Category: Racing

  • ” Motogp Modern Hancurkan badanmu !! ” seru Legendaris Randy Mamola

    ” Motogp Modern Hancurkan badanmu !! ” seru Legendaris Randy Mamola

    Iwanbanaran.comCaaakkk… Legenda GP500 asal Amerika Serikat, Randy Mamola, baru-baru ini angkat bicara mengenai evolusi fantastis sekaligus mengerikan dari motor-motor MotoGP era modern. Menurut Mamola, monster prototipe masa kini tidak cuma makin kencang dan canggih, tapi juga menuntut fisik pembalap hingga batas maksimal. Bahkan, beliau tak ragu menyebut bahwa motor MotoGP jaman now benar-benar sanggup “mencincang” atau menghancurkan fisik para rider jika tidak dalam kondisi kebugaran puncak! Waaahhh….

    Dalam wawancara terbarunya, Randy Mamola menyoroti betapa dramatisnya perubahan gaya balap dan beban fisik yang dipikul para pembalap dibanding eranya dulu. Jika di era 2-tak 500cc atau awal era 800cc/1000cc pembalap lebih banyak bertarung melawan wheelie dan keliaran keliaran slide ban belakang, maka di era modern aerodinamika (wings/winglets) dan ride-height device mengubah peta permainan secara radikal. Downforce melimpah yang dihasilkan oleh aero-body modern membuat motor menempel erat ke aspal saat pengereman keras (hard braking) dan cornering kecepatan tinggi. Hasilnya? G-Force yang diterima tubuh pembalap melonjak drastis!

    “Motor MotoGP hari ini memiliki grip dan downforce yang luar biasa. Tapi konsekuensinya, pengereman menjadi sangat lambat dan brutal. Otot lengan, bahu, hingga leher pembalap menahan beban penahanan yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Jika fisikmu tidak 100% sempurna, motor ini akan menghancurkanmu secara fisik,” papar Mamola.

    Dampak dari tingginya beban fisik ini terbukti dari maraknya kasus Arm Pump (Compartment Syndrome) serta cidera bahu dan tulang belakang yang dialami grid pembalap modern. Jadwal Sprint Race yang padat di akhir pekan balap disinyalir kian memperparah tekanan fisik tersebut.

    Mamola menambahkan bahwa kecepatan sudut (cornering speed) dan beban saat melakukan perpindahan arah (direction change) pada kecepatan di atas 200 km/jam membutuhkan tenaga ekstra keras. Pembalap tidak lagi sekadar menunggangi motor, melainkan harus bertarung mengendalikan gaya fisika yang diciptakan oleh perangkat aerodinamika canggih.

    Regulasi 2027: Angin Segar yang Dinanti

    Menanggapi fenomena ini, Mamola menyambut positif perubahan regulasi besar-besaran yang akan diterapkan Dorna pada musim 2027 mendatang—termasuk pemangkasan kapasitas mesin dadi 850cc, pembatasan ketat perangkat aerodinamika, serta penghapusan ride-height/holeshot device. Menurutnya, langkah ini sangat krusial tidak hanya untuk mengembalikan aspek pure riding skill ke tangan pembalap, melainkan juga demi menjaga keselamatan serta memperpanjang karier para rider di kelas para raja.

    Last….Ucapan Mamola ini jelas merangkum apa yang kita lihat di lintasan beberapa musim terakhir cak. Lihat saja betapa seringnya pembalap top bertumbangan dan mengeluhkan masalah fisik pasca-balapan. Kuda besi modern memang makin canggih dan predictable, tapi kompensasi energi yang disedot dari tubuh pembalap jan sangat gila-gilaan! Piye menurut sampeyan cak? Lebih suka melihat MotoGP aero modern yang super kencang, atau kembali ke era balap murni tanpa wings dan ride-height device? (iwb)

  • Toprak Razgatlioglu Kaget Engineering Yamaha Ternyata sangat Lambat !!

    Toprak Razgatlioglu Kaget Engineering Yamaha Ternyata sangat Lambat !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Ketimpangan kecepatan pengembangan teknis antara pabrikan Eropa dan Jepang kembali menjadi sorotan utama di paddock MotoGP. Kali ini, pembalap tim Pramac Yamaha, Toprak Razgatlioglu, menyampaikan kritik tajam sekaligus pandangan terbuka mengenai lambatnya alur kerja para insinyur Yamaha di balik layar. Perbedaan budaya kerja ini dinilai menjadi salah satu faktor kunci mengapa pabrikan berbasis di Iwata, Jepang tersebut masih kesulitan mengejar ketertinggalan performa dari para rival utamanya. Yup…Toprak Razgatlioglu Kaget Engineering Yamaha sangat Lambat !!

    Di tengah krisis performa YZR-M1 yang berlanjut sejak sukses meraih gelar juara dunia pada musim 2021, proses evaluasi dan eksekusi komponen baru di internal Yamaha dinilai memakan waktu yang sangat panjang. Dalam wawancara di saluran YouTube resmi Yamaha Motor Europe, Razgatlioglu mengungkapkan pengalamannya berinteraksi langsung dengan para teknisi asal Jepang di dalam garasi. Pembalap berkebangsaan Turki tersebut menyoroti kontrasnya rentang waktu yang dibutuhkan untuk menerapkan pembaruan hardware…

    “Insinyur Jepang, cara kerja mereka, dan perhatian mereka pada detail sangat menyeluruh. Mereka bekerja sedikit lambat, tetapi ketika mereka kembali membawa pembaruan, mereka melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa.”

    “Aku belajar hal ini dari orang-orang Jepang. Ya, semua orang bekerja lambat, tetapi pada akhirnya, mungkin delapan bulan atau satu tahun kemudian, mereka kembali dengan sangat kuat karena semua orang bekerja keras dan memperhatikan detail hingga kita bisa melihat perbedaan yang sangat besar. Bagiku, jujur aku sangat terkejut saat melihat orang-orang Jepang ini. Terkadang aku berbicara dengan mereka di dalam garasi Yamaha, mereka selalu mendengarkan dan mencatat. Aku bertanya, ‘Kapan kalian akan mengubah sesuatu?’ Mereka menjawab, ‘Segera.’ ‘Tapi kapan?’ ‘Mungkin tujuh bulan lagi.’ Aku terkejut. Namun tujuh bulan kemudian saat mereka kembali, hasilnya sungguh luar biasa. Cara kerja insinyur Jepang ini, aku menyukainya.” serunya…

    Rentang waktu hingga tujuh bulan untuk sebuah perbaikan teknis merupakan durasi yang sangat signifikan dalam kejuaraan balap motor kelas dunia. Sementara pabrikan Eropa seperti Ducati atau KTM mampu memproduksi dan menguji revisi sasis maupun paket aerodinamika dalam hitungan pekan, insinyur Jepang tetap memegang teguh filosofi Monozukuri—prinsip manufaktur yang sangat mengutamakan presisi, pengujian bertahap, dan nihil risiko kegagalan teknis. Meski menyayangkan durasi pengembangan yang tergolong lambat, Razgatlioglu mengakui kualitas hasil akhir yang dihadirkan para insinyur Yamaha. Menurutnya, tingkat ketelitian tinggi dalam pengujian komponen mampu menghasilkan peningkatan performa yang substantif ketika paket pembaruan tersebut akhirnya tiba di lintasan.

    Last…Kondisi ini menjadi ujian berat bagi Yamaha yang sedang memacu proyek pengembangan mesin anyar berkonfigurasi V4. Dengan perolehan poin yang masih terbatas di papan bawah klasemen, ketepatan merespons masukan pembalap menjadi krusial. Razgatlioglu mengindikasikan bahwa potensi YZR-M1 sebenarnya cukup untuk bersaing di jajaran lima besar, apabila pembaruan performa dapat direalisasikan secara konsisten. Pertanyaan besar yang tersisa bagi manajemen Yamaha adalah apakah kultur pengembangan yang penuh kehati-hatian ini mampu beradaptasi dengan dinamika kompetisi MotoGP modern yang menuntut efisiensi dan kecepatan respons tinggi…??? (iwb)

  • Marquez Meminta Aero Motogp 850cc di Kurangi lagi….biar adu salip seru !!

    Marquez Meminta Aero Motogp 850cc di Kurangi lagi….biar adu salip seru !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….regulasi teknis anyar MotoGP 2027 yang menurunkan kapasitas mesin jadi 850 cc dan memangkas perangkat aerodinamika ternyata masih belum bikin sang Juara Dunia 8 kali ini puas seratus persen. Marc Marquez secara terbuka angkat bicara mengenai regulasi 2027 tersebut. Menurut doi, perubahan yang bakal diterapkan Dorna dan FIM nanti sebenarnya sudah ke arah yang benar, tapi jujur doi berharap pemangkasan sektor aerodinamika bisa dilakukan lebih ekstrem lagi! Cekidot detailnya, Cak!

    Dalam wawancara terbarunya, Marc Marquez membeberkan pandangannya mengenai pergeseran regulasi dari mesin 1000 cc ke 850 cc. Menurut Marc, penurunan kapasitas mesin tentu bakal memangkas top speed dan potensi kecelakaan fatal di trek-trek lurus panjang. Namun, poin utama yang bikin balapan MotoGP zaman now makin sulit melakukan overtaking alias aksi salip-menyalip justru ada di sektor aerodinamika (downforce/wings)!

    “Penurunan ke mesin 850 cc dan pengurangan aero adalah langkah yang bagus, tapi jujur saya berharap mereka mengurangi aerodinamika lebih banyak lagi,” ungkap Marc.

    Mengapa Marc begitu menyoroti sektor aero ini, Cak?

    1. Turbulensi / Dirty Air: Keberadaan winglet dan fairing canggih menciptakan pusaran angin kotor di belakang motor. Hal ini membuat pembalap di belakangnya sangat sulit menempel ketat saat cornering.

    2. Ban Depan Cepat Panas: Efek downforce berlebih mendorong ban depan terlalu keras ke aspal, bikin suhu dan tekanan ban depan melonjak drastis (overheating) begitu menempel motor lain.

    3. Faktor Pembalap Makin Terdegradasi: Marc menilai bahwa makin rumit sistem aerodinamika dan ride-height device, makin kecil porsi skill murni pembalap untuk membuat perbedaan di lintasan.

    Kembali ke “Pure Riding”: Harapan Marc Buat Balapan Masa Depan

    Marc Marquez yang tumbuh di era motor balap “konvensional” tanpa winglet raksasa mengaku rindu dengan era balapan yang murni mengandalkan kontrol throttle, manajemen ban, dan keberanian manuver di cornering.

    Doi menilai, regulasi 2027 memang sudah menghapus holeshot device dan ride-height device (perangkat pengatur ketinggian motor), yang mana itu merupakan kabar sangat bagus. Namun untuk urusan wings atau sayap aerodinamika, porsi pengurangan yang ditetapkan FIM dinilai Marc masih memberi celah bagi para insinyur pabrikan untuk terus mengeksploitasi downforce.

    “Saat aerodinamika dikurangi secara signifikan, balapan akan kembali menjadi lebih manuverabel, aksi salip-menyalip bakal lebih sering terjadi, dan peran pembalap akan kembali menjadi faktor penentu utama,” tambah sang rider Spanyol.

    Last….apa yang dikatakan Marc Marquez ini memang mewakili jeritan hati banyak pecinta balap sejati, Cak! Regulasi 2027 dengan mesin 850 cc dan penghapusan ride-height device memang sudah merupakan kemajuan besar untuk meredam kecepatan gila-gilaan MotoGP modern. Tapi selama porsi winglet dan aerofairing masih dominan, tantangan dirty air saat overtaking bakal tetap ada. Piye menurut sampeyan, Cak? Setuju nggak sama Marc Marquez kalau sayap-sayap di motor MotoGP harusnya dibabat habis biar balapan makin seru dan banyak aksi salip-menyalip? (iwb)

  • Breaking !! Pecco masuk Meja Operasi…lhoo kenapa ????

    Breaking !! Pecco masuk Meja Operasi…lhoo kenapa ????

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Mengambil momentum libur paruh musim MotoGP 2026, pembalap utama Ducati Lenovo Team, Francesco “Pecco” Bagnaia, mengambil langkah medis krusial dengan masuk meja operasi. Lhoo kenapa ??

    Jadi cak…Pecco menjalani operasi fasciotomi endoskopi guna mengatasi sindrom kompartemen (arm pump) pada lengan kanan bawahnya. Operasi yang berlangsung pada hari Rabu (15/7/2026) waktu setempat di Klinik Ortopedi Policlinico di Modena ini dipimpin langsung oleh Profesor Luigi Tarallo dan di bawah arahan Profesor Fabio Catani. Pihak Ducati mengonfirmasi bahwa seluruh rangkaian prosedur medis berjalan dengan sukses tanpa adanya komplikasi apa pun.

    Keputusan Pecco untuk naik meja operasi di tengah libur musim panas (summer break) memunculkan analisis baru di kalangan pengamat paddock. Sepanjang paruh pertama musim 2026, Bagnaia kerap mengeluhkan hilangnya feel berkendara serta kendala daya cengkeram (grip) pada motor Desmosedici GP-nya. Namun dengan adanya tindakan operasi ini, banyak pihak berspekulasi bahwa masalah performa yang dialaminya tidak murni bersumber dari aspek teknis motor, melainkan keterbatasan fisik akibat arm pump yang selama ini ia tahan. Sindrom kompartemen membuat aliran darah di lengan tersumbat akibat tekanan otot ekstrem saat deselerasi, menyebabkan lengan menjadi kaku, mati rasa, dan kehilangan sensitivitas presisi saat mengendalikan motor MotoGP yang sangat bertenaga.

    Dengan menjalani operasi di awal jeda musim panas, Bagnaia memiliki jendela waktu pemulihan yang cukup ketat sebelum paruh kedua kompetisi kembali bergulir di Sirkuit Silverstone, Inggris, pada 7-9 Agustus 2026. Ducati mengonfirmasi bahwa setelah operasi ini, Pecco akan langsung memulai program pemulihan dan rehabilitasi yang telah dijadwalkan agar siap kembali beraksi di lintasan tepat waktu. Hingga paruh pertama musim 2026 berakhir, juara dunia dua kali ini berada di peringkat kedelapan klasemen sementara dengan raihan 143 poin. Meski sempat menunjukkan taji lewat raihan empat podium Grand Prix berturut-turut serta kemenangan Sprint Race di Brno, Pecco kini tertinggal 65 poin dari Jorge Martín yang kokoh memimpin puncak klasemen. Dengan 11 putaran tersisa di paruh kedua musim, kesembuhan total lengan kanan ini akan menjadi penentu utama apakah Pecco mampu kembali masuk ke dalam jalur perebutan takhta juara dunia MotoGP 2026….(iwb)

  • Jorge Martin Tantang Marquez…” Aku akan Berjuang Mengalahkannya..” !!

    Jorge Martin Tantang Marquez…” Aku akan Berjuang Mengalahkannya..” !!

    Iwanbanaran.com – Cakkkk…seperti yang sampeyan tahu, Sang juara bertahan MotoGP, Jorge Martin, menyadari betul besarnya tekanan yang ia hadapi saat ini. Menjelang jeda musim panas MotoGP 2026, keunggulannya di puncak klasemen terus terkikis oleh ancaman nyata dari pembalap Ducati, Marc Marquez. Saat ditanya mengenai persaingan perebutan gelar juara dunia musim ini, pembalap Aprilia Racing tersebut tidak segan memberikan penghormatan tertinggi kepada rivalnya tersebut. “Tentu saja, tantangan terbesarnya adalah mengalahkan pembalap terbaik dalam sejarah. Jadi, bisa bertarung melawannya saja sudah sangat luar biasa,” ungkap Martin…!!

    Marc Marquez baru saja menunjukkan performa dominan dengan menyapu bersih kemenangan di sesi Sprint dan balapan utama Grand Prix Jerman di Sirkuit Sachsenring. Hasil sempurna ini membuat pembalap berjuluk The Ant of Cervera tersebut melesat ke peringkat ketiga klasemen, hanya tertinggal 18 poin dari Jorge Martin. Padahal, hanya dalam kurun waktu empat seri balapan ke belakang, Marquez sempat tertinggal lebih dari 100 poin. Di sisi lain, performa Martin justru cenderung stagnan sejak kemenangan terakhirnya di Le Mans pada bulan Mei lalu, di mana ia hanya mampu mengamankan dua podium balapan utama setelahnya. Di Sachsenring sendiri, Martin harus puas finis di posisi kelima. Saat ini Martin memimpin klasemen dengan keunggulan 14 poin atas rekan sesama penunggang Aprilia dari tim Trackhouse, Ai Ogura, disusul ketat oleh Marquez di posisi ketiga.

    Meskipun mengakui keunggulan performa Marquez saat ini, pembalap berjuluk Martinator ini menegaskan bahwa dirinya belum menyerah. Ia bertekad memanfaatkan jeda musim panas untuk memulihkan diri dan meningkatkan performa motornya.

    “Saat ini, dia (Marquez) berada di level yang jauh lebih baik daripada kami. Namun, saya rasa ketika saya bisa menyatu 100% dengan motor, saya pasti bisa bertarung melawan Marc. Aku akan Berjuang Mengalahkannya. Aku akan mencoba memberikan 100% kemampuanku selama di rumah, mencoba berkembang setiap hari, dan jika saya mampu bertarung dengannya sampai akhir, itu akan menjadi hal yang luar biasa….” seru Martin. Persaingan musim 2026 ini juga menjadi pertaruhan sejarah bagi Aprilia. Jika Jorge Martin mampu mempertahankan posisinya dan meraih gelar juara dunia, ia akan mempersembahkan titel kelas utama pertama bagi pabrikan asal Noale tersebut, sebelum akhirnya ia beranjak pindah ke Yamaha pada musim depan dengan membawa plat nomor 1. So…apakah Martin mampu mengalahkan Marc ? piye menurut sampeyan cak ? (iwb)

  • Veda Ega Pratama di Moto3 Jerman : Start Ke-13, Finis Ke-8, dan Kembali Salip Hakim Danish !!

    Veda Ega Pratama di Moto3 Jerman : Start Ke-13, Finis Ke-8, dan Kembali Salip Hakim Danish !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…..Veda Ega Pratama, kembali menunjukkan performa gemilang dalam lanjutan Kejuaraan Dunia Moto3 2026 di Sirkuit Sachsenring, Jerman, Minggu (12/7/2026). Membalap untuk Honda Team Asia, Veda sukses melakukan aksi comeback impresif dengan finis di posisi kedelapan setelah memulai balapan dari grid ke-13. Start Ke-13, Finis Ke-8, dan Kembali Salip Hakim Danish !!

    Jalannya Balapan: Duel KTM vs CFMOTO

    Memulai balapan dari posisi terdepan (Pole Position), Brian Uriarte langsung memimpin rombongan sejak lampu hijau menyala. Namun, ia tidak bisa bernapas lega karena Maximo Quiles (CFMOTO Gaviota Aspar Team) terus menempel ketat di posisi kedua. Quiles bahkan sempat mencetak rekor putaran tercepat balapan yang baru (Fastest Lap) pada putaran ke-3 dengan catatan waktu 1 menit 25,227 detik.

    Pertarungan sengit di grup depan melibatkan lima pembalap teratas yang terus saling tekan hingga putaran terakhir. Uriarte akhirnya berhasil menyentuh garis finis pertama dengan total waktu 33 menit 2,694 detik, hanya unggul tipis 0,063 detik dari Quiles yang harus puas berada di tempat kedua. Podium ketiga berhasil diamankan oleh pembalap asal Italia, Matteo Bertelle (LEVEL UP – MTA), yang finis 5,053 detik di belakang sang pemenang.

    Veda Pratama Tampil Solid, Raih Top Speed Tertinggi

    Pembalap muda asal Indonesia yang membela Honda Team Asia, Veda Pratama, menunjukkan performa yang sangat impresif. Mengawali balapan dengan baik, Veda berhasil menjaga konsistensi di tengah ketatnya persaingan sirkuit Sachsenring yang pendek dan teknis.

    Veda akhirnya menyentuh garis finis di posisi ke-8 dengan catatan waktu total 33 menit 18,351 detik (selisih 15,657 detik dari Uriarte). Menariknya, data performa mencatat bahwa Veda Pratama sukses menorehkan kecepatan puncak tertinggi (Event Best Maximum Speed) sepanjang akhir pekan ini, yakni mencapai 216,4 km/jam yang ia cetak saat sesi balapan berlangsung, mengungguli motor-motor KTM yang mendominasi grid.

    Analisis Performa Sektor: Di Mana Veda Pratama Mengungguli Lawan?

    Sirkuit Sachsenring terkenal dengan karakternya yang pendek (3,7 km), sempit, dan didominasi oleh tikungan ke kiri yang mengalir konlong (flowing). Berdasarkan data catatan waktu per sektor, berikut adalah peta kekuatan Veda Pratama:

    • Sektor 1 (Tikungan 1 hingga Tikungan 3): Sektor pembuka yang lambat dan teknis setelah lintasan lurus utama. Di sini, Veda Pratama mencatatkan waktu yang cukup konsisten, namun sering kali tertahan oleh kepadatan rombongan. Keunggulan top speed motor Honda miliknya baru terlihat saat ia melakukan late-braking di Tikungan 1 (Omega).

    • Sektor 2 & 3 (Tikungan 4 hingga Tikungan 10 – The Waterfall Pre-stage): Ini adalah area mengalir di mana pembalap harus menjaga momentum sudut kemiringan motor. Sektor ini didominasi oleh motor-motor KTM dan CFMOTO yang memiliki kelincahan sasis sedikit lebih unggul di tikungan kiri beruntun. Veda kehilangan rata-rata 0,15 hingga 0,2 detik per putaran di area ini dibanding kelompok lima besar terdepan.

    • Sektor 4 (Tikungan 11 The Waterfall hingga Lintasan Lurus Utama): Sektor ini menjadi panggung utama bagi Veda Pratama. Tikungan 11 (The Waterfall) yang merupakan turunan buta berkecepatan tinggi ke arah kanan membutuhkan nyali besar. Keberanian Veda di titik ini, dikombinasikan dengan akselerasi keluar dari Tikungan 13, memungkinkannya mencetak kecepatan puncak tertinggi akhir pekan ini di angka 216,4 km/jam. Keunggulan aerodinamika dan manajemen girboks di trek lurus ini menjadi senjata utama Veda untuk melakukan aksi salip (overtaking) sebelum garis finis.

    Head-to-Head Honda Team Asia: Veda Pratama vs Eddie O’Shea

    Balapan GP Jerman 2026 ini menunjukkan dinamika yang menarik di dalam garasi Honda Team Asia. Meskipun kedua pembalap berhasil mengamankan poin ganda untuk tim, Veda Pratama berhasil mengungguli rekan setimnya, Eddie O’Shea, lewat performa yang lebih klinis.

    Metrik Evaluasi Veda Pratama (Posisi 8) Eddie O’Shea (Posisi 10)
    Total Waktu Balapan 33 menit 18,351 detik 33 menit 18,483 detik
    Selisih Waktu (Gap) +15,657 detik dari P1 +15,789 detik dari P1
    Waktu Putaran Terbaik 1 menit 25,985 detik (Lap 3) 1 menit 26,012 detik (Lap 5)
    Kecepatan Puncak (Top Speed) 216,4 km/jam (Event Best) 213,8 km/jam
    Konsistensi Paruh Kedua Stabil di kisaran 1’26,2 – 1’26,5 Fluktuatif akibat degradasi ban belakang

    Catatan Kekuatan Veda

    1. Manajemen Ban: Di paruh pertama balapan (hingga lap 10), O’Shea sempat menempel ketat Veda dengan selisih kurang dari 0,2 detik. Namun memasuki paruh kedua, gaya balap Veda yang lebih halus di tikungan panjang Sachsenring membuat ban belakangnya bertahan lebih baik. Hasilnya, Veda mampu mempertahankan ritme di angka 1 menit 26,3 detik, sementara O’Shea mulai kedodoran dan turun ke ritme 1 menit 26,7 detik.

    2. Duel Lap Terakhir: Pada putaran penentu, O’Shea mencoba memanfaatkan slipstream Veda di sektor terakhir. Namun, keunggulan top speed Veda (216,4 km/jam) membuatnya mampu mempertahankan posisi ke-8 di garis finis, hanya unggul tipis 0,132 detik dari Ryusei Yamanaka (P9) dan Eddie O’Shea (P10) yang finis hampir bersamaan.

    Catatan waktu terbaik per putaran milik Veda dibukukan pada putaran ke-3 dengan waktu 1 menit 25,985 detik. Hasil finis ke-8 ini memberinya tambahan 8 poin penting untuk klasemen kejuaraan dunia cak

    Banyak Pembalap Tumbang

    Karakter sirkuit Sachsenring yang menuntut konsistensi memakan banyak korban. Tercatat beberapa pembalap mengalami kecelakaan (crashed out) dan gagal finis, di antaranya:

    • Valentin Perrone dan Marcos Uriarte langsung terlibat insiden di putaran pembuka (putaran 1).

    • Casey O’Gorman sempat terjatuh pada putaran ke-7, masuk ke pit, kembali ke lintasan, sebelum akhirnya resmi menyudahi balapan di dalam pit pada putaran ke-15.

    • Scott Ogden terjatuh pada putaran ke-7 namun masih bisa melanjutkan balapan hingga finis di posisi 17.

    • Joel Esteban dan Adrian Cruces mengalami kecelakaan bersamaan pada putaran ke-7 dan harus dibawa ke Medical Centre.

    Last….Veda akhirnya menyentuh garis finis di peringkat ke-8 dengan selisih waktu +15,657 detik dari sang pemenang balapan, Brian Uriarte. Keberhasilan mengamankan posisi 10 besar ini sekaligus membawa angin segar bagi posisinya di papan klasemen kejuaraan dunia. Dengan finis di posisi kedelapan, Veda berhak membawa pulang tambahan 8 poin. Hasil ini membuat posisinya di klasemen sementara Kejuaraan Dunia Moto3 kembali menyalip rival sengitnya asal Malaysia, Hakim Danish. Pada balapan kali ini, Hakim Danish yang membela tim AEON Credit – MT Helmets – MSI hanya mampu finis di posisi ke-12 dan mendapatkan 4 poin. Berkat hasil tersebut, Veda Ega Pratama kini naik ke peringkat ke-6 klasemen sementara dengan total koleksi 90 poin, unggul empat angka atas Hakim Danish yang menguntit di peringkat ke-7 dengan 86 poin dari sebelumnya sama-sama 82 poin.  Performa solid di GP Jerman 2026 ini menjadi modal berharga bagi Veda Pratama untuk terus bersaing di papan atas Moto3 dan menjaga momentum positif pada seri-seri berikutnya. Gooo Vedaaaa….(iwb)

    Hasil Balapan Moto3 Jerman 2026 (Top 10):

    1. Brian Uriarte (SPA) – KTM | 33’02.694

    2. Maximo Quiles (SPA) – KTM | +0.063

    3. Matteo Bertelle (ITA) – KTM | +5.053

    4. Marco Morelli (ARG) – KTM | +5.060

    5. Rico Salmela (FIN) – KTM | +5.139

    6. Adrian Fernandez (SPA) – HONDA | +8.626

    7. Jesus Rios (SPA) – HONDA | +11.418

    8. Veda Pratama (INA) – HONDA | +15.657

    9. Ryusei Yamanaka (JPN) – KTM | +15.774

    10. Eddie O’Shea (GBR) – HONDA | +15.789

  • Kualifikasi Moto3 Jerman : Veda Start P13…..tantangan besar Mendobrak KTM !!

    Kualifikasi Moto3 Jerman : Veda Start P13…..tantangan besar Mendobrak KTM !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….perjalanan kualifikasi Moto3 di Sirkuit Sachsenring, Jerman, penuh dengan kejutan dramatis bagi pembalap muda andalan Indonesia, Veda Ega Pratama. Setelah sempat mencuri perhatian dunia dengan menjadi yang tercepat di sesi latihan, Veda akhirnya harus puas mengamankan posisi start ke-13 dalam sesi Kualifikasi 2 (Q2).

    Sachsenring sebenarnya bukan sirkuit yang asing bagi pemuda asal Gunungkidul ini. Berbekal memori manis di ajang Red Bull Rookies Cup tahun lalu, Veda mengawali rangkaian GP Jerman dengan penuh percaya diri. Pada sesi Practice hari Jumat, ia sukses membuat kejutan besar dengan menorehkan waktu terbaik 1 menit 25,848 detik. Catatan fantastis ini membawanya keluar sebagai pembalap tercepat sekaligus mengamankan tiket lolos otomatis ke babak Kualifikasi 2 (Q2).

    Namun, dinamika balapan kelas Moto3 yang sangat ketat kembali menguji konsistensi pembalap bernomor motor 9 ini saat memasuki hari Sabtu ini cak. Pada latihan bebas kedua (FP2), kecepatan motornya belum keluar secara maksimal sehingga ia sempat terlempar ke posisi bawah sebelum akhirnya bersiap tarung di Q2.

    Hasil Sengit Sesi Q2 Jerman

    Memasuki sesi krusial Q2 untuk memperebutkan posisi start terdepan (pole position), persaingan antar pembalap rookiemaupun veteran berlangsung sangat intens. Veda Ega berupaya keras mempertajam catatan waktunya di sirkuit pendek yang menguras fisik ini.

    Pada akhir sesi kualifikasi, Brian Uriarte dari tim Red Bull KTM Ajo sukses mengamankan posisi start terdepan. Sayang Veda Ega Pratama harus puas menempati urutan ke-13 dengan selisih waktu (gap) hanya 0,693 detik dari sang polesitter. Walau meleset dari target barisan depan (front row), posisi start di baris kelima ini tetap membuka peluang besar bagi Veda untuk merangsek ke zona poin saat balapan utama.

    Menariknya, rival sekaligus rekan sesama pembalap Asia Tenggara, Hakim Danish asal Malaysia, berhasil tampil cemerlang di kualifikasi kali ini dengan mengamankan posisi start ke-3.

    Berikut adalah gambaran posisi 5 besar hasil Q2 Moto3 Jerman beserta posisi Veda Ega:

    Posisi Pembalap Tim
    1 Brian Uriarte Red Bull KTM Ajo
    2 Marco Morelli CFMOTO Gaviota Aspar Team
    3 Hakim Danish AEON Credit – MT Helmets – MSI
    4 Maximo Quiles CFMOTO Gaviota Aspar Team
    5 Alvaro Carpe Red Bull KTM Ajo
    13 Veda Ega Pratama Honda Team Asia

    Fokus Balapan Utama: Karakter Sirkuit Sachsenring yang mengalir dengan dominasi tikungan kiri menuntut manajemen ban yang cerdas. Start dari posisi ke-13 berarti Veda harus melakukan awalan yang agresif sejak lampu start padam demi menghindari kepadatan di tikungan-tikungan awal.

    Last…Balapan utama Moto3 Jerman akan berlangsung sepanjang 23 putaran (lap). Ini menjadi kesempatan emas bagi pembalap berusia 17 tahun tersebut untuk bangkit membayar kegagalan finis (DNF) pada seri sebelumnya di Assen, sekaligus menambah pundi-pundi poin penting di klasemen kejuaraan dunia Moto3 2026. Veda Start P13…..tantangan besar Mendobrak KTM !! semoga bisa cak…(iwb)

  • FP1 MotoGP Jerman: Raul Fernandez Tercepat, Marc Marquez crash !!

    FP1 MotoGP Jerman: Raul Fernandez Tercepat, Marc Marquez crash !!

    Iwanbanaran.com – Cakk….Sesi Latihan Bebas Pertama (FP1) MotoGP Jerman yang berlangsung di Sirkuit Sachsenring menyajikan kejutan sekaligus drama. Pembalap Trackhouse Aprilia, Raul Fernandez, berhasil keluar sebagai yang tercepat setelah mencatatkan waktu terbaik di menit-menit akhir sesi, mengungguli sang “King of Sachsenring”, Marc Marquez yang crash. Waduhhh….

    Sesi FP1 yang berlangsung selama 45 menit ini menjadi pembuka dari rangkaian seri terakhir sebelum jeda musim panas MotoGP. Trackhouse Aprilia datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah hasil impresif mereka di seri sebelumnya, dan Fernandez membuktikannya dengan mencetak waktu 1 menit 20,829 detik menggunakan ban belakang medium baru tepat sebelum bendera finis berkibar.

    Drama Marc Marquez dan Franco Morbidelli di Tikungan 3

    Sorotan utama di awal sesi langsung tertuju pada Marc Marquez. Pembalap Ducati tersebut mengalami kecelakaan (crash) di Tikungan 3 saat baru menjalani lap ketiganya. Kendati demikian, pembalap yang memegang rekor sembilan kemenangan di Sachsenring ini mampu bangkit dengan cepat.

    Marquez kembali ke lintasan dan bahkan sempat memimpin lembaran waktu dengan catatan 1 menit 20,880 detik di sisa 25 menit sesi. Ia akhirnya menyudahi FP1 di posisi kedua, terpaut tipis 0,051 detik dari Fernandez, sebuah catatan impresif mengingat Marquez tidak melakukan pergantian ke ban baru di akhir sesi.

    Tikungan 3 tampaknya menjadi momok bagi pembalap Ducati pada sesi kali ini. Selain Marquez, Franco Morbidelli (VR46 Ducati) juga mengalami insiden kecelakaan di titik yang sama menjelang akhir sesi. Meski begitu, Morbidelli tetap mengamankan tempat di posisi ke-9.

    Jalannya Persaingan dan Hasil FP1

    Di awal sesi, posisi teratas sempat diperebutkan oleh Marco Bezzecchi (Aprilia) dan Fabio Di Giannantonio (VR46 Ducati). Di Giannantonio akhirnya mengamankan posisi ketiga secara keseluruhan, tepat di depan Joan Mir dari tim Honda yang merangsek ke posisi keempat setelah menggunakan ban baru.

    Sementara itu, Jack Miller (Pramac) melengkapi posisi lima besar. Pimpinan klasemen sementara, Jorge Martin (Aprilia), harus puas berada di posisi ke-10 pada sesi pembuka ini. Nasib kurang beruntung dialami Maverick Vinales (Tech3 KTM) yang mengalami kecelakaan hebat di Tikungan 11 pada pertengahan sesi, namun beruntung ia bisa berjalan tanpa cedera serius dan finis di posisi ke-11.

    Di sisi lain, juara bertahan Pecco Bagnaia (Ducati) memilih pendekatan yang lebih tenang tanpa memasang ban baru di akhir sesi, membuatnya terdampar di posisi ke-19….(iwb)

    Hasil 10 Besar FP1 MotoGP Jerman:

    1. Raul Fernandez (Trackhouse Aprilia) – 1:20.829

    2. Marc Marquez (Gresini Ducati) – +0.051

    3. Fabio Di Giannantonio (VR46 Ducati) – +0.354

    4. Joan Mir (Repsol Honda)

    5. Jack Miller (Pramac Racing)

    6. Alex Marquez (Gresini Ducati)

    7. Alex Rins (Monster Yamaha)

    8. Marco Bezzecchi (Aprilia Racing)

    9. Franco Morbidelli (VR46 Ducati)

    10. Jorge Martin (Aprilia Racing)

  • Trek Ekstrim…Michelin Siapkan Ban Khusus Hadapi Karakter Unik GP Jerman !!

    Trek Ekstrim…Michelin Siapkan Ban Khusus Hadapi Karakter Unik GP Jerman !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Seri kesepuluh MotoGP 2026 yang akan berlangsung di Sirkuit Sachsenring, Jerman, akhir pekan ini tidak hanya menjadi ujian fisik bagi para pembalap, tetapi juga menjadi salah satu tantangan paling ekstrem bagi Michelin selaku pemasok ban tunggal kelas utama. Karakter sirkuit yang sangat tidak simetris menuntut alokasi ban dengan spesifikasi yang sangat spesifik. Trek Ekstrim…Michelin Siapkan Senjata Khusus Hadapi Karakter Unik GP Jerman !!

    Sachsenring merupakan salah satu trek terpendek dalam kalender balap, namun memiliki tata letak (layout) yang luar biasa unik. Dengan panjang hanya 3.671 meter, sirkuit ini mengitari lintasan berlawanan arah jarum jam (anti-clockwise) dan didominasi oleh 10 tikungan kiri serta hanya 3 tikungan kanan.

    Ketidakseimbangan ini menciptakan beban kerja yang sangat timpang pada ban. Sisi kiri ban akan terus-menerus mendapatkan tekanan tinggi dan suhu ekstrem tanpa waktu yang cukup untuk mendingin, sementara sisi kanan ban justru berisiko kehilangan suhu ideal karena jarang menyentuh aspal dalam waktu lama.

    Menyikapi karakter “kejam” Sachsenring, manajemen teknis Michelin telah menyiapkan alokasi ban yang dirancang khusus untuk menjamin keamanan sekaligus performa maksimal para pembalap…

    “Sachsenring tanpa diragukan lagi merupakan salah satu sirkuit paling menuntut musim ini dari perspektif ban. Selain fakta bahwa para pembalap membalap dengan arah berlawanan jarum jam, tata letak trek itu sendirilah yang terutama membuat sirkuit ini menjadi tantangan nyata. Antara tikungan 4 dan 10, motor-motor menghadapi tikungan kiri secara eksklusif; akibatnya, sisi kanan ban memiliki waktu untuk mendingin sebelum memasuki tikungan 11, sebuah tikungan kanan panjang menurun yang tiba-tiba membebani ban dengan beban tinggi. Ini adalah sektor yang sangat rapuh, di mana hanya ban yang dikembangkan secara khusus untuk jenis tantangan seperti ini yang dapat menjamin tingkat performa yang mumpuni. Berkat pengalaman yang telah kami petik di sirkuit ini, kami telah memilih paket ban yang sangat cocok dengan kebutuhannya. Situasi-situasi seperti inilah yang membuat para pembalap membutuhkan kepercayaan diri yang tertinggi.” seru Piere Taramasso….

    Untuk ban belakang, Michelin wajib menyediakan ban asimetris untuk semua kompon (Soft, Medium, Hard). Sisi kiri ban belakang akan menggunakan kompon yang jauh lebih keras guna menahan temperatur tinggi akibat gesekan konstan di tikungan panjang seperti sektor Waterfall. Sebaliknya, sisi kanan ban dibuat lebih lembut agar bisa langsung memberikan cengkeraman (grip) instan saat pembalap harus bermanuver ke tiga tikungan kanan sirkuit.

    Tantangan tidak berhenti di ban belakang. Sektor depan juga krusial karena titik pengereman keras di tikungan pertama (Turn 1) membutuhkan stabilitas tinggi dari ban depan setelah pembalap melaju kencang di trek lurus utama.

    Pihak teknis menegaskan bahwa kunci utama untuk menaklukkan Sachsenring adalah bagaimana para pembalap dan tim mekanik mengelola jendela suhu ban (thermal window). Ban depan harus mampu memberikan umpan balik (feedback) yang konsisten sejak lap pertama, terutama di beberapa tikungan kiri beruntun yang menguras fisik.

    Dengan kombinasi tikungan sempit meliuk dan turunan tajam berkecepatan tinggi, Sachsenring tidak memberikan ruang bagi kesalahan sekecil apa pun dalam pemilihan kompon. Michelin menyatakan bahwa seluruh data dari tahun-tahun sebelumnya telah dianalisis untuk memastikan struktur ban musim ini siap menghadapi daya tekan (downforce) motor-motor MotoGP modern yang kian masif. Apakah racikan ban khusus dari Michelin ini mampu mengakomodasi gaya balap agresif para penunggang Desmosedici dan rival lainnya di lintasan Sachsenring? Kita akan melihat pembuktiannya mulai sesi latihan bebas hingga balapan utama akhir pekan ini.

  • Gigi Dall’igna tantang Aprilia…” Kami tidak takut ” !!  serunya

    Gigi Dall’igna tantang Aprilia…” Kami tidak takut ” !! serunya

    Iwanbanaran.com – Cakkk…Marc Marquez dan Ducati tidak lagi menutup-nutupinya: mereka ingin memenangkan gelar juara dunia musim ini. Masing-masing memiliki motivasi tersendiri. Bagi Marc, ini akan menjadi gelarnya yang ke-10; bagi Ducati, ini akan menjadi pelengkap manis dari perayaan ulang tahun ke-100 mereka yang baru-baru ini dirayakan di WDW (World Ducati Week). Yang menarik walau tertinggal 40 poin..bos Ducati nyatakan tidak takut. Gigi Dall’igna tantang Aprilia…” Kami tidak takut ” !! serunya

    Tentu saja, tugas di depan mereka jauh dari kata mudah. Musim 2026 tidak diawali dengan awal yang terbaik, dan mereka harus mengejar ketertinggalan. Sachsenring menjadi seri yang sangat krusial bagi keduanya, terutama bagi Marc Marquez. Pembalap Ducati tersebut tiba di trek yang paling ia dominasi sepanjang kariernya, dengan total dua belas kemenangan di kelas 125cc (1), Moto2 (2), dan MotoGP (9), dan ia bertekad untuk memangkas jarak dari duo Aprilia, Jorge Martin dan Marco Bezzecchi.

    Pembalap asal Cervera tersebut yakin bahwa Ducati memiliki semua potensi yang dibutuhkan, namun ia mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai area yang perlu diperbaiki…

    “Motornya bekerja dengan baik, tim bekerja dengan baik, pikiran saya pun bekerja dengan baik. Kami perlu melatih kondisi fisik saya untuk melangkah maju musim panas ini. Liburan saya akan lebih pendek karena saya ingin berkembang dan melihat seberapa jauh kami bisa melangkah dengan lengan kanan ini,” jelas Marquez, yang menargetkan untuk memulihkan pundak kanannya ke kondisi puncak selama jeda musim panas….

    Sementara itu, Ducati juga terus melanjutkan pengembangan GP26, yang harus merespons kemajuan yang ditunjukkan oleh Aprilia. Namun, Gigi Dall’Igna merasa percaya diri dengan kemajuan Desmosedici. Gigi memastikan tidak takut pada Aprilia….

    “Kemajuan mereka (Aprilia) tidak membuat saya khawatir atau takut. Justru, hal itu memberi saya motivasi lebih untuk bekerja dan mendorong semua orang untuk melakukan yang lebih baik lagi. Kami belum 100% saat ini; kami masih perlu melakukan beberapa perubahan dan penyesuaian. Tapi kami sudah dekat, dan dalam beberapa kesempatan kami berhasil menang mutlak. Kami baru berada di pertengahan musim; jalan kejuaraan masih panjang, dan kami ingin melakukan segala cara yang memungkinkan untuk memenangkannya.” tegas General Manager Ducati Corse tersebut. Wahhh seruuu ikiiii….(iwb)