisa lima seri penutup musim dan ancaman konsisten dari Marc Márquez di papan atas klasemen, jendela bagi Aprilia untuk bersikap netral kian menyempit. Keputusan akhir diprediksi bakal segera diambil usai rangkaian balapan di luar Eropa dalam waktu dekat demi memastikan trofi juara dunia mendarat di Noale….(iwb)

  • Kemarahan Marquez terhadap Dorna di Mandalika…Denda Besar ancam Marc ?!

    Kemarahan Marquez terhadap Dorna di Mandalika…Denda Besar ancam Marc ?!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Dorna Sports dan FIM resmi memperketat aturan komersial dan promosi bagi para pebalap MotoGP. Regulasi baru ini menetapkan sanksi tegas—mulai dari denda finansial hingga penalti Grid—bagi pebalap yang absen dalam agenda Public Relations (PR), sesi penandatanganan autograf, atau wawancara media wajib tanpa alasan medis yang sah. Kebijakan baru ini langsung menuai reaksi keras dari juara dunia delapan kali, Marc Marquez. Marquez menyuarakan kritik tajamnya terhadap cara organisasi balap memperlakukan para atlet profesional di ajang kasta tertinggi kejuaraan dunia ini…!!!

    Organisasi penyelenggara MotoGP, Dorna Sports, resmi memperketat kewajiban komersial dan kegiatan Public Relations (PR) bagi para pebalap. Mulai seri GP Indonesia di Mandalika, Dorna memberlakukan aturan kaku yang mengancam pebalap dengan denda finansial awal sebesar €5.000 (sekitar Rp85–100 juta) hingga ancaman sanksi olahraga (sporting penalties) jika mangkir dari agenda promosi wajib. Sepertinya regulasi ini membidik Marc yang dianggap mangkir dari agenda yang dibuat Dorna seperti Karting di Motegi (menggunakan stuntman) serta Hero Walk di Indonesia yang hanya menyapa penggemar dengan melambaikan tangan kurang dari 30 detik langsung berlalu. Dan bisa ditebak cak…..Kebijakan ini langsung memicu kritik pedas dari juara dunia delapan kali, Marc Marquez. …

    Detail Aturan Denda €5.000 dan “Hero Walk”

    Pemicu utama dari kebijakan anyar ini adalah kepatuhan pada sesi Hero Walk—agenda interaksi dan penandatanganan autograf bagi penggemar yang digelar pada Minggu pagi sebelum balapan. Regulasi baru menetapkan:

    1. Aturan Minimal Waktu: Setiap pebalap diwajibkan berada di area Hero Walk minimal selama 10 menit.

    2. Denda Finansial Akumulatif: Pelanggaran pertama atau ketidakhadiran tanpa alasan medis sah akan langsung dijatuhi denda €5.000. Nominal denda ini akan terus meningkat untuk pelanggaran berulang (repeated offences).

    3. Ancaman Sanksi Balap: Jika pebalap terus-menerus mengabaikan agenda PR, Dorna dan Stewards memperingatkan bakal menerapkan penalti kompetitif (sporting sanction), seperti hukuman penalti grid saat balapan.

    Dorna menerapkan aturan ini demi meningkatkan keterikatan penggemar (fan engagement) dan memberikan nilai lebih bagi para sponsor kejuaraan. Namun, menurut Marquez, pendekatan pemberlakuan penalti kompetitif untuk pelanggaran non-balap adalah langkah yang keliru.  Marquez menegaskan bahwa para pebalap MotoGP sepenuhnya memahami kewajiban komersial mereka terhadap tim, sponsor, dan penyelenggara. Namun, memperlakukan pebalap dengan ancaman sanksi kaku dinilainya merendahkan profesionalisme yang selama ini dijunjung para atlet.

    “Kami semua di sini adalah profesional dewasa yang memahami tanggung jawab terhadap olahraga ini. Kami tidak perlu diperlakukan seperti anak sekolah yang diancam hukuman jika tidak hadir di kelas,” tegas Marquez mengenai kebijakan tersebut.

    Pebalap asal Spanyol itu menambahkan bahwa jadwal akhir pekan MotoGP saat ini sudah sangat padat dan menguras fisik. Adanya sesi Sprint Race pada hari Sabtu, ditambah serangkaian latihan bebas, kualifikasi, dan pemulihan fisik, membuat waktu istirahat pebalap sangat terbatas. Menambah tekanan mental melalui ancaman hukuman balap untuk urusan promosi dianggap tidak berimbang.

    Meski melayangkan kritik pedas, Marquez bukan berarti menolak interaksi dengan penggemar maupun media. Ia mengakui bahwa promosi dan kehadiran penonton merupakan tulang punggung industri kejuaraan MotoGP modern. Yang ia soroti adalah metode pendekatan Dorna dalam mengeksekusi aturan tersebut. Sebagai solusi, Marquez menyarankan agar komunikasi antara penyelenggara dan pebalap dilakukan melalui dialog yang lebih konstruktif. Penyusunan jadwal kegiatan PR seharusnya mempertimbangkan waktu persiapan teknis serta pemulihan fisik atlet sebelum turun ke lintasan.

    Last….Perdebatan ini membuka ruang diskusi mengenai keseimbangan antara komersialisasi ajang balap dan batas toleransi beban kerja para pebalap. Kebijakan tegas Dorna bertujuan menjaga nilai jual MotoGP di mata sponsor global, namun suara kritis dari figur besar seperti Marc Marquez menjadi peringatan penting agar fokus utama kejuaraan tetap berada pada kualitas performa dan keselamatan pebalap di lintasan. Kalau menurut sampeyan piye cak….wajar nggak Marc marah dengan aturan tersebut ? Monggo berikan opininya…(iwb)

  • Heboh kontroversi Jorge Martin “Jump Start” di Mandalika…kena Penalti ??

    Heboh kontroversi Jorge Martin “Jump Start” di Mandalika…kena Penalti ??

    Iwanbanaran.com – Cakkk…..Dunia maya dihebohkan oleh sebuah rekaman video yang menampilkan pebalap Aprilia, Jorge Martin, melakukan gerakan mencurigakan di grid start sesaat sebelum balapan Grand Prix Indonesia di Sirkuit Mandalika dimulai. Video tersebut langsung memicu perdebatan sengit di media sosial, di mana sebagian penggemar menuduh Martin melakukan jump start (curi start). Apakah Martin terkena Penalti ??

    Dunia balap MotoGP mendadak dihebohkan oleh unggahan rekaman video yang dishare oleh Laura Espargaro, istri dari Aleix Espargaro di Instagram. Video tersebut menampilkan Jorge Martin saat berada di grid start Grand Prix Indonesia di Sirkuit Mandalika. Dalam tayangan tersebut, motor sang pebalap terlihat terus bergerak sesaat sebelum lima lampu merah padam sempurna. Sontak, potongan video itu memicu perdebatan panas di kalangan penggemar balap. Banyak pihak menuding Martin melakukan jump start (mencuri start) dan mempertanyakan keputusan Pengawas Balapan (FIM MotoGP Stewards) yang tidak menjatuhkan sanksi padanya. Namun, jika menelaah Regulasi Kejuaraan Dunia FIM secara mendalam, keputusan stewards meloloskan Martin bukanlah bentuk kelonggaran, melainkan murni kepatuhan pada aturan teknis yang berlaku.

    Kronologi Gerakan di Grid Start

    Kecurigaan publik bermula ketika kamera memantau posisi Martin tepat di barisan depan. Sesaat sebelum lampu merah padam cak, motor Martin mengalami pergeseran ke depan. Para penonton yang menyaksikan tayangan ulang dari sudut pandang tertentu menganggap pergerakan tersebut memberi keuntungan tidak adil bagi Martin untuk melesat lebih awal menuju tikungan pertama. Akan tetapi, yang patut diingat cak…teknologi pemantauan start di MotoGP tidak sekadar mengandalkan pandangan mata telanjang atau sudut kamera siaran TV semata. Setiap motor dilengkapi dengan transponder elektronik bersensitivitas tinggi, ditunjang oleh sistem kamera high-speed khusus yang mengawasi setiap milimeter kotak grid.

    Berdasarkan Buku Regulasi Balap Grand Prix FIM, standar penilaian untuk pelanggaran start didasarkan pada tiga kriteria utama:

    1. Definisi Jump Start: Pelanggaran dicatat apabila sepeda motor sedang bergerak maju pada saat lampu merah padam.

    2. Kondisi Diam (Static State): Kendaraan wajib berada dalam posisi berhenti total saat sinyal start diberikan (lampu merah mati).

    3. Pengecualian Pergerakan Minor (Minor Movement): Jika terjadi pergeseran kecil saat lampu merah masih menyala, tetapi pebalap segera menghentikan kendaraannya kembali sebelum lampu padam—dan posisi ban tidak melewati batas garis kotak grid—gerakan tersebut dapat ditoleransi selama tidak memberikan keunggulan kompetitif.

    Dalam kasus Martin di Mandalika, yang jadi masalah adalah data telemetri dan kamera FIM mengonfirmasi bahwa meskipun motornya sempat merayap sedikit, ia berhasil menghentikan laju motor secara penuh tepat sebelum lampu merah padam. Roda depannya pun tetap berada di dalam zona toleransi garis grid. Oleh karena itu, Martin dinyatakan tidak memperoleh gain atau keuntungan momentum saat melepas kopling….

    Situasi serupa bukanlah hal baru dalam ajang balap Grand Prix. Pada beberapa kesempatan sebelumnya—termasuk insiden yang melibatkan Collin Veijer di kelas Moto2—pebalap yang melakukan gerakan kecil namun sempat berhenti sempurna sebelum aba-aba start diberikan juga dibebaskan dari hukuman. Sebaliknya, sanksi berat berupa Jump Start Penalty (biasanya berupa dua kali Double Long Lap Penalty) baru akan dijatuhkan jika motor masih melaju aktif ketika lampu padam atau jika roda depan terbukti jelas melewati garis grid.

    Last…dengan evaluasi berbasis data objektif ini, FIM menegaskan bahwa tindakan Jorge Martin di Mandalika sepenuhnya legal. Martin pun berhak melanjutkan balapan tanpa penalti, mengamankan poin vital dalam perburuan gelar juara dunia. Sebuah konfirmasi yang juga bikin IWB garuk-garuk kepala karena secara kasat mata entah kenapa Martin memang bergerak melebihi garis start. Piye menurut sampeyan cak ? (iwb)

    Video Martin Jump Start Mandalika ?

  • Prediksi Pecco : Marc Marquez akan kesulitan di Mandalika…!!!

    Prediksi Pecco : Marc Marquez akan kesulitan di Mandalika…!!!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Perebutan gelar juara dunia MotoGP musim ini semakin memanas dan menyisakan enam seri krusial. Pembalap Ducati Lenovo, Francesco “Pecco” Bagnaia, menilai persaingan memperebutkan mahkota juara tahun ini sangat fantastis, dengan peta kekuatan yang bakal terbagi di berbagai karakter sirkuit tersisa bagi dua kandidat teratas: Jorge Martin dan Marc Marquez. Dan menurut Pecco…

    Perebutan gelar juara dunia MotoGP musim ini semakin memanas dan menyisakan enam seri krusial. Pembalap Ducati Lenovo, Francesco “Pecco” Bagnaia, menilai persaingan memperebutkan mahkota juara tahun ini sangat fantastis, dengan peta kekuatan yang bakal terbagi di berbagai karakter sirkuit tersisa bagi dua kandidat teratas: Jorge Martin dan Marc Marquez.

    Usai rangkaian balapan ketat di Grand Prix Jepang, bursa perebutan gelar kian mengerucut. Marc Marquez sukses memangkas jarak poin secara signifikan dan kini hanya terpaut tipis dua angka saja di belakang pimpinan klasemen sementara, Jorge Martin.

    Menanggapi sisa kalender balap yang memasuki fase penentuan, Bagnaia memprediksi bahwa sebagian besar sirkuit yang tersisa akan sangat menguntungkan salah satu dari dua pembalap Spanyol tersebut. Perang taktik dan kecepatan ini akan dimulai akhir pekan ini di Sirkuit Mandalika, Indonesia.

    “Menurut saya ini sangat fantastis. Di Indonesia, bagi Ducati, situasinya akan sangat sulit. Tapi setelah itu kita pergi ke Australia, disana Marc sangat kuat. Jadi persaingan ini akan sangat ketat hingga Valencia. Karena di Malaysia situasinya lebih baik bagi salah satu dari mereka, yaitu Jorge. Tapi kemudian Valencia lebih baik untuk Marc. Jadi ini pertarungan yang sengit di antara mereka, dan saya berharap bisa melihat siapa yang terbaik keluar sebagai pemenang,” serunya…

    Menurut Pecco…karakteristik sirkuit lain yang akan menjadi penentu hingga seri pamungkas di Valencia. Menurutnya, sirkuit di Malaysia lebih cocok dengan gaya balap Jorge Martin, sementara seri penutup di Valencia justru menjadi salah satu teritori terkuat bagi Marc Marquez. Dengan asumsi peta kekuatan tersebut, beberapa venue seperti Qatar dan Portimao diprediksi bakal menjadi trek yang lebih netral bagi kedua kandidat juara. Selisih dua poin saja di puncak klasemen membuat enam balapan terakhir musim ini dipastikan menjadi tontonan wajib yang mendebarkan bagi para pecinta MotoGP di seluruh dunia.

    Last…usai rangkaian balapan ketat di Grand Prix Jepang, bursa perebutan gelar kian mengerucut. Marc Marquez sukses memangkas jarak poin secara signifikan dan kini hanya terpaut tipis dua angka saja di belakang pimpinan klasemen sementara, Jorge Martin. Menanggapi sisa kalender balap yang memasuki fase penentuan, Bagnaia memprediksi bahwa sebagian besar sirkuit yang tersisa akan sangat menguntungkan salah satu dari dua pembalap Spanyol tersebut. Perang taktik dan kecepatan ini akan dimulai akhir pekan ini di Sirkuit Mandalika, Indonesia….(iwb)