Category: Racing

  • Tangis Marc Marquez karena 3 jari tidak bisa dikontrol…ancurrr tenan !!!

    Tangis Marc Marquez karena 3 jari tidak bisa dikontrol…ancurrr tenan !!!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….IWB lumayan terkejut melihat tayangan Ducati yang membongkar perasaan Marc. Kabar paling baru dari garasi Ducati Lenovo Team, sang juara bertahan, Marc Marquez, ternyata menyimpan rahasia yang bener-bener mengiris hati. Lewat video eksklusif serial Inside Ducati, terlihat jelas momen emosional saat Marquez menangis tersedu di depan Gigi Dall’Igna dan kru mekaniknya setelah menjadi korban kecelakaan highside di Sprint Race Le Mans kemarin. Tangis Marc Marquez karena 3 jari tidak bisa dikontrol…ancurrr tenan !!!

    Bukannya mengeluhkan perkara kakinya yang patah akibat insiden tersebut, Marquez malah blak-blakan mengakui perkara yang jauh lebih mengerikan: “I’m riding with one and a half arms… Aku balapan cuma pakai tangan satu setengah. Sampeyan pasti ingat insiden tabrakan dengan Marco Bezzecchi di sirkuit Mandalika, Indonesia, musim 2025 kemarin kan? Nah, ternyata dari situlah petakanya, cakk! Baut bedah yang ada di bagian pundak Marquez ternyata bergeser pasca tabrakan tersebut.

    Marquez merasakan ada yang aneh pasca seri Jerez kemarin. Saat doi membungkuk dalam posisi riding, baut yang bergeser itu malah mengenai dan menjepit saraf radial-nya. Itu adalah saraf utama yang berfungsi untuk menggerakkan tiga jari dan lengan kanannya cakk! Akibatnya? Kekuatan tangane langsung loyo alias hilang seketika! Ini yang membuat nyesek, cakk. Marquez sampai matanya berkaca-kaca saat mengatakan bahwa sejatinya doi balapan di angka setengah detik lebih lambat dari limit aslinya.

    “Aku tidak ada yang perlu dibuktikan, aku bisa melaju kencang. Buktinya Q1 Le Mans kemarin aku bisa pecah rekor lap! Tapi masalahnya, aku balapan jauh dari limitku,” ujar Marquez emosional. Doi sering ndlosor alias kecelakaan di tikungan cepat (seperti saat balapan hari Minggu di Jerez) yang doi sendiri tidak paham sebabe. Ternyata ya itu cakk, tangannya sudah tidak kuat menahan bobot dan traksi motor Ducati spek dewa tersebut. Berikut kutipan lengkap Marc Marquez didalam pit Ducati…

    • Marc Marquez: “Aku tidak bisa bilang apa-apa.”

    • Marc Marquez: “Ada satu baut yang membuat sarafku bermasalah. Kadang terasa, kadang tidak.”

    • Anggota Tim: “Setidaknya kamu sudah mengerti masalahnya.”

    • Marc Marquez: “Ya, tapi aku sudah tahu ini bakal terjadi padaku. Kamu tidak bisa mengendarai motor dengan kondisi ‘on-off’ (sebentar oke, sebentar tidak). Sekarang terasa, nanti tidak… Aku tahu ini akan terjadi.”

    • Marc Marquez: “Itulah kenapa operasinya sudah dijadwalkan setelah GP Catalunya. Aku balapan hanya dengan satu setengah lengan.”

    • Marc Marquez: “Kita perlu cari tahu apakah bisa melakukan satu operasi saja… Melewatkan balapan Catalunya… Karena mereka harus membedah dan mengambil baut yang patah itu.”

    • Marc Marquez: “Baut itu (patah) saat kecelakaan di Indonesia… Mereka melihat bautnya bergeser. Setelah balapan di Jerez, aku melakukan pemeriksaan dan bilang, ‘Ada sesuatu yang salah’.”

    • Marc Marquez: “Sebenarnya, saat aku dalam posisi berkendara… kalau posisi biasa seperti ini tidak terasa, tapi saat posisi balap, baut yang patah itu—setelah cedera di Indonesia—ia bergeser dan menekan saraf.”

    • Marc Marquez: “Saraf yang menggerakkan tiga jari ini… dan seluruh lenganku.” (menangis)

    • Anggota Tim: “Jadi itu membuat tenagamu hilang?”

    • Marc Marquez: “Ya, itu membuatku kehilangan tenaga.”

    Marquez sebenarnya sudah janjian dengan dokter untuk operasi pencabutan baut tersebut pasca balapan sirkuit Catalunya akhir pekan ini. Tapi, karena kakinya keburu cedera patah duluan di Le Mans, tim dokter langsung gerak cepat melakukan operasi ganda sekaligus untuk membenahi kaki dan pundaknya…

    Marquez memang punya mental bukan manusia biasa cakk. Bayangkan, balapan di level tertinggi MotoGP dengan kondisi saraf kejepit dan tangan cuma berfungsi separuh saja masih bisa menang Sprint Race dua kali berturut-turut musim ini! Doi memang sengaja meminta manajemen Ducati untuk merahasiakan problem ini supaya tidak menjadi bahan omongan media atau membuat fokus tim buyar selama akhir pekan. Tapi dari data telemetri, Gigi Dall’Igna dan Marco Rigamonti memang sudah merasa ada yang ganjil dengan gaya balap nomor 93 ini…

    Last..sekarang operasi sudah rampung cakk. Pihak Ducati sendiri belum bisa memastikan kapan sang Superhero ini bakal comeback, apakah sudah siap tempur lagi saat di sirkuit Mugello atau harus menunggu lebih lama. Yang pasti, keputusan operasi ini sudah benar banget demi kesehatan jangka panjang. Kita doakan saja cakk, semoga pemulihan saraf tangan Marc Marquez bisa cepat lancar, supaya doi bisa kembali nggegirisi dan balapan menggunakan dua tangan utuh lagi untuk mengacak-ngacak podium MotoGP. Gws Marc…(iwb)

  • Veda Ega Kesulitan di Catalunya…Apa yang Sebenarnya Terjadi?

    Veda Ega Kesulitan di Catalunya…Apa yang Sebenarnya Terjadi?

    Iwanbanaran.com – Cakkkk…Harapan besar publik Indonesia untuk menyaksikan bocah ajaib kita, Veda Ega Pratama, tampil kompetitif di Sirkuit Catalunya sepertinya harus sedikit tertahan. Pada sesi Practice Moto3 yang digelar Jumat kemarin (15/5/2026), pembalap andalan Honda Team Asia itu hanya mampu menempati posisi ke-19 dengan catatan waktu 1 menit 48,136 detik. Hasil ini bener-bener kontras dengan ekspektasi kita semua setelah performa apiknya di Le Mans kemarin (P4). Ono opo iki Rek?

    Jujur saja, mata IWB agak melotot saat melihat data komparasi internal sesama penunggang Honda NSF250RW. Veda yang biasanya jadi ujung tombak, justru sempat menjadi pembalap Honda yang paling lambat di antara rider papan atas. Doi tertinggal cukup jauh dari Adrian Fernandez (Leopard Racing) yang sukses menembus P3 dengan waktu 1’47.146. Selisih hampir satu detik (0,990 detik) di kelas Moto3 itu rasanya sudah seperti beda sak kecamatan, alias jauh banget!

    Nah, mari kita bedah bersama-sama, apa sebenarnya yang terjadi pada motor nomor 54 ini? Ini dia analisis anomali performa Veda ala IWB:

    1. Mesin Ora Lemot, Top Speed Masih Njengat!

    Ini yang menarik, cakk. Kalau ada yang menuduh mesinnya loyo, sampeyan salah besar. Data Top Speed menunjukkan Veda sukses tembus 246,0 km/jam. Angka ini bahkan lebih ngibrit ketimbang Fernandez yang ada di P3 (242,1 km/jam). Berarti, secara potensi power di trek lurus sebenarnya tidak ada masalah. Tapi pertanyaannya, kenapa lap time-nya malah memble? Nah, ini indikasi kalau kecepatan trek lurus tidak menjamin waktu putaran bagus kalau tidak diimbangi dengan cornering speed yang mulus.

    2. Lap Time Inkonsisten, Seperti Kehilangan Grip

    Kalau kita intip data lap milik Veda, doi cuma bisa mencetak satu lap valid di angka 1’48.136. Sisa lap lainnya? Ambyar cakk, cuma bermain di kisaran 1’49 sampai 1’52 detik! Ini menjadi indikasi kuat bahwa Veda belum menemukan feeling atau grip yang pas dengan aspal Catalunya. Kadang dapat ritme bagus di satu lap, eh lap berikutnya motor malah seperti mlayu-mlayu tidak karuan.

    3. Dejavu JuniorGP 2025, Kok Tidak Ada Peningkatan?

    Ini yang membuat IWB agak heran. Pada bulan November 2025 lalu saat masih berlaga di FIM JuniorGP, Veda sudah bisa mencetak waktu kisaran 1’48.2 (dan finis P6 & P8). Sekarang, dengan motor spek Moto3 World Championship yang di atas kertas jauh lebih canggih dan bertenaga, kok catatane cuma 1’48.136? Cuma selisih se-upil alias hampir tidak ada peningkatan signifikan! Harusnya, dengan skill Veda, doi sudah bisa bermain di angka 1’46 atau 1’47 kecil. Fix, ini murni perkara set-up!

    Hasil Teropong IWB: Apa yang Menghambat Veda?

    Melihat data yang ada, IWB mencium ada tiga perkara utama yang membuat performa Veda kurang menggigit:

    • Set-up Suspensi Mumet: Catalunya sangat butuh stabilitas tinggi di tikungan cepat (T10-T14). Kalau suspensi terlalu kaku atau justru terlalu empuk, Veda akan kehilangan traksi saat exit tikungan, sehingga momentum menuju trek lurus jadi terlambat.

    • Masalah Ban (Grip): Kemungkinan besar Veda kesulitan membuat bannya mencapai suhu kerja optimal. Kalau ban kurang pas, rasanya seperti jalan di atas kulit pisang, licin cakk!

    • Traffic Padat Khas Moto3: Di kelas capung ini, pembalap sering sekali bergerombol untuk mencari towing (curi angin). Sesi balap Veda disinyalir sering terganggu oleh pembalap lain yang menghalangi racing line-nya.

    Ora Perlu Panik, Ini Baru Sesi Practice!

    Wis tho, ra usah jantungan disik! Perlu diingat bahwa sesi Practice adalah tempatnya tim untuk melakukan eksperimen. Seringkali pembalap sengaja menyembunyikan performa asli mereka atau sedang fokus menguji ketahanan ban bekas untuk simulasi balap.

    Veda bukan pembalap kemarin sore di Catalunya. Doi sudah paham luar dalam karakter sirkuit ini sejak musim lalu. Tim Honda Team Asia pasti sedang membedah data telemetri semalaman demi menemukan racikan set-up yang pas untuk sesi kualifikasi hari Sabtu ini.

    Last…Langkah pertama, Veda harus lolos ke Q2 terlebih dahulu (hari ini dia harus berjuang di Q1). Jika problem motornya sudah terpecahkan, target start di posisi 10-12 sangat realistis, atau bahkan syukur-syukur bisa menyodok ke barisan 6-8 besar. Kita doakan saja, semoga para mekanik Honda Team Asia mendapat wangsit agar motor Veda Ega Pratama kembali ngacir  dan siap tempur habis-habisan demi mendulang poin di Catalunya. Goooo Vedaaa !! (iwb)

    Perbandingan Performa Veda dengan Pembalap Honda Lain

    Pembalap Tim (Motor) Catatan Waktu Posisi Top Speed (km/h)
    Adrian FERNANDEZ Leopard Racing (HONDA) 1’47.146 P3 242.1
    Jesus RIOS Rivacold Snipers (HONDA) 1’47.689 P10 245.4
    Eddie O’SHEA GRYD – MLav Racing (HONDA) 1’47.704 P11 248.8
    Veda PRATAMA Honda Team Asia (HONDA) 1’48.136 P19 246.0
    Joel KELSO GRYD – MLav Racing (HONDA) 1’47.846 P14 246.5
    Guido PINI Leopard Racing (HONDA) 1’48.484 P22 243.7
    Zen MITANI Honda Team Asia (HONDA) 1’48.507 P23 244.8

    Anomali Lap Time: Inkonsistensi yang Mencolok

    Veda hanya mencatatkan 1 lap valid di bawah 1 menit 49 detik (1’48.136). Selebihnya, waktu putarannya berkisar di 1’49-1’52—jauh dari standarnya.

    Lap Catatan Waktu Catatan
    2 1’49.829 Lap awal
    6 1’49.127 Membaik
    11 1’48.384 Hampir terbaik
    14 1’48.136 Lap terbaik
    Lap lain 1’49-1’52 Inkonsisten

    Perbandingan dengan JuniorGP 2025

    Ajang Waktu Terbaik Posisi
    JuniorGP 2025 (Race 1) ~1’48.2 P6
    JuniorGP 2025 (Race 2) ~1’48.5 P8
    Moto3 Practice 2026 1’48.136 P19
  • Celakaaa…Ducati Ragu Marquez bisa kembali di Mugello !! Indikasi Parah ??

    Celakaaa…Ducati Ragu Marquez bisa kembali di Mugello !! Indikasi Parah ??

    Iwanbanaran.com – Cakkk…Manajer tim Ducati Lenovo, Davide Tardozzi, mengakui bahwa pihaknya masih belum bisa memastikan apakah Marc Marquez akan fit untuk kembali pada balapan kandang Ducati di Mugello (29-31 Mei). Pembalap asal Spanyol itu baru saja menjalani operasi ganda pada kaki dan bahu setelah kecelakaan keras di sprint race Le Mans.

    “Tujuannya adalah kembali secepat mungkin, tapi kami belum tahu kapan. Kami tidak bisa mengatakan hari ini apakah dia akan berada di Mugello,” ujar Tardozzi kepada Sky Italia di Barcelona, Kamis (14/5/2026).

    Marquez menjalani operasi yang disebut “sukses” pada Minggu lalu untuk memperbaiki patah tulang kaki akibat kecelakaan di Le Mans. Namun, yang lebih krusial, ia juga memanfaatkan momen tersebut untuk memajukan operasi bahu yang semula dijadwalkan setelah seri Catalunya.

    Operasi bahu ini diperlukan untuk membebaskan kompresi pada saraf radial di lengan kanan—masalah yang membuat Marquez mengendarai motor “hanya dengan satu setengah lengan” sepanjang musim 2026.

    Para dokter bedah mengangkat dua sekrup (satu bengkok dan satu patah) dari operasi sebelumnya pada 2019, serta sebuah fragmen tulang—cedera yang didapat saat insiden dengan Marco Bezzecchi di Mandalika tahun lalu.

    Tardozzi memuji perjuangan Marquez yang masih bisa meraih dua kemenangan sprint race musim ini meskipun dalam kondisi fisik yang sangat terbatas.

    “Mengetahui apa yang terjadi dan mengetahui apa yang dikatakan dokter kepada kami, saya pikir Marquez kembali menunjukkan bahwa dia adalah seorang superhero dan pembalap super. Dia melakukan sesuatu yang luar biasa karena, dengan kondisi tubuhnya, saya rasa tidak ada orang lain yang mampu melakukan apa yang dia lakukan.”

    Untuk seri Catalunya akhir pekan ini, Ducati memutuskan untuk tidak mengganti Marquez. Aturan mengizinkan tim untuk tidak mengganti pembalap dalam situasi back-to-back race.

    “Aturan mengizinkan kami untuk tidak menggantinya untuk balapan ini (Catalunya). Tapi jika karena suatu alasan Marc tidak bisa berada di Mugello, pastinya kami akan menggantinya,” tegas Tardozzi.

    Sementara itu, pembalap Tech3, Maverick Vinales, yang baru saja menjalani operasi pengangkatan sekrup bahu serupa, akan kembali beraksi di Catalunya setelah enam minggu absen. Namun, kondisi Marquez disebut lebih kompleks karena melibatkan operasi ganda (kaki dan bahu) sekaligus.

    Kepastian kapan Marquez kembali masih menjadi teka-teki. Jika ia melewatkan Mugello, maka ia akan absen di dua seri Eropa berturut-turut (Catalunya dan Italia). Kerugian poin ini akan semakin menyulitkan usahanya mengejar ketertinggalan dari Marco Bezzecchi di puncak klasemen.

    Yang pasti, pengakuan Tardozzi bahwa Marquez adalah “superhero” yang membalap dengan satu setengah lengan membuat publik semakin penasaran: Akan seperti apa performa Marquez jika ia benar-benar pulih 100 persen? Kita mungkin harus menunggu hingga paruh kedua musim untuk melihat jawabannya cak…(iwb)

  • Analisis Kekuatan Veda Ega Pratama di Setiap Tikungan Catalunya !!

    Analisis Kekuatan Veda Ega Pratama di Setiap Tikungan Catalunya !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…Sirkuit Catalunya bukanlah arena yang ramah bagi mereka yang hanya mengandalkan mesin besar. Dengan panjang 4,657 km dan kombinasi 14 tikungan yang mengalir (flowing), trek ini menjadi “ujian nyata” bagi kemampuan corner speed, keseimbangan sasis, dan keberanian pembalap. Veda Ega Pratama datang ke Spanyol dengan modal berharga: pengalaman langsung di sirkuit ini pada ajang FIM JuniorGP 2025, di mana ia finis 6 dan 8 . Berikut adalah analisis mendetail kekuatan Veda tikungan per tikungan, berdasarkan karakteristik trek dan gaya balapnya cak !!..

    Veda datang ke Catalunya dengan kepercayaan diri tinggi setelah hasil luar biasa di GP Prancis (Le Mans) pekan lalu cak. Ia berhasil finis di posisi ke-4, yang merupakan pencapaian terbaiknya disirkuit ini. Hasil ini membawanya melesat ke peringkat 5 klasemen sementara Moto3 2026 dengan koleksi 50 poin. Namun tentunya kita penasaran seperti apa kans Veda di Catalunya, sirkuit Eropa yang legendaris.  Sebelum membedah tikungan, penting untuk memahami bahwa karakteristik trek Catalunya sangat cocok dengan gaya balap Veda. Sirkuit ini terkenal dengan:

    • Tikungan mengalir: Tidak banyak tikungan “stop-and-go” ekstrem.

    • Corner speed tinggi: Kecepatan di tikungan menjadi faktor penentu, bukan hanya akselerasi di trek lurus.

    • Sektor 3 paling krusial: Tikungan 10 hingga 14 yang panjang dan teknis sering menjadi penentu kemenangan .

    Kunci sukses di Catalunya ada pada kemampuan menahan corner speed. Motor Honda terbukti kompetitif di sini. Taiyo Furusato (Honda Team Asia) finis podium P3 hanya terpaut 0,156 detik dari pemenang di Moto3 Catalunya 2025 . Trek ini secara garis besar terbagi menjadi 3 sektor utama. Berikut breakdown kekuatan Veda di setiap sektor…..

    Sektor 1 (Tikungan 1 – 4): Zona Krusial untuk Bertahan

    Tikungan Nama Karakter Kekuatan Veda
    T1-2 Elf (Kanan-Kiri) Chicane cepat, traksi keluar tikungan kiri sangat penting. Memanfaatkan slipstream: Start yang baik krusial. Veda berpeluang menyalip di T1 jika dapat memanfaatkan slipstream dari trek lurus start.
    T3-4 Kanan-Kanan Menanjak menuju T4. Membutuhkan stabilitas motor. Stabilitas di tanjakan: Di JuniorGP, Veda konsisten menjaga pace di sektor ini tanpa kehilangan banyak waktu .

    Analisis: Sektor ini adalah “medan perang” lap pertama. Veda harus menghindari “kebakaran” di awal, karena jika tertinggal terlalu jauh, sulit mengejar di sektor 3 nanti.

    Sektor 2 (Tikungan 5 – 9): Titik Rawan Ketinggalan

    Tikungan Nama Karakter Kelemahan / Tantangan
    T5 Kiri Tikungan cepat, penentu kecepatan di lintasan lurus berikutnya. Kalah top speed?: Motor Honda mungkin kehilangan waktu di sini jika harus keluar dengan RPM rendah akibat tertahan lawan.
    T7-8-9 “La Caixa” (Kanan-Kiri) Kombinasi tikungan lambat kecepatan rendah. Akselerasi keluar tikungan: Veda harus menjaga momentum agar tidak disalip di trek lurus pendek menuju T10.

    Catatan Penting: Di sinilah motor KTM biasanya mulai menunjukkan taringnya. Namun, dengan pengalaman Veda di sirkuit ini (mencatatkan fastest lap di sesi tertentu di JuniorGP), ia mampu meminimalisir defisit .

    Sektor 3 – 4 (Tikungan 10 – 14): Domain Veda (Kekuatan Utama)

    Ini adalah “Rumah” bagi Veda dan Honda. Jika Veda finis di posisi 6 dan 8 di JuniorGP, itu karena ia menguasai sektor ini.

    Tikungan Nama Karakter Kekuatan Veda
    T10-11-12 “New Holland” (Kanan-Kiri-Kanan) Tikungan panjang radius lebar, corner speed sangat tinggi. Kemampuan banting motor: Veda jago dalam mempertahankan sudut kemiringan. Honda terbukti kompetitif di sini (Furusato P3 di Moto3 2025) .
    T13 Kanan Tikungan panjang yang menuntut keberanian. Keberanian: Veda tidak gentar mengambil risiko di tikungan cepat.
    T14 “Mira & Cuc” (Kanan) Tikungan terakhir, penentu akselerasi ke trek lurus start/finish. Traksi keluar: Mampu mendaratkan tenaga dengan mulus. Jika Veda bisa keluar lebih cepat, ia siap menyalip di garis finis.

    Fakta Menarik: Veda Ega dan Hakim Danish sama-sama punya pengalaman di Catalunya. Dalam dua balapan JuniorGP 2025, Veda mengoleksi 18 poin sementara Hakim 17 poin. Veda finis P6 dan P8, unggul tipis dari rivalnya yang sempat finis P9 dan P6 .

    Potensi Pace dan Data Pendukung

    Data Telemetri JuniorGP (Catalunya 2025)

    Sesi Posisi Veda Catatan Waktu (indikasi) Gap ke Pemenang
    Race 1 P6 1 menit 48,2 detik (estimasi) ~ +9,5 detik
    Race 2 P8 1 menit 48,5 detik (estimasi) ~ +10,1 detik

    Catatan: Waktu di atas adalah perkiraan berdasarkan standar pace Moto3 di Catalunya.

    Catatan Penting: Veda datang dengan status Rookie of the Year (50 poin) dan finis P4 di Le Mans. Level motornya di Moto3 (NSF250RW) tentu sudah jauh lebih kompetitif dibanding JuniorGP. Dengan kata lain, potensi peningkatan waktunya sangat besar…

    Berdasarkan analisis kekuatan dan kelemahan, berikut strategi ideal bagi Veda:

    1. Start Eksplosif (T1): Harus merebut posisi sebaik mungkin di tikungan pertama untuk menghindari terjebak di belakang rombongan tengah yang rawan crash.

    2. Kunci Sektor 2 (T5-T9): Veda harus “mengirit ban” di sini. Tidak perlu memaksakan diri menyalip jika motor KTM lebih kencang, cukup tempel dan jangan sampai putus kontak.

    3. Gas Pol di Sektor 3 (T10-T14): Di sinilah Veda menyerang. Corner speed yang tinggi dan traksi keluar yang mulus akan menjadi senjata utamanya untuk merebut posisi di lap-lap akhir.

    Jika kualifikasi lancar (Start P1-P8), Veda diprediksi finis di P4 hingga P7. Namun, jika ia berhasil “mencuri” start yang bagus dan masuk ke dalam grup pemimpin, podium bukanlah hal yang mustahil .

    Last….Veda Ega memiliki kombinasi pengalaman, gaya balap, dan motor yang pas untuk Sirkuit Catalunya. Kelemahan motor KTM di tikungan cepat adalah celah besar yang harus ia manfaatkan. Veda bisa survive di sektor 1-2, lalu “banting setir” di sektor 3 untuk merebut posisi. Jika cuaca cerah dan tidak ada insiden di awal, Veda adalah kandidat kuat Top 5, dan siap mencuri podium jika para pembalap KTM melakukan kesalahan . Siapkan kopi dan dukung Veda Ega Pratama di Moto3 Catalunya cak…gazzz ! (iwb)

  • Gawattt…Motogp Pecah, Liberty Media dan MSMA Perang Dingin !!

    Gawattt…Motogp Pecah, Liberty Media dan MSMA Perang Dingin !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Konflik antara MotoGP Sports Entertainment Group (dulu Dorna) dan para pabrikan (MSMA) mengenai pembagian pendapatan untuk kontrak baru Concorde Agreement 2027-2031 memasuki babak baru. Setelah para pabrikan berusaha bersatu dengan tembok kokoh, Liberty Media dan keluarga Ezpeleta kembali menggunakan strategi klasik: “divide and conquer” (pecah belah dan kuasai). Ini jelas gawat cak….sebab kini Motogp Pecah, Liberty Media dan MSMA Perang Dingin !!

    Jadi cak…dunia balap kasta tertinggi alias MotoGP lagi nggak baik-baik saja! Kalau biasanya kita bahas soal lap time atau adu kencang di trek, kali ini tensinya justru lebih panas di meja perundingan. Liberty Media, bos baru yang juga empunya Formula 1, ternyata mulai menunjukkan “taring” aslinya. Dan jujur saja cakk… gaya mainnya bener-bener bikin pabrikan pusing tujuh keliling!

    IWB dapet bisikan panas dari Jerez, ada istilah ngeri yang muncul: Divide and Conquer! Alias pecah belah dan kuasai. Wahhh… opo ora ngeri kuwi cakk?

    Jadi ceritanya begini…

    Liberty Media, di bawah komando Derek Chang, sekarang lagi bergandengan mesra sama Carmelo Ezpeleta. Mereka punya satu misi: Gimana caranya pabrikan nggak terlalu dominan ngatur jalannya balapan. Karena apa? Karena selama ini yang namanya MSMA (asosiasi pabrikan) itu kompak banget kayak pasukan elit, susah ditembus!

    Nah, tuntutan Liberty Media yang paling anyar ini bener-bener bikin dahi mengkerut:

    1. Pecah Kekuatan MSMA: Liberty ogah dengerin suara kolektif. Mereka pengennya negosiasi face-to-face sama masing-masing merk. Strateginya cerdik cakk… mereka “ngerayu” Honda dulu, terus Ducati dicolek, supaya yang lain kayak Yamaha atau KTM akhirnya kepojok sendiri. Kalau satu sudah tanda tangan, yang lain pasti rontok satu-satu.

    2. Kuasai Aliran Duit: Pabrikan sebenernya minta bagi hasil (revenue sharing) yang lebih gede buat modal riset. Tapi Liberty kabarnya lebih pelit soal ini. Mereka lebih milih duitnya dipake buat promosi jor-joran biar MotoGP makin viral di Amerika. Intinya: “Kalian balapan aja yang bener, urusan cuan dan promosi biar kami yang atur total!”

    3. Regulasi 2027 Tanpa Debat: Liberty pengen mesin 850cc dan sunat aero serta ride-height device segera diteken tanpa banyak protes. Tujuannya biar balapan lebih banyak aksi salip-salipan (hiburan), padahal buat pabrikan, ini artinya buang-buang duit buat riset dari nol lagi.

    Puncaknya pas di Jerez kemarin, cakk. Ada acara makan malam resmi tapi malah kayak “kuburan”. Yamaha, Aprilia, sama KTM kompak memboikot alias nggak dateng! Bayangin, acara sekelas itu tapi kursinya kosong melompong. Ini sinyal perang terbuka antara produsen motor lawan promotor.

    Tapi ya itu tadi cakk… Liberty Media bukan pemain baru. Mereka pinter banget mainin psikologi. Kabar terakhir, Honda malah konon sudah “manut” duluan. Kalau raksasa Jepang sudah luluh, otomatis posisi tawar Lin Jarvis (Yamaha) dkk jadi makin lemah.

    Last…Liberty Media pengen MotoGP itu jadi show bisnis murni kayak F1. Pabrikan nggak boleh terlalu banyak protes soal aturan teknis atau bisnis. Pokoknya ikut aturan main bos baru, atau ketinggalan kereta. Dunia politik emang kejam cakk, lebih kejam dari persaingan ban gundul di lap terakhir! Kita pantau terus perkembangannya, semoga aja ego masing-masing pihak nggak malah ngerusak kualitas balapan yang kita cintai ini. MotoGP 2027? Bakal panas luar dalem ini sih.. (IWB)

  • Marco Melandri sebut Marc Marquez dalam Keraguan Luar biasa…waduhh !!!

    Marco Melandri sebut Marc Marquez dalam Keraguan Luar biasa…waduhh !!!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…Selain sibuk jadi komentator, beberapa bulan terakhir kita juga sering melihat Marco Melandri jadi pundit bareng Davide Valsecchi di acara baru mereka, Chiacchiere da Box. Di sini mereka bedah tuntas berita dunia roda dua dan roda empat. Dan yang terbaru cak…Melandri bercerita soal musim MotoGP 2026. Menurutnya, Aprilia sekarang lagi punya “darah” lebih, sementara Ducati lagi pusing karena kehilangan Marc Marquez yang baru saja naik meja operasi setelah crash di Le Mans sabtu kemarin. Menurutnya lagi….Marco Melandri sebut Marc Marquez dalam Keraguan Luar biasa…waduhh !!!

    Berikut interview GPone dengan Marco yang menyoroti beberapa poin penting di Motogp 2026….

    Soal Kondisi Marc Marquez: “Sejak dia balik bulan Februari lalu, dia bukan lagi pembalap yang sama seperti tahun kemarin. Gerakannya lebih tertahan, nggak natural. Menurutku, dia cuma mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau dia baik-baik saja, padahal nggak. Saraf itu bukan tulang; nggak bisa cuma dipasang baut terus beres. Kalau saraf rusak, risikonya nggak akan pernah sembuh total. Makanya, dia nggak bisa nunggu jeda musim panas lagi, harus operasi sekarang juga!”

    Gimana Prospek Marc ke Depan? “Dia lagi di persimpangan jalan: antara balik ke performa tahun lalu, atau kalau nggak, menurutku dia sudah habis (selesai). Aku lihat dia capek, energinya habis. Di Ducati dia juga dibebani banyak acara promosi, itu sangat menguras tenaga. Yang bikin aku heran, dia sudah nggak pernah senyum lagi di pit, padahal tahun lalu tiap kena kamera dia selalu tersenyum”

    Apa Sekarang Aprilia Motor yang Harus Dikalahkan? “Iya, karena aku nggak lihat ada celah lemahnya. Dulu mereka payah di sirkuit dengan tikungan patah (slow corner), tapi sekarang sudah nggak. Menurutku, Jorge Martin sudah menaikkan standar lebih tinggi, dia lagi kencang-kencangnya sepanjang hidupnya. Bezzecchi juga kuat, tapi Martin punya ‘sesuatu’ yang lebih sekarang. Dia punya rasa percaya diri yang gila.”

    Soal Strategi Ducati yang Kehilangan Banyak Pembalap Muda: “Dall’Igna bertaruh besar buat Marc, tapi di sisi lain Ducati kehilangan banyak pembalap kuat. Sekarang, di atas kertas, cuma Marquez yang benar-benar bisa tarung buat gelar juara dunia—selama hitungan poinnya masih memungkinkan. Tapi di saat yang sama, Aprilia sepertinya sudah memegang kendali kejuaraan. Diggia memang punya pace, tapi itu nggak cukup buat mukul Aprilia; butuh sesuatu yang lebih besar.”

    Soal Bagnaia di Le Mans: “Positifnya, aku lihat Bagnaia sudah kencang lagi. Di Le Mans kemarin menurutku dia cuma terlalu memaksakan diri. Kalau lihat tayangan ulangnya, sebelum lowside, motornya sudah goyang beberapa kali di bagian depan. Tapi yang penting dia pulang dengan mentalitas kalau dia masih kencang. Buat pembalap, itu fundamental banget setelah setahun setengah yang sulit.”

    Apakah Juara Dunia Bakal Jadi Duel Internal Aprilia (Martin vs Bezzecchi)? “Iya, karena Martin sudah kencang dari beberapa bulan lalu padahal sempat lama nggak balapan. Mentalnya tahu kalau dia bisa berkembang. Sedangkan Bezzecchi, karena dia sudah sering menang dan mendominasi, lebih susah buat melangkah lebih jauh lagi. Martin sekarang punya kepercayaan diri yang luar biasa. Start-nya juga gila, kayak roket! Kalau orang lain yang start kayak gitu, pasti sudah jadi omongan di mana-mana.”…tutupnya…(iwb)

  • Jorge Martin vs Bezzecchi…Aprilia kuatir terjadi Perang Dingin !!

    Jorge Martin vs Bezzecchi…Aprilia kuatir terjadi Perang Dingin !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…Aprilia sukses mencetak sejarah di MotoGP Prancis dengan meraih podium 1-2-3 yang pertama kali dalam sejarah pabrikan tersebut. Jorge Martin menjadi pemenang, diikuti Marco Bezzecchi dan Ai Ogura (Trackhouse Aprilia). Di balik euforia kemenangan, CEO Aprilia, Massimo Rivola, buka suara tentang manajemen dua pembalap utamanya yang kini hanya terpaut satu poin di klasemen. “Aturan satu-satunya yang akan saya berikan kepada Bezzecchi dan Martin sederhana: hormat,” tegas Rivola….

    Rivola mengakui bahwa akhir pekan di Le Mans adalah sesuatu yang gila dan bersejarah.

    “Ini adalah sejarah yang harus ditandai di kalender. Untuk dua alasan. Pertama, karena kami belum pernah memiliki podium all-Aprilia sebelumnya. Kedua, karena tepat satu tahun yang lalu, di Le Mans, Jorge Martin berlari menemui kami untuk memberi tahu bahwa dia akan pergi. Setahun kemudian, kami merayakan akhir pekan yang sensasional. Ini adalah sumber kepuasan yang luar biasa.”

    Martin, yang setahun lalu sempat ingin meninggalkan Aprilia karena ragu dengan proyek tersebut, kini menjadi salah satu pilar kesuksesan pabrikan asal Noale itu. Ketika ditanya bagaimana mencapai hasil seperti ini, Rivola menjawab:

    *“Anda bekerja dengan keyakinan bahwa pilihan Anda adalah pilihan yang tepat. Hari ini, saya rasa kami mendapat konfirmasi lain bahwa pilihannya tepat. Saya telah mengatakan ini sejak kemenangan pertama di Argentina pada 2022: bekerja keras dan percaya pada hal itu adalah resep yang selalu berhasil. Saya sangat percaya pada ide-ide tim dan mencoba menyampaikannya kepada orang-orang agar mereka dapat bekerja lebih baik. Dan kemudian kami memiliki konduktor seperti Fabiano Sterlacchini yang melakukan pekerjaan luar biasa, bersama dengan tim teknis tingkat atas.”*

    Rivola juga mengakui bahwa ia harus meyakinkan Martin untuk percaya pada proyek Aprilia.

    “Ya, dan saya pikir kami berhasil melakukannya dengan baik. Sedikit paksaan dan sedikit bujukan, sejujurnya. Pada awalnya, saya bersikap cukup keras karena saya tidak bisa menerima bahwa dia berpikir kami tidak cukup kuat. Tapi kemudian ada juga sisi manusianya, karena Jorge melewati masa-masa yang sangat sulit. Emosi yang dia rasakan setelah melewati garis finis sangat bisa dimengerti, begitu juga bagi kami.”

    Meskipun saat ini Aprilia terlihat sangat kuat, Rivola memilih untuk tetap membumi.

    “Ya, saya pikir kita bisa mengatakan bahwa Aprilia adalah motor yang harus dikalahkan saat ini, tapi saya tidak ingin terdengar pesimis—menurut saya, ini masih terlalu dini. Jika kita melihat jaraknya, kita benar-benar berbicara tentang hal yang sangat kecil: Pedro Acosta, Di Giannantonio… mereka semua ada di sana; dalam satu balapan, segalanya bisa berubah. Dalam kualifikasi, kami tidak memiliki tiga Aprilia di depan, jadi saya masih akan tetap membumi.”

    Manajemen Dua Pembalap Top: Satu Aturan Sederhana

    Rivola menekankan bahwa tantangan terbesar adalah mengelola dua pembalap sekaliber Bezzecchi dan Martin dalam satu garasi. Mereka kuatir kedepan akan ada perang dingin jika tidak dikelola dengan baik. Namun, ia percaya pada profesionalisme mereka.

    “Satu-satunya aturan yang kami miliki adalah hormat. Ketika rasa hormat hilang antara dua pembalap, Anda akan langsung melihatnya. Menyalip hari ini? Marco sedikit mengendurkan rem untuk mencobanya, tapi itu adalah menyalip yang bersih. Selama mereka saling menyalip seperti itu antara rekan setim, tidak masalah. Jika mereka mulai masuk dengan siku, maka itu saatnya untuk berbicara. Mereka saling mengenal dengan baik dan juga tahu di trek mana satu sama lain mungkin lebih kuat. Tapi mereka juga tahu mereka tidak bisa meninggalkan poin di lintasan.”

    Rivola juga memberikan analisis tentang pesaing utamanya, Ducati.

    “Menurut pendapat saya, Ducati jelas telah mencapai lebih sedikit dari yang seharusnya, karena motor mungkin lebih kuat daripada yang ditunjukkan oleh klasemen saat ini. Itulah mengapa saya masih sedikit berhati-hati—dan sedikit superstitius.”

    Mengenai pelukan emosional dengan Martin yang memicu spekulasi tentang kemungkinan reuni masa depan, Rivola menjawab:

    “Itu akan sangat menyenangkan, tapi saya pikir Jorge sudah membuat pilihannya sejak lama. Dan sejujurnya, saya tidak menyalahkannya. Tahun lalu dia tidak dalam kondisi fisik yang baik, dia menerima tawaran penting… wajar jika dalam situasi seperti itu, kepercayaan bisa goyah, mungkin bahkan pada dirinya sendiri. Tapi saya akan memberikan segalanya untuk Marco, saya akan memberikan segalanya untuk Jorge, dan saya akan meminta tim untuk melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, siapa yang paling pantas akan berada di depan. Titik.”

    Rivola memuji pertumbuhan Bezzecchi di dalam proyek Aprilia.

    “Hal yang hebat adalah pertumbuhannya saling menguntungkan. Motor telah meningkat berkat umpan baliknya, dan dia telah tumbuh luar biasa sebagai pembalap. Hari ini kami memiliki gambaran yang sangat jelas tentang apa yang ada di pikirannya. Dia siap.”

    Ia juga menyoroti keunggulan Martin yang sudah berpengalaman memperebutkan gelar juara dunia.

    “Jorge memiliki keuntungan besar: dia sudah pernah menang dan kalah dalam Kejuaraan Dunia, bertarung hingga akhir. Itu penting dalam mengelola kejuaraan. Posisi kedua Marco hari ini sangat berharga. Mungkin di masa lalu dia akan mengambil terlalu banyak risiko untuk menang dan mungkin membuat kesalahan. Melihat mereka berdua di depan hari ini adalah sumber kepuasan yang luar biasa, dalam hal kecepatan, kedewasaan, dan pertumbuhan.”

    Rivola mengakhiri dengan mengenang momen paling sulit dengan Martin setahun lalu.

    “Saya sangat yakin dengan pilihan kami, sangat yakin dengan tim, dan sangat yakin bahwa Fabiano dapat membantu kami membuat lompatan terakhir. Saya selalu berkata kepada Jorge: ‘Kau akan lihat, kau akan menang bersama kami.’” tutupnya…(iwb)

  • Gawatt !! Cedera Terbaru Marquez bisa Ancam Skill Balap Permanen ?!

    Gawatt !! Cedera Terbaru Marquez bisa Ancam Skill Balap Permanen ?!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Marc Marquez, sudah menjalani operasi bahu yang telah dijadwalkan. Namun, di balik keputusan untuk mengangkat sekrup yang menekan saraf, tersimpan sebuah misteri medis yang jauh lebih kompleks: apakah saraf yang tertekan berbulan-bulan telah mengalami kerusakan permanen? Waduhhhh….

    Laporan dari dalam kubu Ducati mengungkapkan bahwa situasi ini jauh lebih rumit dari yang terlihat. Operasi bisa menghasilkan dua skenario yang sangat berbeda: penyelesaian masalah secara total, atau konsekuensi neurologis permanen. Anatomi saraf median (median nerve) —yang ditandai dengan warna kuning dalam ilustrasi medis—berasal dari pleksus brakialis di bahu, menjalar ke seluruh lengan dan lengan bawah, hingga ke tangan. Saraf ini mengendalikan sebagian besar kekuatan dan sensasi di ibu jari, telunjuk, dan jari tengah.

    Ketiga jari ini adalah jari yang penting untuk pengereman, kontrol gas, dan mengendalikan motor MotoGP di batas tertinggi.

    Pada kasus Marquez cak, sekrup yang patah (akibat tabrakan dengan Bezzecchi di Indonesia) bergeser posisi hanya satu-dua milimeter, tetapi cukup untuk menekan saraf median secara intermiten (tidak terus-menerus) pada posisi bahu dan lengan tertentu.

    Mengapa Gejala Hanya Muncul di Atas Motor?

    Inilah kunci misterinya. Marquez merasa baik-baik saja dalam kehidupan sehari-hari atau saat latihan motocross. Namun, begitu ia berada di atas motor MotoGP—dengan posisi lengan terentang jauh ke depan dan menerima tekanan konstan—masalahnya mulai muncul.

    “Lengan saya secara bertahap berhenti mengimbangi (motor),” ujar Marquez.

    Secara medis, kompresi saraf yang berkepanjangan dapat menyebabkan:

    • Kehilangan kekuatan di tangan dan lengan bawah

    • Kesulitan motorik halus (fine motor skills)

    • Sensasi “lengan mati” (dead arm sensation)

    • Kram dan penurunan sensitivitas

    Ini menjelaskan perilaku tidak biasa Marquez di lintasan: kecelakaan aneh, ketidakmampuan bereaksi dalam duel, dan inkonsistensi berkendara yang ia akui sendiri tanpa bisa memahami penyebabnya.

    Dua Skenario Pasca Operasi

    Skenario Deskripsi Kemungkinan
    Optimal Kompresi bersifat intermiten (tidak terus-menerus). Setelah sekrup diangkat, saraf pulih dan kekuatan kembali normal. Masih terbuka
    Kurang Optimal Kompresi berlangsung terlalu lama, menyebabkan kerusakan neurologis permanen. Kekuatan tidak pulih sepenuhnya. Masih terbuka

    Fakta bahwa masalah terutama muncul saat membalap—dan tidak dalam aktivitas lain—justru meninggalkan kemungkinan positif: kompresi bersifat intermiten. Jika itu masalahnya, kerusakan neurologis bisa terbatas atau bahkan reversibel setelah penyebab mekanis dihilangkan.

    Berapa lama saraf tertekan? Ini adalah pertanyaan jutaan dolar. Semakin lama kompresi, semakin besar risiko kerusakan permanen.

    Kabar baiknya: determinasi Marquez yang hampir obsesif bisa menjadi aset besar. Pemulihan neurologis sangat terbantu oleh stimulasi neurofisiologis berkelanjutan, latihan khusus, dan terapi. Hanya sedikit pembalap dalam sejarah yang mampu menahan rasa sakit, kelelahan, dan rehabilitasi seperti Marc Marquez.

    Namun, tanda tanya terbesar bukanlah fisik. Pemulihan neurologis seringkali menuntut kesabaran dan keseimbangan mental. Otak juga perlu belajar untuk sepenuhnya mempercayai kembali lengan kanan yang pernah “mengkhianatinya” di kecepatan 300 km/jam.

    Pekan-pekan mendatang akan menjadi penentu. Hanya setelah operasi dan dengan berjalannya waktu, akan jelas apakah Marquez dapat sepenuhnya mendapatkan kembali kekuatan yang dibutuhkan untuk mengendarai motor MotoGP di batas tertinggi, atau apakah kali ini kariernya akan menghadapi tantangan terberat yang pernah ia alami. Karena saraf ini bisa membunuh skill balap secara permanen..amsyong tenan !! (iwb)

  • Brembo beberkan sadisnya trek Le Mans…..suhu Kampas Nyaris 1000 Derajat Celcius !!

    Brembo beberkan sadisnya trek Le Mans…..suhu Kampas Nyaris 1000 Derajat Celcius !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Sirkuit Bugatti di Le Mans kembali membuktikan reputasinya sebagai salah satu lintasan paling menantang dalam kalender MotoGP 2026. Berdasarkan data terbaru dari para teknisi Brembo, sirkuit sepanjang 4,185 km ini masuk dalam kategori sirkuit dengan tingkat kesulitan pengereman yang sangat tinggi (highly demanding). Yup…rembo beberkan sadisnya trek Le Mans…..suhu Kampas Nyaris 1000 Derajat Celcius !!

    Pada skala indeks kesulitan 1 hingga 6, Brembo memberikan nilai 4 untuk GP Prancis tahun ini. Angka tersebut menempatkan Le Mans sejajar dengan sirkuit Jerez dalam hal beban kerja yang harus ditanggung oleh sistem pengereman motor-motor prototipe MotoGP.

    35% Durasi Balapan di Atas Rem

    Salah satu aspek yang membuat Le Mans begitu menguras komponen rem adalah desainnya yang bertipe stop-and-go cak. Dalam satu lap, pembalap menggunakan rem sebanyak 10 kali dengan total durasi pengereman mencapai 31,5 detik. Artinya, sekitar 35% dari total waktu balapan dihabiskan pembalap dengan menekan tuas rem.

    Terdapat dua titik pengereman yang masuk kategori High, enam titik kategori Medium, dan dua titik kategori Light. Singkatnya jeda antar tikungan membuat piringan cakram karbon memiliki waktu yang sangat sedikit untuk mendinginkan suhu sebelum kembali bekerja keras di tikungan berikutnya.

    Titik Terberat: Tikungan 8 (Garage Vert)

    Meskipun pengereman di Tikungan 9 juga sangat intens, Brembo mencatat Tikungan 8 (Garage Vert) sebagai titik paling kritis bagi pengereman di sirkuit Bugatti. Di area ini, motor MotoGP harus:

    • Melambat dari kecepatan 263 km/jam ke 78 km/jam.

    • Menempuh jarak pengereman sejauh 209 meter.

    • Pembalap memberikan beban sebesar 5,8 kg pada tuas rem.

    • Tekanan minyak rem mencapai 12,4 bar dengan gaya deselerasi hingga 1,5 g.

    Untuk menghadapi beban ekstrem ini, tim-tim MotoGP dibekali dengan berbagai pilihan cakram karbon dari Brembo. Sepanjang akhir pekan di Prancis, suhu operasional rem berada di rentang 250°C hingga 850°C. Yup…Nyaris 1000°C cak…

    Penggunaan finned caliper (kaliper bersirip) GP4 menjadi standar utama untuk membantu disipasi panas. Jika suhu rem melonjak melampaui batas optimal, efisiensi pengereman akan menurun, yang bisa berakibat fatal pada stabilitas bagian depan motor—sebagaimana yang sempat dikeluhkan beberapa pembalap setelah sesi balapan.

    Statistik Menarik Brembo di GP Prancis 2026:

    • Total beban tuas rem: Setiap pembalap secara kumulatif menarik tuas rem dengan beban total sekitar 900 kg – 975 kg sepanjang balapan berlangsung.

    • Kecepatan tertinggi: Beberapa motor mencatatkan kecepatan lebih dari 300 km/jam sebelum masuk ke zona pengereman keras di Tikungan 9 (Chemin aux Bœufs).

    Last….Dengan data ini, tidak heran jika sektor pengereman menjadi kunci utama dalam perebutan podium di Le Mans, di mana keseimbangan antara pengereman agresif dan manajemen suhu karbon menjadi penentu kemenangan. Yup..sebuah data luar biasa yang membuat kita melek, betapa beratnya kerja rem yang membuat tontonan Motogp Menegangkan.  Juozzz !! (iwb)

  • Dlosorrr di Le Mans….Pecco salahkan Motor !!

    Dlosorrr di Le Mans….Pecco salahkan Motor !!

    Iwanbanaran.com – Cakkkk….Harapan Francesco ‘Pecco’ Bagnaia untuk meraih podium Minggu pertamanya di musim 2026 harus pupus di Sirkuit Bugatti, Le Mans. Pembalap utama Ducati Lenovo Team tersebut mengalami kecelakaan saat berada di posisi kedua, menyisakan tanda tanya besar bagi para penggemar sebelum akhirnya ia memberikan penjelasan teknis.

    Bagnaia, yang memulai balapan dari pole position, sempat melorot ke posisi kelima pada lap pembuka. Namun, ia berhasil menunjukkan performa luar biasa untuk merangkak naik kembali ke posisi kedua, membayangi pemimpin balapan saat itu, Marco Bezzecchi (Aprilia).

    Petaka terjadi pada lap 16 dari total 27 lap. Saat mencoba menjaga ritme untuk mengejar Bezzecchi, Bagnaia kehilangan kendali bagian depan motornya di chicane pertama. Insiden ini membuatnya gagal finis (Did Not Finish) dan kehilangan poin krusial di klasemen sementara….

    ” Kami bekerja dengan baik dan berkembang pesat akhir pekan ini. Kami tampil kompetitif di balapan hari ini, dan meskipun kami sangat kesulitan saat melakukan start, saya berhasil kembali menemukan ritme kecepatan. Sayangnya, kami mengalami masalah kecil, dan lap demi lap, saya mulai kehilangan kepercayaan diri pada bagian depan motor (front end) saat mencoba mempertahankan kecepatan yang sama. Hal seperti ini bisa terjadi, dan kami akan mencoba memperbaikinya…

    “Kami tahu penyebab saya terjatuh, jadi tim pasti sedang mengerjakannya. Ini bukan kesalahan manusia (human error), dan hal semacam ini memang bisa terjadi. Kehilangan rasa percaya diri pada motor ini terjadi dalam tujuh lap terakhir atau sekitar itu, dan sayangnya, kondisinya semakin memburuk hingga saya tidak bisa menikung seperti yang saya inginkan….

    “Namun, kami tahu persis mengapa saya terjatuh, dan itu adalah sesuatu yang sangat membantu kami. Kami tampil cepat sepanjang akhir pekan, kami meraih pole position. Hari ini kami ada di barisan depan, kami berada di belakang Bez (Marco Bezzecchi) pada awalnya, tapi saya mampu mengelola semuanya dengan cukup baik, dan sayangnya apa yang terjadi, terjadilah…

    “Saya memiliki kepercayaan penuh pada pekerjaan yang kami lakukan, dan saya yakin kami akan tiba di Barcelona minggu depan dengan kemajuan besar sejak sesi tes. Saya berharap kami bisa melangkah lebih jauh lagi untuk menyamai, atau bahkan melampaui, performa Aprilia.”serunya…

    Dari sana cak artinya Bagnaia menegaskan bahwa kecelakaan tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan teknis dalam cara ia berkendara (human error), melainkan adanya masalah teknis berulang pada motornya.

    • Masalah Front-End: Pecco merasakan hilangnya stabilitas pada ban depan yang memburuk dalam tujuh lap terakhir sebelum ia akhirnya terjatuh.

    • Masalah Berulang: Menariknya, Bagnaia menyebutkan bahwa kendala ini serupa dengan apa yang ia alami di seri sebelumnya di Spanyol.

    • Analisis Data: “Kami tahu persis mengapa saya jatuh. Tim sedang mengerjakannya. Hal ini bisa terjadi dalam balapan, tapi yang terpenting kami punya datanya,” tambahnya.

    Last…Jatuhnya Bagnaia memuluskan jalan bagi Aprilia untuk mencetak sejarah dengan menyapu bersih podium (1-2-3) melalui Jorge Martin, Marco Bezzecchi, dan Ai Ogura. Dengan hasil ini, posisi Bagnaia di klasemen sedikit tertinggal. Namun, dengan kecepatan yang ia tunjukkan sepanjang akhir pekan di Prancis—termasuk raihan pole position dan podium di sesi Sprint—pembalap asal Italia ini tetap optimis menyongsong balapan berikutnya di Catalunya…(iwb)