Category: Motogp

  • Ngeriii cakkk!! Detik-detik Alex Marquez Alami Crash Horor di Barcelona, Divonis Patah Tulang Selangka dan Leher C7!

    Ngeriii cakkk!! Detik-detik Alex Marquez Alami Crash Horor di Barcelona, Divonis Patah Tulang Selangka dan Leher C7!

    Iwanbanaran.com – Cakkk… Sumpah cakk, balapan MotoGP Catalunya kemarin bener-bener bikin jantungan! Gimana nggak, balapan utama yang penuh drama dan sampai dihentikan (red flag) dua kali ini memakan korban cukup parah. Salah satunya adalah pemenang Sprint Race hari Sabtu, Alex Marquez (Gresini Racing), yang harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami kecelakaan super mengerikan di lap ke-12. Kabar terbaru yang masuk ke meja IWB, adik Marc Marquez ini divonis mengalami patah tulang leher dan selangka. Gustiii… ngeri tenan cakk!

    Semua bermula saat Alex Marquez lagi on fire bertarung di barisan depan demi memperebutkan podium tertinggi. Lha kok ndilalah, tepat di depannya, motor KTM milik Pedro Acosta tiba-tiba mengalami masalah teknis yang bikin laju motornya mendadak melambat secara drastis setelah menikung menuju Tikungan 10.

    Dalam kecepatan yang masih sangat tinggi, Alex Marquez yang berada persis di belakang Acosta nggak punya ruang lagi untuk menghindar, duarrrr ! Senggolan minor tak terelakkan. Alex langsung kehilangan kendali atas Ducati Desmosedici GP miliknya. Motor meluncur liar ke area rumput dan gravel, lalu melempar Alex ke udara alias mengalami high-side yang sangat keras!

    Sampeyan kalau nyawang videonya pasti ngilu. Alex terlempar dan menghantam tanah dengan keras (untung nggak sampai menghantam dinding pembatas sirkuit), sementara motor Ducatinya terbanting-banting di gravel sampai hancur berhamburan gak berbentuk. Hanya menyisa sasis utama doang. Gila, ngeri bener!

    Petugas medis langsung bergerak cepat memberikan pertolongan pertama di lokasi kejadian dalam waktu yang cukup lama. Setelah dipastikan sadar, Alex langsung dievakuasi menggunakan ambulans menuju Medical Center sirkuit, sebelum akhirnya ditransfer ke Hospital General de Catalunya demi evaluasi total menggunakan mesin pemindai.

    Nah, dari rilis resmi tim Gresini Racing yang IWB terima, hasil rontgen dan CT scan menunjukkan cedera yang cukup serius. Alex Marquez didiagnosis mengalami dua patah tulang:

    1. Fraktur pada tulang selangka kanan (Right Clavicle).

    2. Fraktur marginal kecil pada tulang belakang leher C7 (vertebra leher bagian bawah).

    Untuk tulang selangkanya, tim medis bergerak cepat dan menjadwalkan tindakan operasi tadi malam untuk memasang plat (screws and plate) agar posisinya kembali stabil. Sementara untuk fraktur di bagian leher C7, tim dokter masih memantau ketat dan membutuhkan “evaluasi lebih lanjut” dalam beberapa hari ke depan guna memastikan tindakan pemulihan yang paling aman.

    Meskipun habis mengalami kecelakaan horor, mentalitas pembalap Spanyol ini pancen jempolan, cakk. Melalui akun media sosial pribadinya, Alex langsung menyapa para fans dari ranjang rumah sakit dengan nada optimistis:

    “Semua kendali berada di bawah pengawasan!! Saya akan menjalani operasi malam ini, tetapi saya berada di tangan tim medis terbaik. Terima kasih banyak atas perhatian dan semua pesan baik yang saya terima ,” tulis Alex Marquez.

    Last….Jelas ini pukulan telak buat Gresini Racing, padahal Alex baru aja mencetak hasil manis menang di Sprint Race sehari sebelumnya. Balapan Catalunya sendiri akhirnya dimenangkan oleh Fabio Di Giannantonio (Pertamina Enduro VR46) setelah drama red flag kedua akibat crash massal yang melibatkan Johann Zarco, Luca Marini, dan Pecco Bagnaia. Belum ada rilis resmi kapan Alex Marquez bisa kembali mengaspal di atas jok motor. Namun yang pasti, cedera tulang leher C7 membutuhkan waktu recovery yang nggak main-main dan bakal jadi faktor penentu berapa lama doi absen. Kita doakan saja semoga Alex Marquez cepat sembuh dan bisa balapan lagi. GWS Alex ! (iwb)

  • Veda Ega Menggila di Catalunya…Meroket dari Grid 20 hingga Amankan Finis Ke-8!

    Veda Ega Menggila di Catalunya…Meroket dari Grid 20 hingga Amankan Finis Ke-8!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Veda Ega Pratama, kembali menunjukkan performa luar biasa dalam ajang balap internasional kelas Moto3 di Monster Energy Grand Prix of Catalonia. Mengawali balapan dari posisi yang kurang menguntungkan, pembalap andalan Honda Team Asia ini berhasil melakukan comeback fantastis dan finis di zona poin penting. Asli cakk…ini luarrr biasaaaa !!!

    Sesi kualifikasi yang menempatkannya di urutan ke-20 pada starting grid tentu menjadi tantangan besar bagi Veda. Memulai balapan sepanjang 18 lap di Circuit de Barcelona-Catalunya dari barisan belakang membutuhkan fokus tinggi dan strategi yang matang. Namun, modal tersebut terbukti dimiliki oleh pembalap bernomor motor 9 ini.

    Sejak lampu hijau menyala, Veda langsung tampil agresif namun tetap terukur. Lap demi lap ia gunakan untuk memangkas jarak dengan pembalap di depannya. Di sirkuit sepanjang 4.657 meter yang terkenal teknis ini, ia berhasil melewati satu per satu rivalnya dengan aksi overtake yang bersih

    Ritme Balap Konsisten dan Catatan Waktu Impresif

    Kunci utama dari keberhasilan Veda menembus posisi 8 besar adalah konsistensi kecepatannya di atas lintasan. Berdasarkan data resmi Tissot, Veda mencatatkan waktu lap terbaik pribadinya pada lap ke-3 dengan torehan 1 menit 47,577 detik. Catatan waktu ini menempatkannya sebagai salah satu pembalap dengan kecepatan satu lap (fastest lap) yang sangat kompetitif di antara barisan depan, hanya terpaut 0,325 detik dari lap tercepat balapan yang dicetak oleh David Almansa.

    Kecepatan motor Honda tunggangannya juga sangat stabil, di mana ia mampu mencatatkan total waktu balapan 32 menit 29,948 detik, atau hanya berselisih kurang dari satu detik (0,984 detik) dari sang juara seri, Maximo Quiles. Persaingan yang sangat ketat di grup depan memperlihatkan betapa matangnya mental bertarung Veda di atas lintasan.

    Veda mencatatkan waktu lap yang sangat konsisten di kisaran 1 menit 47,5 detik hingga 1 menit 48,1 detik. Berikut perbandingan lap time Veda dengan pemenang balapan (Quiles):

    Lap ke- Veda Pratama Maximo Quiles Selisih
    2 1’47.633 1’48.606 -0.973
    3 1’47.577 1’48.605 -1.028
    4 1’47.929 1’48.394 -0.465
    5 1’47.860 1’47.859 -0.001
    6 1’47.663 1’47.734 -0.071
    7 1’47.890 1’48.629 -0.739
    8 1’47.964 1’48.027 -0.063

    Veda bahkan sempat mencatatkan waktu lap yang lebih cepat dari pemenang di beberapa lap awal. Ini menunjukkan bahwa ia memiliki kecepatan setara dengan para pembalap papan atas

    Perbandingan dengan Rekan Setim

    Pembalap Posisi Start Posisi Finish Poin
    Veda PRATAMA 20 8 8
    Zen MITANI 23 22 0

    Data Menarik: Kompetisi yang Super Ketat

    Metrik Data
    Gap Veda ke Pemenang +0,984 detik
    Gap P1 ke P8 (Veda) Kurang dari 1 detik
    Gap P1 ke P15 (Yamanaka) Kurang dari 10 detik

    Dalam 1 detik saja, terdapat 8 pembalap yang bersaing ketat di garis finis. Ini adalah salah satu balapan dengan persaingan terketat musim ini. Hampir seluruh pembalap Top 15 saling berhimpitan!

    Analisis: Comeback Luar Biasa

    Aspek Performa Veda Analisis
    Start Posisi 20 Start dari baris ketujuh (sangat tidak ideal)
    Posisi Akhir Posisi 8 Naik 12 posisi!
    Gap ke P1 +0.984 detik Hanya terpaut kurang dari 1 detik dari pemenang
    Rekan Setim Zen Mitani (P22, +27.942 detik) Veda unggul sangat jauh dari rekannya sendiri

    Strategi dan Keunggulan Veda

    1. Start Bukan Segalanya
      Start di posisi buncit tidak menghentikan Veda. Ia membuktikan bahwa di Moto3, siapa yang paling berani dan cerdaslah yang akan menang, bukan hanya siapa yang start di depan.

    2. Kemampuan Mengejar yang Tinggi
      Naik 12 posisi dalam balapan yang kompetitif menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan membaca balapan dengan baik, memanfaatkan slipstream, serta mengambil risiko di saat yang tepat.

    3. Mental Baja
      Kegagalan di kualifikasi seringkali menjadi pukulan mental bagi pembalap. Namun, Veda menunjukkan mental juara dengan tetap fokus dan mampu finis di zona poin.

    4. Sisa Pekerjaan Rumah
      Pekerjaan besar tetap ada: kualifikasi. Jika ia bisa start di baris depan (P1-P8), bukan tidak mungkin ia akan bersaing untuk podium atau bahkan kemenangan.

    Last….dengan finis di posisi ke-8, pembalap kebanggaan tanah air ini berhak membawa pulang tambahan 8 poin berharga. Tambahan poin dari Catalunya ini membuat posisi Veda Ega Pratama semakin kokoh di peringkat ke-5 klasemen sementara World Championship dengan total raihan 58 poin. Hasil ini sekaligus membawa kontribusi besar bagi negaranya dan tim Honda Team Asia yang terus berjuang di papan atas klasemen kejuaraan tim dunia. Performa impresif di Catalonia menjadi bukti nyata bahwa posisi start yang jauh di belakang bukanlah halangan bagi Veda Ega Pratama untuk bisa bersaing dengan pembalap-pembalap terbaik dunia. Luarrr biasaaaaaa Vedaaa …(iwb)

  • Massimo Meregalli Akui Proyek V4 Yamaha “Lebih Sulit dari Perkiraan” !!

    Massimo Meregalli Akui Proyek V4 Yamaha “Lebih Sulit dari Perkiraan” !!

    Iwanbanaran.com – Cakkkk….Bos tim MotoGP Yamaha, Massimo Meregalli, mengakui bahwa pengembangan proyek mesin V4 berjalan lebih sulit dari yang ia bayangkan. Dalam pernyataan jujurnya usai tes resmi di Jerez, ia mengungkapkan rasa frustrasi sekaligus optimisme bahwa masa depan masih bisa lebih baik….

    Musim 2026 adalah tahun pertama Yamaha menggunakan mesin V4 setelah bertahun-tahun setia dengan konfigurasi inline-4. Harapannya, dengan mengikuti arus mayoritas pabrikan lain (Ducati, Aprilia, KTM), Yamaha bisa kembali bersaing di papan atas.

    Namun, kenyataan berkata lain. Hingga seri keempat (Spanyol), Yamaha hanya mengoleksi 14 poin —jauh di bawah capaian periode yang sama tahun lalu (42 poin). Fabio Quartararo, yang tahun lalu masih bisa naik podium di Jerez, kali ini finis lebih dari 30 detik dari pemenang.

    “Saya Kira Akan Lebih Mudah”

    Meregalli tidak menutupi keterkejutannya atas beratnya jalan yang harus dilalui timnya.

    “Tentu saja kami sadar ini tidak akan mudah. Tapi saya harus akui, saya pikir proyek ini akan sedikit lebih mudah dari yang terjadi. Sayangnya, kami menghadapi jalan yang mungkin tidak kami duga, yang sedikit memperlambat proses pengembangan.”

    Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Yamaha menemui “batu sandungan” tak terduga dalam transisi dari inline-4 ke V4. Apakah itu masalah getaran? Distribusi bobot? Atau integrasi dengan elektronika? Meregalli tidak merinci.

    Atmosfer Tim Masih Baik

    Meski hasil di lintasan buruk, Meregalli menegaskan bahwa suasana di dalam tim tetap positif.

    “Tim sendiri terus berusaha semaksimal mungkin. Dan atmosfernya, menurut saya, masih baik. Ketika ada sesuatu yang baru, itu sudah membawa positif dan menjadi dorongan tambahan.”

    Ia juga realistis bahwa bagian awal musim ini memang sudah diprediksi akan sulit.

    “Kami semua sadar, sejak memulai musim ini, kami berpikir—dan berbicara secara internal— bahwa bagian pertama akan berat. Tapi kami tetap percaya di paruh kedua kami mungkin akan mulai melihat hasil yang berbeda.”

    Dampak: Quartararo Pergi, Martin & Ogura Datang

    Kinerja buruk Yamaha di awal musim V4 ini menjadi salah satu pemicu hengkangnya Fabio Quartararo ke Honda pada 2027. Pembalap Prancis itu frustrasi dengan kurangnya progres.

    Namun, Yamaha tidak tinggal diam. Mereka telah mengamankan Jorge Martin dan Ai Ogura untuk musim depan—sebuah sinyal bahwa pabrikan Jepang ini masih dipercaya oleh pembalap top.

    Strategi ke Depan

    Meregalli menolak terburu-buru. Baginya, proyek V4 ini adalah maraton, bukan sprint.

    “Kita baru di awal, dan sejauh ini kami berada di posisi yang kami kira bisa kami capai. Kami masih percaya di paruh kedua musim ini kami akan mulai melihat hasil yang berbeda.”

    Yamaha berharap peningkatan yang diuji di tes Jerez (termasuk aerodinamika dan setup mesin) bisa membuahkan hasil di seri Eropa berikutnya, seperti Le Mans dan Mugello.

    Last….Pengakuan jujur Meregalli bahwa proyek V4 Yamaha “lebih sulit dari perkiraan” adalah cerminan realita di paddock. Transisi teknologi yang radikal tidak pernah mudah, bahkan untuk pabrikan sekelas Yamaha. Pertanyaan besarnya… Akankah Yamaha bisa bangkit di paruh kedua musim seperti yang diharapkan Meregalli? Atau justru musim 2026 akan menjadi “musim transisi” yang terlupakan, sambil bersiap menyambut Martin dan Ogura di 2027? piye menurut sampeyan cak…? (iwb)

  • Sprint Race Catalunya 2026…Alex Marquez Menang, Jorge Martin crash, Bezzechi kenapa ?

    Sprint Race Catalunya 2026…Alex Marquez Menang, Jorge Martin crash, Bezzechi kenapa ?

    Iwanbanaran.com – Cakkkk…Sprint race MotoGP Catalunya 2026 berlangsung sengit dan penuh drama. Alex Marquez (Gresini Ducati) keluar sebagai pemenang setelah duel ketat dengan Pedro Acosta (Red Bull KTM) yang hanya terpaut 0,041 detik di garis finis. Ini adalah kemenangan sprint race pertama musim ini bagi adik dari Marc Marquez tersebut, sekaligus kemenangan terdekat dalam sejarah MotoGP Sprint !! (more…)

  • Tangis Marc Marquez karena 3 jari tidak bisa dikontrol…ancurrr tenan !!!

    Tangis Marc Marquez karena 3 jari tidak bisa dikontrol…ancurrr tenan !!!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….IWB lumayan terkejut melihat tayangan Ducati yang membongkar perasaan Marc. Kabar paling baru dari garasi Ducati Lenovo Team, sang juara bertahan, Marc Marquez, ternyata menyimpan rahasia yang bener-bener mengiris hati. Lewat video eksklusif serial Inside Ducati, terlihat jelas momen emosional saat Marquez menangis tersedu di depan Gigi Dall’Igna dan kru mekaniknya setelah menjadi korban kecelakaan highside di Sprint Race Le Mans kemarin. Tangis Marc Marquez karena 3 jari tidak bisa dikontrol…ancurrr tenan !!!

    Bukannya mengeluhkan perkara kakinya yang patah akibat insiden tersebut, Marquez malah blak-blakan mengakui perkara yang jauh lebih mengerikan: “I’m riding with one and a half arms… Aku balapan cuma pakai tangan satu setengah. Sampeyan pasti ingat insiden tabrakan dengan Marco Bezzecchi di sirkuit Mandalika, Indonesia, musim 2025 kemarin kan? Nah, ternyata dari situlah petakanya, cakk! Baut bedah yang ada di bagian pundak Marquez ternyata bergeser pasca tabrakan tersebut.

    Marquez merasakan ada yang aneh pasca seri Jerez kemarin. Saat doi membungkuk dalam posisi riding, baut yang bergeser itu malah mengenai dan menjepit saraf radial-nya. Itu adalah saraf utama yang berfungsi untuk menggerakkan tiga jari dan lengan kanannya cakk! Akibatnya? Kekuatan tangane langsung loyo alias hilang seketika! Ini yang membuat nyesek, cakk. Marquez sampai matanya berkaca-kaca saat mengatakan bahwa sejatinya doi balapan di angka setengah detik lebih lambat dari limit aslinya.

    “Aku tidak ada yang perlu dibuktikan, aku bisa melaju kencang. Buktinya Q1 Le Mans kemarin aku bisa pecah rekor lap! Tapi masalahnya, aku balapan jauh dari limitku,” ujar Marquez emosional. Doi sering ndlosor alias kecelakaan di tikungan cepat (seperti saat balapan hari Minggu di Jerez) yang doi sendiri tidak paham sebabe. Ternyata ya itu cakk, tangannya sudah tidak kuat menahan bobot dan traksi motor Ducati spek dewa tersebut. Berikut kutipan lengkap Marc Marquez didalam pit Ducati…

    • Marc Marquez: “Aku tidak bisa bilang apa-apa.”

    • Marc Marquez: “Ada satu baut yang membuat sarafku bermasalah. Kadang terasa, kadang tidak.”

    • Anggota Tim: “Setidaknya kamu sudah mengerti masalahnya.”

    • Marc Marquez: “Ya, tapi aku sudah tahu ini bakal terjadi padaku. Kamu tidak bisa mengendarai motor dengan kondisi ‘on-off’ (sebentar oke, sebentar tidak). Sekarang terasa, nanti tidak… Aku tahu ini akan terjadi.”

    • Marc Marquez: “Itulah kenapa operasinya sudah dijadwalkan setelah GP Catalunya. Aku balapan hanya dengan satu setengah lengan.”

    • Marc Marquez: “Kita perlu cari tahu apakah bisa melakukan satu operasi saja… Melewatkan balapan Catalunya… Karena mereka harus membedah dan mengambil baut yang patah itu.”

    • Marc Marquez: “Baut itu (patah) saat kecelakaan di Indonesia… Mereka melihat bautnya bergeser. Setelah balapan di Jerez, aku melakukan pemeriksaan dan bilang, ‘Ada sesuatu yang salah’.”

    • Marc Marquez: “Sebenarnya, saat aku dalam posisi berkendara… kalau posisi biasa seperti ini tidak terasa, tapi saat posisi balap, baut yang patah itu—setelah cedera di Indonesia—ia bergeser dan menekan saraf.”

    • Marc Marquez: “Saraf yang menggerakkan tiga jari ini… dan seluruh lenganku.” (menangis)

    • Anggota Tim: “Jadi itu membuat tenagamu hilang?”

    • Marc Marquez: “Ya, itu membuatku kehilangan tenaga.”

    Marquez sebenarnya sudah janjian dengan dokter untuk operasi pencabutan baut tersebut pasca balapan sirkuit Catalunya akhir pekan ini. Tapi, karena kakinya keburu cedera patah duluan di Le Mans, tim dokter langsung gerak cepat melakukan operasi ganda sekaligus untuk membenahi kaki dan pundaknya…

    Marquez memang punya mental bukan manusia biasa cakk. Bayangkan, balapan di level tertinggi MotoGP dengan kondisi saraf kejepit dan tangan cuma berfungsi separuh saja masih bisa menang Sprint Race dua kali berturut-turut musim ini! Doi memang sengaja meminta manajemen Ducati untuk merahasiakan problem ini supaya tidak menjadi bahan omongan media atau membuat fokus tim buyar selama akhir pekan. Tapi dari data telemetri, Gigi Dall’Igna dan Marco Rigamonti memang sudah merasa ada yang ganjil dengan gaya balap nomor 93 ini…

    Last..sekarang operasi sudah rampung cakk. Pihak Ducati sendiri belum bisa memastikan kapan sang Superhero ini bakal comeback, apakah sudah siap tempur lagi saat di sirkuit Mugello atau harus menunggu lebih lama. Yang pasti, keputusan operasi ini sudah benar banget demi kesehatan jangka panjang. Kita doakan saja cakk, semoga pemulihan saraf tangan Marc Marquez bisa cepat lancar, supaya doi bisa kembali nggegirisi dan balapan menggunakan dua tangan utuh lagi untuk mengacak-ngacak podium MotoGP. Gws Marc…(iwb)

  • Veda Ega Kesulitan di Catalunya…Apa yang Sebenarnya Terjadi?

    Veda Ega Kesulitan di Catalunya…Apa yang Sebenarnya Terjadi?

    Iwanbanaran.com – Cakkkk…Harapan besar publik Indonesia untuk menyaksikan bocah ajaib kita, Veda Ega Pratama, tampil kompetitif di Sirkuit Catalunya sepertinya harus sedikit tertahan. Pada sesi Practice Moto3 yang digelar Jumat kemarin (15/5/2026), pembalap andalan Honda Team Asia itu hanya mampu menempati posisi ke-19 dengan catatan waktu 1 menit 48,136 detik. Hasil ini bener-bener kontras dengan ekspektasi kita semua setelah performa apiknya di Le Mans kemarin (P4). Ono opo iki Rek?

    Jujur saja, mata IWB agak melotot saat melihat data komparasi internal sesama penunggang Honda NSF250RW. Veda yang biasanya jadi ujung tombak, justru sempat menjadi pembalap Honda yang paling lambat di antara rider papan atas. Doi tertinggal cukup jauh dari Adrian Fernandez (Leopard Racing) yang sukses menembus P3 dengan waktu 1’47.146. Selisih hampir satu detik (0,990 detik) di kelas Moto3 itu rasanya sudah seperti beda sak kecamatan, alias jauh banget!

    Nah, mari kita bedah bersama-sama, apa sebenarnya yang terjadi pada motor nomor 54 ini? Ini dia analisis anomali performa Veda ala IWB:

    1. Mesin Ora Lemot, Top Speed Masih Njengat!

    Ini yang menarik, cakk. Kalau ada yang menuduh mesinnya loyo, sampeyan salah besar. Data Top Speed menunjukkan Veda sukses tembus 246,0 km/jam. Angka ini bahkan lebih ngibrit ketimbang Fernandez yang ada di P3 (242,1 km/jam). Berarti, secara potensi power di trek lurus sebenarnya tidak ada masalah. Tapi pertanyaannya, kenapa lap time-nya malah memble? Nah, ini indikasi kalau kecepatan trek lurus tidak menjamin waktu putaran bagus kalau tidak diimbangi dengan cornering speed yang mulus.

    2. Lap Time Inkonsisten, Seperti Kehilangan Grip

    Kalau kita intip data lap milik Veda, doi cuma bisa mencetak satu lap valid di angka 1’48.136. Sisa lap lainnya? Ambyar cakk, cuma bermain di kisaran 1’49 sampai 1’52 detik! Ini menjadi indikasi kuat bahwa Veda belum menemukan feeling atau grip yang pas dengan aspal Catalunya. Kadang dapat ritme bagus di satu lap, eh lap berikutnya motor malah seperti mlayu-mlayu tidak karuan.

    3. Dejavu JuniorGP 2025, Kok Tidak Ada Peningkatan?

    Ini yang membuat IWB agak heran. Pada bulan November 2025 lalu saat masih berlaga di FIM JuniorGP, Veda sudah bisa mencetak waktu kisaran 1’48.2 (dan finis P6 & P8). Sekarang, dengan motor spek Moto3 World Championship yang di atas kertas jauh lebih canggih dan bertenaga, kok catatane cuma 1’48.136? Cuma selisih se-upil alias hampir tidak ada peningkatan signifikan! Harusnya, dengan skill Veda, doi sudah bisa bermain di angka 1’46 atau 1’47 kecil. Fix, ini murni perkara set-up!

    Hasil Teropong IWB: Apa yang Menghambat Veda?

    Melihat data yang ada, IWB mencium ada tiga perkara utama yang membuat performa Veda kurang menggigit:

    • Set-up Suspensi Mumet: Catalunya sangat butuh stabilitas tinggi di tikungan cepat (T10-T14). Kalau suspensi terlalu kaku atau justru terlalu empuk, Veda akan kehilangan traksi saat exit tikungan, sehingga momentum menuju trek lurus jadi terlambat.

    • Masalah Ban (Grip): Kemungkinan besar Veda kesulitan membuat bannya mencapai suhu kerja optimal. Kalau ban kurang pas, rasanya seperti jalan di atas kulit pisang, licin cakk!

    • Traffic Padat Khas Moto3: Di kelas capung ini, pembalap sering sekali bergerombol untuk mencari towing (curi angin). Sesi balap Veda disinyalir sering terganggu oleh pembalap lain yang menghalangi racing line-nya.

    Ora Perlu Panik, Ini Baru Sesi Practice!

    Wis tho, ra usah jantungan disik! Perlu diingat bahwa sesi Practice adalah tempatnya tim untuk melakukan eksperimen. Seringkali pembalap sengaja menyembunyikan performa asli mereka atau sedang fokus menguji ketahanan ban bekas untuk simulasi balap.

    Veda bukan pembalap kemarin sore di Catalunya. Doi sudah paham luar dalam karakter sirkuit ini sejak musim lalu. Tim Honda Team Asia pasti sedang membedah data telemetri semalaman demi menemukan racikan set-up yang pas untuk sesi kualifikasi hari Sabtu ini.

    Last…Langkah pertama, Veda harus lolos ke Q2 terlebih dahulu (hari ini dia harus berjuang di Q1). Jika problem motornya sudah terpecahkan, target start di posisi 10-12 sangat realistis, atau bahkan syukur-syukur bisa menyodok ke barisan 6-8 besar. Kita doakan saja, semoga para mekanik Honda Team Asia mendapat wangsit agar motor Veda Ega Pratama kembali ngacir  dan siap tempur habis-habisan demi mendulang poin di Catalunya. Goooo Vedaaa !! (iwb)

    Perbandingan Performa Veda dengan Pembalap Honda Lain

    Pembalap Tim (Motor) Catatan Waktu Posisi Top Speed (km/h)
    Adrian FERNANDEZ Leopard Racing (HONDA) 1’47.146 P3 242.1
    Jesus RIOS Rivacold Snipers (HONDA) 1’47.689 P10 245.4
    Eddie O’SHEA GRYD – MLav Racing (HONDA) 1’47.704 P11 248.8
    Veda PRATAMA Honda Team Asia (HONDA) 1’48.136 P19 246.0
    Joel KELSO GRYD – MLav Racing (HONDA) 1’47.846 P14 246.5
    Guido PINI Leopard Racing (HONDA) 1’48.484 P22 243.7
    Zen MITANI Honda Team Asia (HONDA) 1’48.507 P23 244.8

    Anomali Lap Time: Inkonsistensi yang Mencolok

    Veda hanya mencatatkan 1 lap valid di bawah 1 menit 49 detik (1’48.136). Selebihnya, waktu putarannya berkisar di 1’49-1’52—jauh dari standarnya.

    Lap Catatan Waktu Catatan
    2 1’49.829 Lap awal
    6 1’49.127 Membaik
    11 1’48.384 Hampir terbaik
    14 1’48.136 Lap terbaik
    Lap lain 1’49-1’52 Inkonsisten

    Perbandingan dengan JuniorGP 2025

    Ajang Waktu Terbaik Posisi
    JuniorGP 2025 (Race 1) ~1’48.2 P6
    JuniorGP 2025 (Race 2) ~1’48.5 P8
    Moto3 Practice 2026 1’48.136 P19
  • Celakaaa…Ducati Ragu Marquez bisa kembali di Mugello !! Indikasi Parah ??

    Celakaaa…Ducati Ragu Marquez bisa kembali di Mugello !! Indikasi Parah ??

    Iwanbanaran.com – Cakkk…Manajer tim Ducati Lenovo, Davide Tardozzi, mengakui bahwa pihaknya masih belum bisa memastikan apakah Marc Marquez akan fit untuk kembali pada balapan kandang Ducati di Mugello (29-31 Mei). Pembalap asal Spanyol itu baru saja menjalani operasi ganda pada kaki dan bahu setelah kecelakaan keras di sprint race Le Mans.

    “Tujuannya adalah kembali secepat mungkin, tapi kami belum tahu kapan. Kami tidak bisa mengatakan hari ini apakah dia akan berada di Mugello,” ujar Tardozzi kepada Sky Italia di Barcelona, Kamis (14/5/2026).

    Marquez menjalani operasi yang disebut “sukses” pada Minggu lalu untuk memperbaiki patah tulang kaki akibat kecelakaan di Le Mans. Namun, yang lebih krusial, ia juga memanfaatkan momen tersebut untuk memajukan operasi bahu yang semula dijadwalkan setelah seri Catalunya.

    Operasi bahu ini diperlukan untuk membebaskan kompresi pada saraf radial di lengan kanan—masalah yang membuat Marquez mengendarai motor “hanya dengan satu setengah lengan” sepanjang musim 2026.

    Para dokter bedah mengangkat dua sekrup (satu bengkok dan satu patah) dari operasi sebelumnya pada 2019, serta sebuah fragmen tulang—cedera yang didapat saat insiden dengan Marco Bezzecchi di Mandalika tahun lalu.

    Tardozzi memuji perjuangan Marquez yang masih bisa meraih dua kemenangan sprint race musim ini meskipun dalam kondisi fisik yang sangat terbatas.

    “Mengetahui apa yang terjadi dan mengetahui apa yang dikatakan dokter kepada kami, saya pikir Marquez kembali menunjukkan bahwa dia adalah seorang superhero dan pembalap super. Dia melakukan sesuatu yang luar biasa karena, dengan kondisi tubuhnya, saya rasa tidak ada orang lain yang mampu melakukan apa yang dia lakukan.”

    Untuk seri Catalunya akhir pekan ini, Ducati memutuskan untuk tidak mengganti Marquez. Aturan mengizinkan tim untuk tidak mengganti pembalap dalam situasi back-to-back race.

    “Aturan mengizinkan kami untuk tidak menggantinya untuk balapan ini (Catalunya). Tapi jika karena suatu alasan Marc tidak bisa berada di Mugello, pastinya kami akan menggantinya,” tegas Tardozzi.

    Sementara itu, pembalap Tech3, Maverick Vinales, yang baru saja menjalani operasi pengangkatan sekrup bahu serupa, akan kembali beraksi di Catalunya setelah enam minggu absen. Namun, kondisi Marquez disebut lebih kompleks karena melibatkan operasi ganda (kaki dan bahu) sekaligus.

    Kepastian kapan Marquez kembali masih menjadi teka-teki. Jika ia melewatkan Mugello, maka ia akan absen di dua seri Eropa berturut-turut (Catalunya dan Italia). Kerugian poin ini akan semakin menyulitkan usahanya mengejar ketertinggalan dari Marco Bezzecchi di puncak klasemen.

    Yang pasti, pengakuan Tardozzi bahwa Marquez adalah “superhero” yang membalap dengan satu setengah lengan membuat publik semakin penasaran: Akan seperti apa performa Marquez jika ia benar-benar pulih 100 persen? Kita mungkin harus menunggu hingga paruh kedua musim untuk melihat jawabannya cak…(iwb)

  • Gawattt…Motogp Pecah, Liberty Media dan MSMA Perang Dingin !!

    Gawattt…Motogp Pecah, Liberty Media dan MSMA Perang Dingin !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Konflik antara MotoGP Sports Entertainment Group (dulu Dorna) dan para pabrikan (MSMA) mengenai pembagian pendapatan untuk kontrak baru Concorde Agreement 2027-2031 memasuki babak baru. Setelah para pabrikan berusaha bersatu dengan tembok kokoh, Liberty Media dan keluarga Ezpeleta kembali menggunakan strategi klasik: “divide and conquer” (pecah belah dan kuasai). Ini jelas gawat cak….sebab kini Motogp Pecah, Liberty Media dan MSMA Perang Dingin !!

    Jadi cak…dunia balap kasta tertinggi alias MotoGP lagi nggak baik-baik saja! Kalau biasanya kita bahas soal lap time atau adu kencang di trek, kali ini tensinya justru lebih panas di meja perundingan. Liberty Media, bos baru yang juga empunya Formula 1, ternyata mulai menunjukkan “taring” aslinya. Dan jujur saja cakk… gaya mainnya bener-bener bikin pabrikan pusing tujuh keliling!

    IWB dapet bisikan panas dari Jerez, ada istilah ngeri yang muncul: Divide and Conquer! Alias pecah belah dan kuasai. Wahhh… opo ora ngeri kuwi cakk?

    Jadi ceritanya begini…

    Liberty Media, di bawah komando Derek Chang, sekarang lagi bergandengan mesra sama Carmelo Ezpeleta. Mereka punya satu misi: Gimana caranya pabrikan nggak terlalu dominan ngatur jalannya balapan. Karena apa? Karena selama ini yang namanya MSMA (asosiasi pabrikan) itu kompak banget kayak pasukan elit, susah ditembus!

    Nah, tuntutan Liberty Media yang paling anyar ini bener-bener bikin dahi mengkerut:

    1. Pecah Kekuatan MSMA: Liberty ogah dengerin suara kolektif. Mereka pengennya negosiasi face-to-face sama masing-masing merk. Strateginya cerdik cakk… mereka “ngerayu” Honda dulu, terus Ducati dicolek, supaya yang lain kayak Yamaha atau KTM akhirnya kepojok sendiri. Kalau satu sudah tanda tangan, yang lain pasti rontok satu-satu.

    2. Kuasai Aliran Duit: Pabrikan sebenernya minta bagi hasil (revenue sharing) yang lebih gede buat modal riset. Tapi Liberty kabarnya lebih pelit soal ini. Mereka lebih milih duitnya dipake buat promosi jor-joran biar MotoGP makin viral di Amerika. Intinya: “Kalian balapan aja yang bener, urusan cuan dan promosi biar kami yang atur total!”

    3. Regulasi 2027 Tanpa Debat: Liberty pengen mesin 850cc dan sunat aero serta ride-height device segera diteken tanpa banyak protes. Tujuannya biar balapan lebih banyak aksi salip-salipan (hiburan), padahal buat pabrikan, ini artinya buang-buang duit buat riset dari nol lagi.

    Puncaknya pas di Jerez kemarin, cakk. Ada acara makan malam resmi tapi malah kayak “kuburan”. Yamaha, Aprilia, sama KTM kompak memboikot alias nggak dateng! Bayangin, acara sekelas itu tapi kursinya kosong melompong. Ini sinyal perang terbuka antara produsen motor lawan promotor.

    Tapi ya itu tadi cakk… Liberty Media bukan pemain baru. Mereka pinter banget mainin psikologi. Kabar terakhir, Honda malah konon sudah “manut” duluan. Kalau raksasa Jepang sudah luluh, otomatis posisi tawar Lin Jarvis (Yamaha) dkk jadi makin lemah.

    Last…Liberty Media pengen MotoGP itu jadi show bisnis murni kayak F1. Pabrikan nggak boleh terlalu banyak protes soal aturan teknis atau bisnis. Pokoknya ikut aturan main bos baru, atau ketinggalan kereta. Dunia politik emang kejam cakk, lebih kejam dari persaingan ban gundul di lap terakhir! Kita pantau terus perkembangannya, semoga aja ego masing-masing pihak nggak malah ngerusak kualitas balapan yang kita cintai ini. MotoGP 2027? Bakal panas luar dalem ini sih.. (IWB)

  • Marco Melandri sebut Marc Marquez dalam Keraguan Luar biasa…waduhh !!!

    Marco Melandri sebut Marc Marquez dalam Keraguan Luar biasa…waduhh !!!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…Selain sibuk jadi komentator, beberapa bulan terakhir kita juga sering melihat Marco Melandri jadi pundit bareng Davide Valsecchi di acara baru mereka, Chiacchiere da Box. Di sini mereka bedah tuntas berita dunia roda dua dan roda empat. Dan yang terbaru cak…Melandri bercerita soal musim MotoGP 2026. Menurutnya, Aprilia sekarang lagi punya “darah” lebih, sementara Ducati lagi pusing karena kehilangan Marc Marquez yang baru saja naik meja operasi setelah crash di Le Mans sabtu kemarin. Menurutnya lagi….Marco Melandri sebut Marc Marquez dalam Keraguan Luar biasa…waduhh !!!

    Berikut interview GPone dengan Marco yang menyoroti beberapa poin penting di Motogp 2026….

    Soal Kondisi Marc Marquez: “Sejak dia balik bulan Februari lalu, dia bukan lagi pembalap yang sama seperti tahun kemarin. Gerakannya lebih tertahan, nggak natural. Menurutku, dia cuma mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau dia baik-baik saja, padahal nggak. Saraf itu bukan tulang; nggak bisa cuma dipasang baut terus beres. Kalau saraf rusak, risikonya nggak akan pernah sembuh total. Makanya, dia nggak bisa nunggu jeda musim panas lagi, harus operasi sekarang juga!”

    Gimana Prospek Marc ke Depan? “Dia lagi di persimpangan jalan: antara balik ke performa tahun lalu, atau kalau nggak, menurutku dia sudah habis (selesai). Aku lihat dia capek, energinya habis. Di Ducati dia juga dibebani banyak acara promosi, itu sangat menguras tenaga. Yang bikin aku heran, dia sudah nggak pernah senyum lagi di pit, padahal tahun lalu tiap kena kamera dia selalu tersenyum”

    Apa Sekarang Aprilia Motor yang Harus Dikalahkan? “Iya, karena aku nggak lihat ada celah lemahnya. Dulu mereka payah di sirkuit dengan tikungan patah (slow corner), tapi sekarang sudah nggak. Menurutku, Jorge Martin sudah menaikkan standar lebih tinggi, dia lagi kencang-kencangnya sepanjang hidupnya. Bezzecchi juga kuat, tapi Martin punya ‘sesuatu’ yang lebih sekarang. Dia punya rasa percaya diri yang gila.”

    Soal Strategi Ducati yang Kehilangan Banyak Pembalap Muda: “Dall’Igna bertaruh besar buat Marc, tapi di sisi lain Ducati kehilangan banyak pembalap kuat. Sekarang, di atas kertas, cuma Marquez yang benar-benar bisa tarung buat gelar juara dunia—selama hitungan poinnya masih memungkinkan. Tapi di saat yang sama, Aprilia sepertinya sudah memegang kendali kejuaraan. Diggia memang punya pace, tapi itu nggak cukup buat mukul Aprilia; butuh sesuatu yang lebih besar.”

    Soal Bagnaia di Le Mans: “Positifnya, aku lihat Bagnaia sudah kencang lagi. Di Le Mans kemarin menurutku dia cuma terlalu memaksakan diri. Kalau lihat tayangan ulangnya, sebelum lowside, motornya sudah goyang beberapa kali di bagian depan. Tapi yang penting dia pulang dengan mentalitas kalau dia masih kencang. Buat pembalap, itu fundamental banget setelah setahun setengah yang sulit.”

    Apakah Juara Dunia Bakal Jadi Duel Internal Aprilia (Martin vs Bezzecchi)? “Iya, karena Martin sudah kencang dari beberapa bulan lalu padahal sempat lama nggak balapan. Mentalnya tahu kalau dia bisa berkembang. Sedangkan Bezzecchi, karena dia sudah sering menang dan mendominasi, lebih susah buat melangkah lebih jauh lagi. Martin sekarang punya kepercayaan diri yang luar biasa. Start-nya juga gila, kayak roket! Kalau orang lain yang start kayak gitu, pasti sudah jadi omongan di mana-mana.”…tutupnya…(iwb)

  • Jorge Martin vs Bezzecchi…Aprilia kuatir terjadi Perang Dingin !!

    Jorge Martin vs Bezzecchi…Aprilia kuatir terjadi Perang Dingin !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…Aprilia sukses mencetak sejarah di MotoGP Prancis dengan meraih podium 1-2-3 yang pertama kali dalam sejarah pabrikan tersebut. Jorge Martin menjadi pemenang, diikuti Marco Bezzecchi dan Ai Ogura (Trackhouse Aprilia). Di balik euforia kemenangan, CEO Aprilia, Massimo Rivola, buka suara tentang manajemen dua pembalap utamanya yang kini hanya terpaut satu poin di klasemen. “Aturan satu-satunya yang akan saya berikan kepada Bezzecchi dan Martin sederhana: hormat,” tegas Rivola….

    Rivola mengakui bahwa akhir pekan di Le Mans adalah sesuatu yang gila dan bersejarah.

    “Ini adalah sejarah yang harus ditandai di kalender. Untuk dua alasan. Pertama, karena kami belum pernah memiliki podium all-Aprilia sebelumnya. Kedua, karena tepat satu tahun yang lalu, di Le Mans, Jorge Martin berlari menemui kami untuk memberi tahu bahwa dia akan pergi. Setahun kemudian, kami merayakan akhir pekan yang sensasional. Ini adalah sumber kepuasan yang luar biasa.”

    Martin, yang setahun lalu sempat ingin meninggalkan Aprilia karena ragu dengan proyek tersebut, kini menjadi salah satu pilar kesuksesan pabrikan asal Noale itu. Ketika ditanya bagaimana mencapai hasil seperti ini, Rivola menjawab:

    *“Anda bekerja dengan keyakinan bahwa pilihan Anda adalah pilihan yang tepat. Hari ini, saya rasa kami mendapat konfirmasi lain bahwa pilihannya tepat. Saya telah mengatakan ini sejak kemenangan pertama di Argentina pada 2022: bekerja keras dan percaya pada hal itu adalah resep yang selalu berhasil. Saya sangat percaya pada ide-ide tim dan mencoba menyampaikannya kepada orang-orang agar mereka dapat bekerja lebih baik. Dan kemudian kami memiliki konduktor seperti Fabiano Sterlacchini yang melakukan pekerjaan luar biasa, bersama dengan tim teknis tingkat atas.”*

    Rivola juga mengakui bahwa ia harus meyakinkan Martin untuk percaya pada proyek Aprilia.

    “Ya, dan saya pikir kami berhasil melakukannya dengan baik. Sedikit paksaan dan sedikit bujukan, sejujurnya. Pada awalnya, saya bersikap cukup keras karena saya tidak bisa menerima bahwa dia berpikir kami tidak cukup kuat. Tapi kemudian ada juga sisi manusianya, karena Jorge melewati masa-masa yang sangat sulit. Emosi yang dia rasakan setelah melewati garis finis sangat bisa dimengerti, begitu juga bagi kami.”

    Meskipun saat ini Aprilia terlihat sangat kuat, Rivola memilih untuk tetap membumi.

    “Ya, saya pikir kita bisa mengatakan bahwa Aprilia adalah motor yang harus dikalahkan saat ini, tapi saya tidak ingin terdengar pesimis—menurut saya, ini masih terlalu dini. Jika kita melihat jaraknya, kita benar-benar berbicara tentang hal yang sangat kecil: Pedro Acosta, Di Giannantonio… mereka semua ada di sana; dalam satu balapan, segalanya bisa berubah. Dalam kualifikasi, kami tidak memiliki tiga Aprilia di depan, jadi saya masih akan tetap membumi.”

    Manajemen Dua Pembalap Top: Satu Aturan Sederhana

    Rivola menekankan bahwa tantangan terbesar adalah mengelola dua pembalap sekaliber Bezzecchi dan Martin dalam satu garasi. Mereka kuatir kedepan akan ada perang dingin jika tidak dikelola dengan baik. Namun, ia percaya pada profesionalisme mereka.

    “Satu-satunya aturan yang kami miliki adalah hormat. Ketika rasa hormat hilang antara dua pembalap, Anda akan langsung melihatnya. Menyalip hari ini? Marco sedikit mengendurkan rem untuk mencobanya, tapi itu adalah menyalip yang bersih. Selama mereka saling menyalip seperti itu antara rekan setim, tidak masalah. Jika mereka mulai masuk dengan siku, maka itu saatnya untuk berbicara. Mereka saling mengenal dengan baik dan juga tahu di trek mana satu sama lain mungkin lebih kuat. Tapi mereka juga tahu mereka tidak bisa meninggalkan poin di lintasan.”

    Rivola juga memberikan analisis tentang pesaing utamanya, Ducati.

    “Menurut pendapat saya, Ducati jelas telah mencapai lebih sedikit dari yang seharusnya, karena motor mungkin lebih kuat daripada yang ditunjukkan oleh klasemen saat ini. Itulah mengapa saya masih sedikit berhati-hati—dan sedikit superstitius.”

    Mengenai pelukan emosional dengan Martin yang memicu spekulasi tentang kemungkinan reuni masa depan, Rivola menjawab:

    “Itu akan sangat menyenangkan, tapi saya pikir Jorge sudah membuat pilihannya sejak lama. Dan sejujurnya, saya tidak menyalahkannya. Tahun lalu dia tidak dalam kondisi fisik yang baik, dia menerima tawaran penting… wajar jika dalam situasi seperti itu, kepercayaan bisa goyah, mungkin bahkan pada dirinya sendiri. Tapi saya akan memberikan segalanya untuk Marco, saya akan memberikan segalanya untuk Jorge, dan saya akan meminta tim untuk melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, siapa yang paling pantas akan berada di depan. Titik.”

    Rivola memuji pertumbuhan Bezzecchi di dalam proyek Aprilia.

    “Hal yang hebat adalah pertumbuhannya saling menguntungkan. Motor telah meningkat berkat umpan baliknya, dan dia telah tumbuh luar biasa sebagai pembalap. Hari ini kami memiliki gambaran yang sangat jelas tentang apa yang ada di pikirannya. Dia siap.”

    Ia juga menyoroti keunggulan Martin yang sudah berpengalaman memperebutkan gelar juara dunia.

    “Jorge memiliki keuntungan besar: dia sudah pernah menang dan kalah dalam Kejuaraan Dunia, bertarung hingga akhir. Itu penting dalam mengelola kejuaraan. Posisi kedua Marco hari ini sangat berharga. Mungkin di masa lalu dia akan mengambil terlalu banyak risiko untuk menang dan mungkin membuat kesalahan. Melihat mereka berdua di depan hari ini adalah sumber kepuasan yang luar biasa, dalam hal kecepatan, kedewasaan, dan pertumbuhan.”

    Rivola mengakhiri dengan mengenang momen paling sulit dengan Martin setahun lalu.

    “Saya sangat yakin dengan pilihan kami, sangat yakin dengan tim, dan sangat yakin bahwa Fabiano dapat membantu kami membuat lompatan terakhir. Saya selalu berkata kepada Jorge: ‘Kau akan lihat, kau akan menang bersama kami.’” tutupnya…(iwb)