Iwanbanaran.com – Cakkk….perjalanan kualifikasi Moto3 di Sirkuit Sachsenring, Jerman, penuh dengan kejutan dramatis bagi pembalap muda andalan Indonesia, Veda Ega Pratama. Setelah sempat mencuri perhatian dunia dengan menjadi yang tercepat di sesi latihan, Veda akhirnya harus puas mengamankan posisi start ke-13 dalam sesi Kualifikasi 2 (Q2).
Sachsenring sebenarnya bukan sirkuit yang asing bagi pemuda asal Gunungkidul ini. Berbekal memori manis di ajang Red Bull Rookies Cup tahun lalu, Veda mengawali rangkaian GP Jerman dengan penuh percaya diri. Pada sesi Practice hari Jumat, ia sukses membuat kejutan besar dengan menorehkan waktu terbaik 1 menit 25,848 detik. Catatan fantastis ini membawanya keluar sebagai pembalap tercepat sekaligus mengamankan tiket lolos otomatis ke babak Kualifikasi 2 (Q2).
Namun, dinamika balapan kelas Moto3 yang sangat ketat kembali menguji konsistensi pembalap bernomor motor 9 ini saat memasuki hari Sabtu ini cak. Pada latihan bebas kedua (FP2), kecepatan motornya belum keluar secara maksimal sehingga ia sempat terlempar ke posisi bawah sebelum akhirnya bersiap tarung di Q2.
Hasil Sengit Sesi Q2 Jerman
Memasuki sesi krusial Q2 untuk memperebutkan posisi start terdepan (pole position), persaingan antar pembalap rookiemaupun veteran berlangsung sangat intens. Veda Ega berupaya keras mempertajam catatan waktunya di sirkuit pendek yang menguras fisik ini.
Pada akhir sesi kualifikasi, Brian Uriarte dari tim Red Bull KTM Ajo sukses mengamankan posisi start terdepan. Sayang Veda Ega Pratama harus puas menempati urutan ke-13 dengan selisih waktu (gap) hanya 0,693 detik dari sang polesitter. Walau meleset dari target barisan depan (front row), posisi start di baris kelima ini tetap membuka peluang besar bagi Veda untuk merangsek ke zona poin saat balapan utama.
Menariknya, rival sekaligus rekan sesama pembalap Asia Tenggara, Hakim Danish asal Malaysia, berhasil tampil cemerlang di kualifikasi kali ini dengan mengamankan posisi start ke-3.
Berikut adalah gambaran posisi 5 besar hasil Q2 Moto3 Jerman beserta posisi Veda Ega:
Fokus Balapan Utama: Karakter Sirkuit Sachsenring yang mengalir dengan dominasi tikungan kiri menuntut manajemen ban yang cerdas. Start dari posisi ke-13 berarti Veda harus melakukan awalan yang agresif sejak lampu start padam demi menghindari kepadatan di tikungan-tikungan awal.
Last…Balapan utama Moto3 Jerman akan berlangsung sepanjang 23 putaran (lap). Ini menjadi kesempatan emas bagi pembalap berusia 17 tahun tersebut untuk bangkit membayar kegagalan finis (DNF) pada seri sebelumnya di Assen, sekaligus menambah pundi-pundi poin penting di klasemen kejuaraan dunia Moto3 2026. Veda Start P13…..tantangan besar Mendobrak KTM !! semoga bisa cak…(iwb)


Iwanbanaran.com – Cakk….Sesi Latihan Bebas Pertama (FP1) MotoGP Jerman yang berlangsung di Sirkuit Sachsenring menyajikan kejutan sekaligus drama. Pembalap Trackhouse Aprilia, Raul Fernandez, berhasil keluar sebagai yang tercepat setelah mencatatkan waktu terbaik di menit-menit akhir sesi, mengungguli sang “King of Sachsenring”, Marc Marquez yang crash. Waduhhh….
Marquez kembali ke lintasan dan bahkan sempat memimpin lembaran waktu dengan catatan 1 menit 20,880 detik di sisa 25 menit sesi. Ia akhirnya menyudahi FP1 di posisi kedua, terpaut tipis 0,051 detik dari Fernandez, sebuah catatan impresif mengingat Marquez tidak melakukan pergantian ke ban baru di akhir sesi.
Sementara itu, Jack Miller (Pramac) melengkapi posisi lima besar. Pimpinan klasemen sementara, Jorge Martin (Aprilia), harus puas berada di posisi ke-10 pada sesi pembuka ini. Nasib kurang beruntung dialami Maverick Vinales (Tech3 KTM) yang mengalami kecelakaan hebat di Tikungan 11 pada pertengahan sesi, namun beruntung ia bisa berjalan tanpa cedera serius dan finis di posisi ke-11.
Hasil 10 Besar FP1 MotoGP Jerman:


Iwanbanaran.com – Cakkk….Akhir pekan ini (10–12 Juli 2026), perhatian seluruh pencinta balap motor dunia akan tertuju penuh pada Sirkuit Sachsenring, Jerman. Trek ikonik yang melingkar berlawanan arah jarum jam ini bukan sekadar balapan biasa bagi seorang Marc Marquez, melainkan sebuah panggung di mana sejarah besar berpotensi kembali ditulis ulang oleh Marc. Yup…Tatap GP Jerman: Peluang Emas Marc Marquez Samai Rekor Kemenangan Bersejarah Giacomo Agostini !!
Angka 9 kemenangan ini akan membawa Marquez menyamai rekor legendaris milik Giacomo Agostini, pemegang gelar juara dunia terbanyak dalam sejarah. Agostini merupakan satu-satunya pembalap dalam sejarah grand prix yang mampu memenangkan 9 balapan kelas premier di satu lintasan yang sama, yang ia cetak di sirkuit Imatra (Finlandia) dan sirkuit Spa-Francorchamps (Belgia).
Domenicali juga menegaskan bahwa hingga saat ini, sama sekali tidak ada pembahasan internal di Borgo Panigale mengenai rencana penjualan perusahaan. Walaupun secara teori keputusan untuk membeli atau menjual sebuah brand sepenuhnya merupakan hak prerogatif pemilik saham sesuai dengan kebutuhan korporasi mereka, posisi Ducati saat ini tergolong sangat aman.
“Di Assen kami sudah tahu sejak awal bahwa kami harus menahan diri dan menderita, tetapi kami tetap berhasil mengendalikan situasi dan membawa pulang poin penting untuk kejuaraan,” ungkap Marc Marquez menjelang GP Jerman.
Meski begitu, sirkuit ini tetap menyajikan tantangan teknis tinggi lewat tikungan kanan menurun yang sangat ikonik dan ekstrem bernama ‘The Waterfall’ pada T11, sebuah turunan tajam yang menuntut fokus penuh serta stabilitas motor yang tinggi.
Meskipun Bagnaia sempat memenangkan GP Jerman pada tahun 2024 lalu—memanfaatkan jatuhnya Jorge Martin di dua lap terakhir saat memimpin balapan—Pecco secara terbuka mengakui bahwa Sachsenring bukanlah sirkuit favoritnya.



Menurut Bulega, keunggulan Acosta terletak pada bagaimana pembalap berjuluk The Shark of Mazarron tersebut memanfaatkan berat badannya untuk memanipulasi motor. Acosta adalah produk murni dari evolusi berkendara modern:
Last…Analisis Nicolo Bulega bukan berarti mengecilkan status Marc Marquez sebagai salah satu pembalap terbaik sepanjang masa. Marquez tetap menjadi master dalam pengelolaan ban, taktik balapan, dan kecepatan menikung murni dalam kondisi sulit. Namun, komentar Bulega menegaskan satu hal penting: Pedro Acosta adalah cetak biru pembalap masa depan. Kemampuannya mengungguli Marquez dalam hal efisiensi dan kecepatan change of direction menunjukkan bahwa transisi generasi di MotoGP bukan lagi sekadar prediksi, melainkan realitas teknis yang sedang terjadi di atas aspal sirkuit. Nahh kalau sampeyan sendiri piye cak…setuju nggak dengan opini Bulega ?? (iwb)
Iwanbanaran.com – Cakkk….Setelah resmi mengamankan masa depannya lewat perpanjangan kontrak multi-tahunan bersama tim pabrikan Ducati, Marc Marquez kini berada di posisi yang sangat strategis untuk memecahkan rekor-rekor terbesar dalam sejarah MotoGP. Sang juara bertahan kini hanya butuh satu gelar juara dunia lagi di kelas utama untuk menyamai rekor legendaris Giacomo Agostini (8 gelar), dan terpaut 14 kemenangan dari rekor kemenangan sepanjang masa milik Valentino Rossi (89 kemenangan). Dengan posisinya ini Marquez akui masih haus kemenangan…Waahh ikiii !!
Meskipun memprioritaskan kebahagiaan dan kesehatan mental di atas lintasan, bukan berarti insting “predator” Marc Marquez telah tumpul. Pembalap bernomor start #93 ini menegaskan bahwa dirinya akan tetap menuntut performa maksimal dari dirinya sendiri.
Iwanbanaran.com – Cakkk….Red Bull KTM Factory Racing resmi mengumumkan rekrutan terbaru mereka untuk menghadapi era baru regulasi MotoGP pada tahun 2027. Pabrikan asal Austria tersebut sukses mengamankan tanda tangan Fabio Di Giannantonio dengan kontrak multi-tahun (multi-year deal). Pengumuman ini sekaligus melengkapi susunan pembalap di garasi utama KTM, di mana pembalap yang akrab disapa “Diggia” tersebut akan bertandem dengan Alex Marquez, yang kesepakatannya juga diumumkan di hari yang sama. Mengejutkan !!
Direktur Motorsports KTM, Pit Beirer, mengungkapkan alasan kuat di balik keputusan mereka memboyong pembalap bernomor start #49 tersebut. Menurutnya, konsistensi Diggia di barisan depan menjadi faktor penentu.