Category: Racing

  • Dani Pedrosa Sarankan Pecco untuk Tenang…Marc hancurkan Mental !!

    Dani Pedrosa Sarankan Pecco untuk Tenang…Marc hancurkan Mental !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Legenda MotoGP, Dani Pedrosa, memberikan analisis mendalam mengenai situasi sulit yang sedang dihadapi oleh juara dunia dua kali, Francesco “Pecco” Bagnaia, di tengah persaingan ketat bersama tim pabrikan Ducati. Di saat rekan setimnya tampil mendominasi, Bagnaia justru harus berjuang keras mengatasi berbagai kendala teknis dan tekanan psikologis di paddock. Dani Pedrosa Sarankan Pecco untuk Tenang…Marc hancurkan Mental !!

    Menurut Pedrosa, salah satu beban terbesar yang harus dipikul oleh Bagnaia bukanlah sekadar masalah kecepatan di atas lintasan, melainkan dinamika internal yang tercipta setelah Ducati memutuskan untuk merekrut Marc Márquez ke garasi tim utama.

    “Ada dua poin utama: aspek psikologis… dan segala hal yang mengiringi keputusan Ducati untuk mendatangkan pebalap dengan gaya seperti itu, menempatkan dua ‘ayam jago’ sekaligus dalam satu garasi. Saya tahu ini mungkin terdengar aneh karena Kejuaraan Dunia adalah tentang hasil, tetapi saya pikir Bagnaia harus berhenti memikirkan tentang hasil. Ketika kamu tidak memiliki kepercayaan diri, kamu tidak bisa berkendara dengan nyaman. Jika kamu selalu memikirkan hasil tidak masuk Q2, melewatkan baris terdepan, atau tidak naik podium kamu akan menilai segalanya dengan lebih negatif. Ini adalah saat yang sulit baginya, tetapi ini hampir menjadi satu-satunya jalan untuk mulai memulihkan perasaan (kecocokan) dan feeling dengan motornya.” seru Dani

    Pedrosa memahami bahwa berada dalam satu tim dengan pebalap sekaliber Márquez menciptakan situasi yang tidak mudah dicerna bagi Bagnaia. Ketika Márquez langsung menunjukkan kecepatan luar biasa, meraih pole position, dan mendulang kemenangan, fokus seorang pebalap sering kali bergeser secara tidak sadar untuk membandingkan data dan mencari tahu bagaimana rival semereknya itu mampu melakukannya.

    Perbedaan Gaya Berkendara

    Lebih lanjut, mantan pebalap Repsol Honda itu menyoroti perbedaan karakteristik membalap antara kedua bintang Ducati tersebut.

    • Marc Márquez dikenal sebagai pebalap yang sangat fleksibel; ia dapat menggunakan setelan suspensi yang berbeda-beda namun tetap mampu mencatatkan waktu lap yang sama cepatnya.

    • Francesco Bagnaia, di sisi lain, sangat bergantung pada kenyamanan pengaturan dasar (basic setup) yang harus benar-benar sesuai dengan preferensinya agar bisa tampil maksimal. Jika motornya diubah dari pakem kesukaannya, Bagnaia cenderung lebih kesulitan untuk menemukan batas optimal dan mencetak waktu kompetitif.

    Last….Melihat tekanan besar yang terus menumpuk akibat hasil-hasil minor di beberapa seri, Pedrosa menyarankan agar Bagnaia mulai mengalihkan fokusnya. Alih-alih terus-menerus meratapi selisih hasil akhir atau terobsesi mengejar apa yang dilakukan oleh sisi garasi sebelah, Bagnaia dinilai perlu kembali fokus pada pemulihan rasa percaya diri (feel) di atas sepedanya sendiri. Saran dari sosok berpengalaman seperti Pedrosa ini menggarisbawahi betapa pentingnya kekuatan mental dalam menghadapi situasi garasi yang kompetitif, di mana harmoni antara penyesuaian motor dan ketenangan psikologis menjadi kunci utama untuk keluar dari tren negatif di ajang MotoGP….(iwb)

  • Marquez akui, Kini Tekanan Makin besar…justru jadi BBM buatnya !!

    Marquez akui, Kini Tekanan Makin besar…justru jadi BBM buatnya !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…..Di tengah persaingan ketat perebutan gelar juara dunia MotoGP musim ini, Marc Marquez mengenang kembali perjalanan kariernya. Menjelang rangkaian akhir pekan GP Austria, pebalap andalan Ducati Lenovo Team ini membeberkan momen yang paling menguji mentalnya di kelas premier. Marquez akui, Kini Tekanan Makin besar…justru jadi BBM buatnya !!

    Sebagai pebalap dengan pengalaman perebutan gelar terbanyak di grid saat ini, Marquez tahu betul rasanya berada di bawah tekanan ekstrem. Memulai debut sensasionalnya pada tahun 2013, ia langsung mengunci gelar juara dunia pertamanya di kelas utama melalui drama seri pemungkas di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, melawan pebalap tangguh Jorge Lorenzo.

    Bagi pebalap berjuluk The Baby Alien tersebut, balapan penentu tahun 2013 itu tetap memegang rekor sebagai momen dengan tekanan terbesar sepanjang hidupnya.

    “Saya akan bilang tahun 2013 di Valencia, bertarung untuk Kejuaraan Dunia pertama saya di MotoGP melawan Lorenzo,” kenang Marquez, seperti dilansir dari Crash.net.

    “Kelihatannya mudah untuk finis di posisi چهار (top four), tetapi di saat yang sama itu sangat sulit. Valencia, balapan terakhir, cuaca dingin… Hari Minggu itu adalah hari yang sangat sulit.”

    Dalam balapan tersebut, Lorenzo sempat berupaya meningkatkan tekanan dengan memimpin jalannya lomba dan memperlambat tempo untuk menjebak kelompok pebalap di belakang, meski pada akhirnya Marquez berhasil mengamankan gelar juara.

    Menariknya, pebalap asal Cervera, Spanyol, itu mengaku bahwa tekanan besar justru menjadi bahan bakar positif bagi performanya di lintasan. Alih-alih merasa terbebani, ia merasa nyaman dan fokusnya justru semakin tajam.

    “Tetapi biasanya dengan tekanan ekstra, saya menyukainya. Saya merasa nyaman, dan itu memberi saya konsentrasi ekstra,” tambahnya.

    Saat ini, Marquez kembali berada di barisan terdepan persaingan gelar juara dunia. Menanggapi posisinya yang tengah bersaing ketat di klasemen, pebalap berusia 33 tahun ini menegaskan bahwa memimpin kejuaraan atau berada tepat di bawahnya tidak mengubah pendekatan mentalnya dalam menghadapi balapan demi balapan….(iwb)

  • Breaking !! Pecco marah Besar pada Media….isu Ducati Melarang adalah Fitnah !!

    Breaking !! Pecco marah Besar pada Media….isu Ducati Melarang adalah Fitnah !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk…Pebalap Ducati Lenovo Team, Francesco “Pecco” Bagnaia, marah besar kepada media atau pemegang hak siar MotoGP, DAZN. Juara dunia dua kali asal Italia itu menyebut tindakan stasiun televisi tersebut “sangat tidak sopan” setelah merilis rekaman percakapan pribadi yang memicu kontroversi. Menurut Pecco ini adalah tindakan fitnah dan tidak bisa diterima…waahh panass cakk !!

    Seperti yang besar IWB bahas cak…Kontroversi ini bermula usai seri San Marino, di mana DAZN menyiarkan potongan video percakapan off-camera antara Bagnaia dan Fabio Di Giannantonio. Dalam video tersebut, Bagnaia terdengar seolah mengkritik pabrikan Borgo Panigale dengan menyebutkan bahwa Ducati “tidak membiarkannya” melakukan perubahan set-up tertentu di tengah masa sulit yang tengah dihadapinya.

    Sebagaimana diketahui, Bagnaia sedang mengalami periode sulit dalam performanya, termasuk rentetan hasil gagal finis (crash) di tiga grand prix terakhir akibat masalah cengkeraman ban belakang (rear grip) yang membingungkan.

    Menjelang rangkaian GP Austria, Bagnaia akhirnya buka suara untuk meluruskan kesalahpahaman sekaligus mengecam cara kerja media yang mengambil videonya di luar konteks. Ini detil jawaban dan kekesalan Pecco…

    “Saya ingat berkali-kali kalian bertanya, ‘Apakah tim mendukungmu?’ Dan saya selalu menjawab ya….tim melakukan segalanya dengan maksimal untuk membantuku. Setelah aku mengatakan itu, apa yang terjadi pada balapan terakhir di Misano, menurutku ini adalah hal yang sangat tidak sopan dilakukan oleh DAZN. Video dan rekaman itu keluar dari konteks. Kami sedang membicarakan suatu hal, tidak sepenuhnya rahasia, tetapi ini adalah percakapan pribadi….

    “Video itu tidak lengkap. Pastinya, kata terakhir yang saya ucapkan bukanlah kata yang benar, tetapi setiap orang punya masa-masa sulit, setiap orang punya rasa frustrasi. Terkadang kamu mengatakan sesuatu dengan cara yang salah. Namun, apa yang selalu saya katakan adalah Ducati telah sangat mendukungku, dan yang ingin saya maksud adalah bahwa saya telah berkali-kali mencoba hal-hal tersebut (base set up) yang kini tidak lagi diizinkan oleh Ducati, bukan karena apa-apa, melainkan karena saya sudah sering melakukannya dan saya tidak ingin melanjutkan hal semacam itu karena semua terasa tidak bekerja….

    “Apa yang keluar dari mulut saya memang dengan cara yang salah, tetapi kemudian apa yang terjadi selanjutnya adalah bencana bagiku karena itu sepenuhnya keluar dari rasa hormat. Harus ingat….hubungan antara jurnalis dan pebalap harus didasari oleh rasa hormat. Saya pikir saya selalu bersikap baik kepada kalian semua, tidak pernah kasar, tidak pernah mengatakan hal yang salah, mencoba memiliki hubungan baik dengan semua orang karena saya tahu betapa pentingnya hal itu… Dan apa yang terjadi ?? menurutku tindakan kalian ini tidak benar….

    “Jelas bahwa kalian [media] dapat mengambil kata-kata kami dan membagikannya secara online sesuai keinginan kalian, karena kalian bisa mengambil tiga kata dan membuat dua konteks yang sepenuhnya berbeda secara positif atau negatif. Saya tahu kadang penting untuk membuat judul yang bersifat clickbait karena sistemnya bekerja seperti itu. Tapi saya selalu mencoba untuk setransparan mungkin, dan ke depan kalian mungkin tidak akan banyak mendapatkan informasi tentangku (akan lebih membatasi)….

    “Tentu saja [Ducati memahami sudut pandangku] karena kemarin kami langsung membicarakannya. Memang wajar jika hal itu terlihat mengerikan saat sampai di televisi. Tetapi mereka juga memiliki rekaman wawancara pada hari Jumat dan Minggu, dan apa yang saya katakan dalam wawancara-wawancara itu adalah bahwa Ducati mendukungku. Jadi mereka tahu apa yang saya bicarakan, mereka tahu saya tidak gila. Saya meminta maaf atas kata-kata yang saya ucapkan, tetapi saya juga tahu betapa pentingnya hubungan kami (Ducati), dan hubungan kami terus berjalan dengan baik. Jadi, tidak ada yang berbeda dibandingkan masa lalu,” tutupnya….

    Ditempat terpisah Digia juga membenarkan pernyataan Pecco. Dia menyayangkan tingkah laku media yang memotong percakapan dan di framing negatif untuk berita mereka…

    ” Sebenarnya saya tidak ingin berkomentar banyak tentang ini, karena ini bukan cerita saya, tapi yang bisa saya katakan adalah kami sebagai pebalap, terutama kami yang berasal dari Italia, sudah saling kenal sejak lama, dan kami selalu berbicara tentang motor itu adalah hal yang sepenuhnya normal bagi kami. Apa yang terjadi, itu adalah hal di luar kamera, tetapi rupanya ada kamera di sana, jadi saya pikir itu agak tidak adil dilakukan mereka, bukan buat saya melainkan pebalap lain [Bagnaia] sedang membicarakan hal-hal pribadi, jadi terkadang akan lebih baik untuk menghormati hal ini dan tidak hanya mencoba mencari lebih banyak klik….

    “Tetapi terlepas dari itu, dari sudut pandangku, ketika saya sedang kesulitan dengan motor Ducati, saya selalu berbicara dengan Pecco dan mencoba mendapatkan informasi sebanyak yang saya bisa, dan dia selalu membantuku, mencoba memberikan saran terbaik untuk berkembang. Saat saya bisa, saya mencoba melakukan hal yang sama kepada pebalap lain yang sudah saya kenal sejak lama, jadi itu adalah obrolan yang sepenuhnya normal bagi kami.Masalahnya sekarang adalah kita selalu dikelilingi kamera. Kita selalu dikelilingi berbagai macam kamera. Kita sedang menuju ke dunia di mana kita tidak bisa lagi berbicara bebas. Oleh karena itu, saya pikir para jurnalis […] seharusnya memiliki batas etika untuk olahraga ini. Rasanya seperti saya sedang berada di sebuah pub membicarakan tentang motor dan saya tidak perlu khawatir bahwa di suatu tempat ada jurnalis dengan mikrofon, karena itu adalah obrolan yang santai. Jadi, tentu saja ini adalah hal yang bisa kita tingkatkan di olahraga ini, juga karena jujur kakau dibiarkan ini tidak bagus untuk olahraga ini…” tutup Digia…

    Last…jelas cak kemarahan Pecco sudah diubun-ubun dan ini membuat sulit media cak. Celakanya….merasa dirugikan oleh pemberitaan dan fitnah, Bagnaia menyatakan akan lebih tertutup dan membatasi diri kepada media demi menjaga rasa saling menghormati antara pebalap dan jurnalis. Bagnaia menegaskan bahwa hubungannya dengan Ducati tetap berjalan baik dan solid. Pihak manajemen memahami situasi tersebut dan tahu bahwa Bagnaia selalu mengakui dukungan penuh yang diberikan oleh tim. Ambyarrrr tenan kiee mediane wkwkwk….(iwb)

  • Pujian Setinggi Langi Bos Ducati ke Marquez dan Kritikan Pedas ke Pecco….Panas kii !!

    Pujian Setinggi Langi Bos Ducati ke Marquez dan Kritikan Pedas ke Pecco….Panas kii !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….General Manager Ducati Corse, Gigi Dall’Igna, kembali menjadi sorotan setelah melontarkan pujian setinggi langit kepada Marc Márquez usai kemenangan impresif sang pebalap di Sirkuit Misano. Namun, di sisi lain, Dall’Igna juga tidak segan-segan melontarkan kritik terbuka terhadap hasil akhir pekan yang diraih oleh Francesco “Pecco” Bagnaia. Kenapa bisa jadi makin melenceng seperti ini ya cak ??

    Marc Márquez Adalah Sebuah “Fenomena”

    Performa dominan Marc Márquez di atas Desmosedici bersama tim pabrikan terus memukau para petinggi Borgo Panigale. Usai mengamankan kemenangan gemilang di Misano, Dall’Igna secara terbuka memuji mentalitas dan kapasitas luar biasa yang dimiliki pebalap asal Spanyol tersebut.

    “Marc adalah sebuah fenomena sejati. Apa yang ia tunjukkan di atas lintasan, cara ia memahami motor, dan bagaimana ia mampu mengatasi berbagai situasi sulit benar-benar berada di level yang berbeda. Kegembiraan yang dibawa Marc setiap kali ia berada dalam performa terbaiknya adalah energi murni bagi kita semua. Ia adalah pebalap istimewa yang mengeluarkan kemampuan terbaik pada’sang putri’ kesayangan kita—mesin Ducati.” ungkap Dall’Igna dalam analisis pascabalapnya.

    Pujian ini mempertegas betapa cepatnya adaptasi Márquez dengan motor Ducati, menjadikannya salah satu aset paling dominan di grid MotoGP musim ini sekaligus kandidat terkuat peraih gelar juara dunia.

    Kritik Tajam Terhadap Akhir Pekan Pecco Bagnaia

    Berbeda jauh dengan pujian yang diberikan kepada Márquez, nada bicara Dall’Igna berubah menjadi lebih kritis ketika membahas performa Francesco Bagnaia di Misano. Sang juara dunia dua kali itu mengalami akhir pekan yang sangat sulit, bergulat dengan masalah cengkeraman ban (grip) dan gagal mengoptimalkan potensi motornya.

    Dall’Igna menyatakan kekecewaannya atas hasil yang diraih Bagnaia, menegaskan bahwa seorang pebalap pabrikan utama seharusnya mampu menemukan solusi atau setidaknya tampil kompetitif di setiap kondisi.

    “Akhir pekan ini sama sekali tidak berjalan sesuai harapan untuk Pecco. Kami mengharapkan hasil yang jauh lebih konsisten dan kompetitif darinya. Ada banyak hal yang harus kami evaluasi secara mendalam, baik dari sisi data maupun pendekatan yang diambil di garasinya,” tegas Dall’Igna.

    Last…Pernyataan blak-blakan dari petinggi Ducati ini semakin mempertajam sorotan terhadap dinamika internal di garasi Borgo Panigale. Di satu sisi, pabrikan menikmati dominasi luar biasa yang ditunjukkan oleh Marc Márquez. Namun di sisi lain, tekanan mental dan teknis yang mendera Pecco Bagnaia terutama di tengah isu pembatasan setelan dan rencana kepindahannya ke tim lain menciptakan situasi yang kompleks menjelang paruh akhir musim balap MotoGP. Wahhhh kok jadi gini ya cak mbah Gigi….?! (iwb)

  • Tensi Panas….Ducati Sengaja Sabotase Motor Pecco ??? Gilaaaa sih

    Tensi Panas….Ducati Sengaja Sabotase Motor Pecco ??? Gilaaaa sih

    Iwanbanaran.com – Cakkkk….sepertinya Suasana di paddock kejuaraan dunia MotoGP mendadak memanas setelah sebuah rekaman video di balik layar yang tertangkap kamera penyiar DAZN mengungkap polemik internal antara Francesco “Pecco” Bagnaia dan kubu pabrikan Ducati. Perbincangan tak terduga tersebut mendadak viral karena membongkar adanya dugaan pembatasan teknis yang dialami sang juara dunia dua kali terkait pengaturan setelan (setup) sepeda motor Desmosedici miliknya. Nggak heran banyak yang mengatakan Ducati Sengaja Sabotase Motor Pecco ??? Gilaaaa sih kalau benerrr….

    Jadi cak…Insiden bermula dari interaksi santai namun sarat makna antara Bagnaia dan pebalap tim VR46, Fabio Di Giannantonio, usai rangkaian sesi penting di Sirkuit Misano. Dalam percakapan tersebut, Di Giannantonio yang mengamati bagian belakang motor Bagnaia menyarankan agar pebalap utama tim pabrikan Borgo Panigale itu mencoba setelan dasar (basic setup) yang lebih konvensional untuk mengatasi kesulitan yang tengah dihadapinya.

    Alih-alih mengabaikannya, Bagnaia justru merespons dengan pengakuan jujur bahwa ia telah mencoba berbagai variasi setelan tanpa membuahkan hasil positif. Ia bahkan mengeluhkan masalah cengkeraman ban depan yang dirasa terus bermasalah konsisten, apa pun jenis kompon ban yang sedang dipasang.

    Ketika Di Giannantonio kembali mendesaknya untuk mencoba pendekatan setelan yang lebih sederhana, Bagnaia melontarkan kalimat singkat yang langsung mencuri perhatian pengamat balap. Ini dia percakapan lengkapnya cak…

    Digia

    ” Kenapa kamu memakai benda kecil itu di bagian belakang?”

    Pecco

    “Saya cuma memasang apa yang mereka minta untuk saya gunakan. Saya sudah mencoba segalanya… tapi yang aku rasakan mau pakai ban depan Soft atau Medium tidak ada bedanya, rasanya sama saja. Bahkan ban Soft bekas di pagi hari atau ban baru untuk kualifikasi pun terasa sama. Rasanya seperti saya menarik tuas kopling begitu mulai mengerem.”

    Digia

    “Saya paham, tapi menurut saya, kalau kamu memakai setup yang lumayan normal seperti milikku… Set-upku  benar-benar dasar (basic), menurutku…”

    Pecco

    They won’t let me do it” (Mereka tidak mengizinkanku melakukannya).

    Pernyataan blak-blakan ini langsung memicu gelombang spekulasi di kalangan media dan penggemar MotoGP. Banyak pihak mempertanyakan siapa pihak “mereka” yang dimaksud oleh Bagnaia—apakah jajaran insinyur pabrikan, manajemen tim, atau para petinggi Borgo Panigale. Muncul dugaan bahwa pembatasan tersebut diberlakukan demi menjaga keselarasan arah pengembangan motor pabrikan atau menghindari eksperimen ekstrem yang dapat membingungkan data telekomunikasi tim.

    Di sisi lain, situasi ini menyoroti tekanan berat yang sedang dipikul oleh Bagnaia di tengah persaingan ketat perebutan gelar juara dunia. Masalah cengkeraman ban belakang (rear grip) dan inkonsistensi performa pada beberapa seri sebelumnya membuat sang pebalap asal Italia ini dituntut untuk terus mencari terobosan teknis, meski ruang geraknya di garasi tampaknya dibatasi oleh protokol pengembangan tim.

    Menanggapi memanasnya rumor dan pemberitaan di media, manajemen Ducati melalui Direktur Olahraga Davide Tardozzi segera berupaya meredam situasi. Pihak tim menegaskan bahwa hubungan profesional serta tingkat kepercayaan antara Ducati dan Bagnaia tetap terjalin sangat kuat. Manajemen memastikan bahwa para insinyur bekerja keras siang dan malam di balik layar untuk mencarikan solusi komprehensif atas kendala teknis yang dikeluhkan oleh sang pebalap andalan.

    Last…Kendati demikian, bocornya percakapan rahasia ini membuka mata publik akan rumitnya dinamika di dalam garasi tim pabrikan tersukses di era modern MotoGP tersebut. Keseimbangan antara kebebasan pebalap untuk mengeksplorasi potensi maksimal motor dan strategi jangka panjang pabrikan kini menjadi topik perdebatan hangat yang akan terus disorot hingga akhir musim balap. Kalau menurut sampeyan…apakah logis dugaan sabotase motor Pecco yang dilakukan Ducati ?? coba sampeyan berikan analisa dan komennya. Hhmm…menarik kiieee…(iwb)

  • Fabio Quartararo akui tidak sabar Jajal Mesin Honda RC214V !!

    Fabio Quartararo akui tidak sabar Jajal Mesin Honda RC214V !!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….seperti yang sampeyan tahu, langkah besar dan penuh risiko tengah dipersiapkan oleh juara dunia MotoGP 2021, Fabio Quartararo. Setelah menghabiskan sebagian besar karier premier kelasnya bersama Yamaha yang puncaknya berbuah manis berupa gelar juara dunia pada musim 2021. Pembalap berjuluk El Diablo ini memutuskan untuk menanggalkan seragam biru khas pabrikan Iwata demi menerima pinangan dan tantangan baru bersama Honda. Dan tahu nggak cak…Fabio Quartararo akui tidak sabar Jajal Mesin Honda RC214V !! ” Setiap malam ketika saya pergi tidur, saya memikirkan bagaimana sensasi pertama saya dengan Honda nantinya..” serunya..

    Keputusan hijrah ini diambil bukan tanpa alasan cak. Dalam beberapa musim terakhir, Quartararo harus berjibaku dengan performa motor Yamaha M1 yang tertinggal jauh dari dominasi pabrikan Eropa seperti Ducati dan Aprilia. Ketidakpuasan terhadap lambatnya progres pengembangan motor, ditambah hubungan yang kian merenggang akibat hasil-hasil minor di papan bawah, membuat pembalap asal Prancis tersebut mantap mencari lembaran baru.

    Meski kepindahannya sudah menjadi rahasia umum di paddock, bayang-bayang transisi besar ini rupanya terus berkecamuk di benak Quartararo. Menjelang tes akhir musim di Valencia yang akan menjadi momen pertamanya menunggangi kuda besi pabrikan asal Jepang berlambang sayap tunggal tersebut, Quartararo mengakui bahwa dia tidak sabar karena pikirannya selalu dipenuhi rasa penasaran setiap kali hendak beristirahat:

    “Setiap malam ketika saya pergi tidur, saya memikirkan bagaimana sensasi pertama saya dengan Honda nantinya. Tapi bukan hanya soal tes di Valencia itu saja. Ini akan terasa sedikit aneh, karena saya telah menghabiskan seluruh karier MotoGP saya bersama Yamaha dan ini adalah perubahan yang sangat besar…

    ” Pada tahun 2021, saya berjuang untuk Kejuaraan Dunia pada tahun 2022, saya hampir meraihnya. Namun, selama tiga tahun terakhir 2023, 2024, dan 2025 kami tidak bersaing di level yang kami targetkan. Hal itu telah menciptakan momen-momen yang pelik. Terdapat saat-saat yang menegangkan, tetapi media memperbesar hal tersebut, membuatnya tampak lebih buruk. Ada masa pasang surutnya. Kami telah menghabiskan delapan tahun bersama, dan saya ingin menyelesaikannya dengan baik.

    “Setelah tes pertama di Barcelona tahun ini, saya merasa optimis, tetapi kami gagal membuat kemajuan secara keseluruhan. Kami tidak dapat meningkatkan kecepatan, daya menikung (turning), cengkeraman (grip), atau tenaga. Yamaha mungkin dapat menjelaskan detail teknisnya lebih baik daripada saya.

    “Saya tidak dapat mengatakan bahwa saya akan datang ke balapan pertama dengan kesiapan untuk menang. Mungkin setelah dua hari tes, saya akan merasa hebat, tetapi kita harus belajar secara bertahap di putaran-putaran awal. Hanya karena saya pindah ke Honda, bukan berarti motornya akan langsung menjadi yang terbaik. Kami harus bekerja keras dan beradaptasi dengan cepat namun hati-hati. Honda telah berinvestasi besar-besaran untuk bangkit kembali dengan regulasi, motor, dan ban yang baru. Saya yakin mereka bisa memberikan kejutan. Honda kehilangan pembalap terbaiknya dan memahami apa yang dituntut oleh Marc. Mereka telah membuat kemajuan signifikan dalam dua tahun terakhir.”

    Last…Peralihan dari Yamaha ke proyek pengembangan motor baru Honda tentu menjadi perjudian besar bagi karier Quartararo yang kini menginjak usia matang. Tegang bercampur penasaran melingkupi mental sang juara dunia, mengingat ia harus beradaptasi total dengan budaya kerja, karakter mesin, serta sasis yang benar-benar berbeda dari zona nyamannya selama bertahun-tahun. Di sisi lain, ketegangan transisi ini juga sempat diwarnai gesekan kecil dengan Yamaha, termasuk keputusan pabrikan Iwata yang melarang Quartararo ambil bagian dalam uji coba ban Pirelli untuk regulasi masa depan demi mengamankan rahasia data internal. Kendati demikian, fokus utama Quartararo kini sepenuhnya tertuju pada masa depan. Tes perdananya di atas motor Honda kelak akan menjadi babak penentu, apakah perjudian besar ini mampu membawanya kembali ke jalur perebutan gelar juara dunia MotoGP. Piye menurut sampeyan…apakah Fabio bakal bisa kencang di Honda ? monggo berikan opininya…(iwb)

  • Moto3 akan pakai Mesin Yamaha…nasib Veda Ega gimana ???

    Moto3 akan pakai Mesin Yamaha…nasib Veda Ega gimana ???

    Iwanbanaran.com – Cakkk…seperti yang sampeyan semua tahu, Dunia balap Grand Prix kelas ringan tengah bersiap menyambut revolusi terbesar dalam sejarah modernnya. Mulai musim 2028 hingga 2033, Yamaha resmi meneken kontrak jangka panjang eksklusif dengan Dorna Sports untuk bertindak sebagai pemasok tunggal (single-supplier) sepeda motor di kelas Moto3. Keputusan strategis ini otomatis mengakhiri era panjang mesin 250cc silinder tunggal yang selama ini dikuasai oleh pabrikan raksasa seperti Honda dan KTM. Sebagai tahap awal, fase transisi dan pengujian perdana prototipe motor baru ini dijadwalkan mulai bergulir pada tahun 2027, sebelum akhirnya seluruh tim di grid wajib menggunakan spesifikasi dari pabrikan Iwata tersebut pada musim 2028. Pertanyaannya….Moto3 akan pakai Mesin Yamaha…nasib Veda gimana ???

    Sebagai informasi….perubahan regulasi ini tidak hanya menyangkut pergantian merek, melainkan perombakan total pada arsitektur mesin dan performa motor. Yamaha dikabarkan akan mengadopsi basis mesin produksi massal berteknologi CP2 (Parallel Twin dengan crankshaft 270 derajat) yang serupa dengan lini populer mereka seperti Yamaha MT-07 atau YZF-R7. Kendati demikian, mesin ini akan mengalami re-engineering secara masif oleh divisi balap untuk diubah menjadi prototipe balap murni. Jika versi jalan rayanya memiliki tenaga sekitar 73 hingga 74 dk dengan bobot basah mencapai 180 kg lebih, mesin Moto3 versi Yamaha ini diproyeksikan mampu memuntahkan tenaga hingga 95 dk dengan bobot motor yang dipangkas drastis menjadi hanya sekitar 120 kg.

    Lonjakan power-to-weight ratio yang sangat signifikan ini dipadukan dengan dimensi sasis baru yang lebih ideal. Desain ergonomi tersebut sengaja disesuaikan untuk mengakomodasi postur fisik pembalap muda masa kini yang cenderung semakin tinggi, sehingga posisi tuck-in di atas motor menjadi jauh lebih natural dan aerodinamis. Terus bagaimana Nasib Veda Ega Pratama sebagai Pembalap Honda?

    Nahh..ini banyak ditanyakan ke IWB cak. Transformasi masif ini langsung memicu tanda tanya besar di kalangan penggemar balap tanah air, terutama terkait nasib pembalap muda berbakat Indonesia, Veda Ega Pratama, yang saat ini meniti karier di bawah naungan ekosistem Honda. Menanggapi situasi ini, ada beberapa aspek penting mengenai proyeksi karier Veda di tengah transisi pabrikan tersebut:

    1. Jangka Waktu dan Fase Transisi: Regulasi baru pemasok tunggal Yamaha baru akan efektif berlaku pada tahun 2028. Mengingat Veda tengah berjuang menapaki tangga karier internasional saat ini, ia masih memiliki rentang waktu di musim-musim sebelumnya (2026 dan 2027) untuk memaksimalkan potensinya di atas motor berspesifikasi Honda saat ini.

    2. Potensi Promosi ke Kelas Lebih Tinggi: Memasuki tahun 2028, usia dan progres performa Veda diprediksikan sudah semakin matang. Ada kemungkinan besar bahwa pada saat era mesin Yamaha dimulai, Veda sudah tidak lagi berada di kelas Moto3, melainkan telah melangkah naik untuk berkompetisi di kelas yang lebih tinggi seperti Moto2.

    3. Dinamika Tim Penjenjangan Asia: Selama ini, Veda merupakan salah satu produk kebanggaan dari program pembinaan Astra Honda Racing Team yang berkompetisi lewat struktur Honda TeamAsia. Ketika regulasi 2028 wajib menggunakan mesin Yamaha, tim-tim penjenjangan dari Asia ini mau tidak mau harus beradaptasi dengan regulasi baru atau melakukan penyesuaian struktural agar para pembalap binaan mereka tetap bisa bersaing di panggung kejuaraan dunia.

    4. Tantangan Adaptasi Pembalap Profesional: Sebagai seorang rider masa depan yang kompetitif, Veda dituntut memiliki fleksibilitas tinggi. Perubahan karakteristik dari mesin silinder tunggal ke platform dua silinder (parallel twin) Yamaha justru akan menjadi batu loncatan yang sangat berharga untuk mengasah teknik balapnya sebelum menembus level tertinggi di MotoGP.

    Transisi besar ini tidak hanya menjadi babak baru bagi regulasi teknik Grand Prix, tetapi juga menjadi tolok ukur penting bagi bagaimana para pembalap muda berbakat menyesuaikan diri dengan era modern balap motor dunia. Artinya apaaa ??

    Kalaupun masih tetap di Moto3, mau nggak mau Veda ataupun pembalap muda binaan AHRT akan tetap menyesuaikan regulasi cak. Yahh…mirip dengan masa lalu dimana Honda toh juga pernah menjadi pemasok mesin Moto2. Saat kelas Moto2 pertama kali dibentuk oleh Dorna Sports pada tahun 2010 untuk menggantikan kelas 250cc dua tak, Honda ditunjuk sebagai pemasok mesin tunggal resmi bagi seluruh tim di grid. Mesin yang digunakan adalah 4-silinder segaris berkapasitas 600 cc yang diambil dan disesuaikan dari motor sport komersial Honda CBR600RR. Meskipun mesinnya seragam memakai suplai dari Honda, tim-tim di Moto2 bebas menggunakan sasis buatan pabrikan atau chassis builder manapun, seperti Kalex, Suter, Moriwaki, FTR, hingga Tech3. Era mesin Honda di Moto2 ini berlangsung selama sembilan musim penuh, sebelum akhirnya digantikan oleh Triumph pada tahun 2019..

    Last…Meskipun Yamaha tidak memiliki tim pabrikan resmi di kelas Moto2 pada era mesin Honda 600cc (karena Yamaha saat itu lebih fokus di MotoGP dan WorldSSP), beberapa pembalap atau tim binaan satelit/akademi yang kelak lekat dengan Yamaha pernah merasakannya. Sebagai contoh, pembalap-pembalap didikan VR46 Academy (yang kini menjadi mitra dekat Yamaha) seperti Franco Morbidelli, Francesco Bagnaia, hingga Luca Marini semuanya pernah menjadi juara atau membalap di Moto2 menggunakan motor berselisih sasis bebas tetapi bermekanikal mesin Honda CBR600RR. Baru dalam beberapa tahun terakhir (terutama setelah era mesin beralih ke Triumph 765cc pada 2019 hingga ekspansi proyek balap mereka), Yamaha mulai membangun dan menurunkan struktur tim resmi di kelas Moto2 melalui kerja sama dengan struktur tim top, salah satunya menggandeng kolaborasi bLU cRU bersama Pramac Racing untuk mengawal skuad mereka di ajang Moto2 (yang diperkuat oleh pembalap seperti Izan Guevara). Jadi pembalap Honda pakai mesin Yamaha R7 di Moto3 ?? seharusnya tidak akan menjadi masalah dan pasti akan ada celah branding yang bisa digunakan nanti…kita tunggu saja cak…(iwb)

  • Performa “Aneh” Yamaha M1 V4 Bikin Toprak Razgatlioglu heran..!!!

    Performa “Aneh” Yamaha M1 V4 Bikin Toprak Razgatlioglu heran..!!!

    Iwanbanaran.com – Cakkk….Pekan balap MotoGP San Marino di Sirkuit Misano menyisakan cerita positif sekaligus frustrasi bagi Toprak Razgatlioglu. Pembalap Pramac Yamaha tersebut sukses mencuri perhatian lewat catatan waktu paruh kedua lomba yang sangat kompetitif. Namun, masalah klasik di sesi kualifikasi serta kesulitan melakukan overtake membuat potensi besarnya tertahan di posisi ke-12. Yup…Performa Aneh Yamaha M1 V4 Bikin Toprak Razgatlioglu heran..!! Kok iso ?? simak detilnya dibawah ini…

    Jadi cak…Ada yang menarik dari performa pembalap asal Turki ini sepanjang hari Minggu. Alih-alih mencatat waktu terbaiknya saat menggunakan ban lunak baru di sesi kualifikasi, lap tercepat Toprak justru tercipta pada paruh kedua balapan utama (Grand Prix) di atas ban medium bekas. Pada lap ke-12 dari total 27 putaran, ia membukukan waktu 1 menit 31,770 detik—setengah detik lebih cepat ketimbang catatan waktu kualifikasinya sehari sebelumnya.

    Bahkan, torehan waktu tersebut sempat menyamai kecepatan para pembalap papan atas, termasuk Fermin Aldeguer, Pedro Acosta, hingga sang pemenang balapan Marc Marquez. Ia juga mengakui bahwa ritme balapnya sangat mirip dengan rekan pabrikannya, Fabio Quartararo. “Saya juga terkejut karena setelah setengah balapan, saya mulai mencatat waktu ’31 dan ini sangat mengesankan,” ungkap Toprak yang merasa bingung dengan performa aneh Yamaha. Lhaa piye cak…lap time Race malah lebih kencang dari kualiafikasi…

    Kendati demikian, kerja keras jawara WorldSBK itu di lintasan terbentur oleh tembok besar bernama posisi start. Memulai balapan dari grid paling belakang membuatnya harus bekerja ekstra keras untuk memperbaiki posisi. Sayangnya, karakter motor MotoGP modern membuat usaha tersebut berbuah simalakama.

    Toprak menjelaskan betapa sulitnya menyalip pembalap lain di Misano. Pola balapannya selalu berulang: tertinggal di lintasan lurus karena defisit akselerasi, lalu harus mengerem secara ekstrem di tikungan demi menutup celah. Situasi “kejar-kejaran” ini memaksa ban depannya terus-menerus berada di balik motor pembalap lain, yang membuat temperatur ban depan melonjak drastis. Akibatnya, ban mulai mengalami locking dan kehilangan cengkeraman, membuat upaya overtake menjadi hampir mustahil dilakukan dengan bersih.

    Selain insiden jatuhnya beberapa pembalap di depan serta penalti long lap yang didapat Franco Morbidelli, sebagian besar posisi yang diraih Toprak murni berasal dari kegigihannya mempertahankan ritme, meski pada akhirnya ia harus puas finis di urutan ke-12.

    Bagi Toprak, akhir pekan di Misano memberikan sinyal yang sangat jelas: basis motor Yamaha sudah menunjukkan kemajuan besar dalam hal race pace, namun kelemahan di sesi kualifikasi harus segera dibereskan. “Bagi saya, masalah terbesarnya adalah saya start dari posisi paling belakang. Jika saya start di posisi ke-10, 12, atau 13, mungkin lebih mudah bertahan di sepuluh besar karena pace saya sama dengan pembalap di posisi 7–8,” ujarnya.

    Last….Evaluasi ini langsung dibawa oleh Toprak dan tim menuju seri berikutnya di Red Bull Ring, Austria. Dengan fokus penuh untuk memperbaiki catatan waktu di sesi latihan Jumat dan Sabtu agar bisa mengamankan posisi start yang lebih baik, Toprak optimistis bisa menerjemahkan kecepatan balapnya yang masuk jajaran sepuluh besar ke dalam hasil lomba yang jauh lebih optimal. Gooo Toprakkk !! (iwb)

  • Ada apa dengan Veda ???

    Ada apa dengan Veda ???

    Iwanbanaran.com – Cakkk….perjalanan musim debut Veda Ega Pratama di ajang Kejuaraan Dunia Moto3 2026 bersama Honda Team Asia menyajikan cerita yang menarik untuk dibedah. Setelah menggebrak pada awal musim lewat torehan poin impresif termasuk finis sensasional di podium Grand Prix Brasil, grafik perolehan poin pembalap asal Gunungkidul ini justru menunjukkan tren fluktuatif cenderung melandai, bahkan beberapa kali nirpoin selepas paruh musim Eropa. Pertanyaannya….Ada apa dengan Veda Ega Pratama ???

    Jika ditarik garis performa mulai dari seri Jerman, Inggris, Aragon, hingga San Marino, grafik Veda memperlihatkan selang-seling antara zona poin dan hasil tanpa angka (0). Pertanyaan besar pun muncul: apakah penurunan tren ini murni karena kendala teknis pada perangkat motor Honda, ataukah para rival utama melaju begitu pesat sementara Veda menemui jalan terjal dalam adaptasi?…

    ” Pada Jumat, terutama dalam kondisi lintasan yang lembap, aku merasa sangat percaya diri dan bisa melaju dengan cepat. Namun, balapan sepenuhnya berlangsung dalam kondisi kering. Jadi, kondisinya berbeda.  Saat sesi latihan dan kualifikasi, aku sudah merasa ada beberapa hal yang masih perlu aku tingkatkan.  Kami mencoba melakukan sejumlah perubahan dan tim bekerja keras untuk membantuku. Sayang hasil balapan memang tidak sesuai dengan yang aku inginkan, tetapi kami melakukan beberapa perubahan dari Q2 menuju balapan dan aku merasa motor bergerak ke arah yang positif. Tentu saja, ini bukan hanya soal motor. Aku juga perlu meningkatkan kemampuan diri sendiri dan memahami bagian mana yang masih bisa aku perbaiki. Aku akan bekerja keras dalam beberapa hari ke depan karena Austria juga merupakan trek yang aku sukai. Kami akan menjalani balapan lagi pekan depan, jadi saya akan mengatur ulang semuanya dan berusaha memberikan yang terbaik di sana,” seru Veda setelah finish ke 18 di Misano…

    Pertanyaannya ada apa dengan Veda ?? Kenapa performa grafiknya cenderung turun ??

    Memang cak…Sebagai seorang rookie yang naik kelas setelah menjadi runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup, Veda dihadapkan pada ekosistem balap Grand Prix yang jauh lebih kompleks. Di kelas Moto3 cak, aspek set-up sasis dan manajemen ban menjadi penentu utama. Mulai paruh musim, tingkat keausan ban dan konsistensi cengkeraman (traksi) kerap menjadi sorotan utama bagi penunggang mesin Honda. Kendati demikian, Veda sendiri secara terbuka menyatakan tidak ingin menjadikan spesifikasi motor sebagai kambing hitam atas hasil-hasil sulit yang diterimanya. Ia menyadari bahwa sebagai debutan berusia 17 tahun, proses pembelajaran dalam memahami batasan maksimal motor secara konsisten di setiap karakter sirkuit masih terus berproses…

    Faktor eksternal tak kalah memegang peran penting. Para pesaing utama—terutama dominasi pembalap-pembalap muda di barisan terdepan seperti Máximo Quiles dan David Almansa telah melakukan lompatan besar dalam hal adaptasi kecepatan, terutama saat melakoni sesi latihan bebas (practice) hingga kualifikasi. Ketatnya persaingan di grup tengah membuat selisih catatan waktu antarpembalap begitu tipis, seringkali hanya terpaut sepersekian detik. Ketika seorang pembalap sedikit saja terlambat menemukan ritme terbaik di sesi kualifikasi—seperti yang sempat dialami Veda saat terlempar ke barisan belakang di Aragon maka peluang untuk merangsek ke grup depan saat race menjadi sangat berat akibat turbulensi angin (slipstream) dan agresivitas grup.

    Last….Meski grafik perolehannya fluktuatif di paruh kedua, posisi Veda di tangga klasemen sementara Moto3 2026 masih tertahan di peringkat ketujuh dengan koleksi 97 poin. Ini membuktikan bahwa fondasi kecepatan Veda sebenarnya sangat kompetitif. Tren melandai ini bukan sebuah kemunduran bakat, melainkan fase krusial pendewasaan mental dan teknik bagi sang rookie. Dengan sisa kalender balap yang masih panjang, evaluasi menyeluruh dari data telemetri bersama Honda Team Asia akan menjadi kunci bagi Veda untuk kembali menemukan konsistensi traksi dan ritme balapnya pada seri-seri berikutnya. Semoga saja Veda untuk bangkit dan mengamankan kembali finis 10 besar pada seri balap berikutnya di Austria…..(iwb)

  • Marc Marquez diprediksi sukses hancurkan Mental Martin dan Bezzecchi ?!

    Marc Marquez diprediksi sukses hancurkan Mental Martin dan Bezzecchi ?!

    Iwanbanaran.com – Cakkkk….Pekan balap MotoGP San Marino di Sirkuit Misano seharusnya menjadi momen kejayaan bagi Aprilia. Di atas kertas, pabrikan asal Noale ini sukses meracik motor RS-GP sebagai kendaraan paling kompetitif di grid musim ini. Rekor pole position sub-1 menit 29,9 detik yang dicetak Marco Bezzecchi menjadi bukti sahih betapa superiornya performa motor Aprilia. Namun, alih-alih meraup poin maksimal, Aprilia justru harus menyaksikan Marc Marquez (Ducati Corse) kembali menyapu bersih kemenangan dan melejit ke puncak klasemen. Di balik hasil yang mengecewakan tersebut, terungkap satu kelemahan fundamental yang tidak dapat diperbaiki oleh departemen teknik mana pun yakni faktor manusia dan tekanan mental dalam perebutan gelar juara cak !!

    Sepanjang paruh musim ini, Aprilia memegang keunggulan teknis yang jelas atas Ducati. Sayangnya, keunggulan tersebut sering kali kandas akibat inkonsistensi pebalapnya sendiri. Di Misano, Marco Bezzecchi memulai balapan dengan sempurna dan langsung memimpin jalannya lomba. Namun, ia kembali melakukan kesalahan fatal dengan mengalami crash di Tikungan 13 pada lap pembuka. Insiden tersebut menandai kali kelima dalam tujuh seri terakhir Bezzecchi gagal mendulang poin pada balapan hari Minggu. Akibatnya, ia tertinggal semakin jauh di klasemen, terpaut 33 poin dari puncak. Di sisi lain, rekan setimnya, Jorge Martin, juga harus berjuang menghadapi masalah fisik berupa arm pump yang mengancam performanya ke depan.

    Ironisnya, kebangkitan luar biasa Marc Marquez terjadi di tengah kondisi fisik yang tidak 100% prima—bahkan bahu kanannya dikabarkan hanya beroperasi pada kapasitas 50% akibat cedera lama. Kendati demikian, Marquez justru memanfaatkan situasi ini untuk melepaskan diri dari tekanan psikologis. Tanpa beban berlebih, ia mampu tampil konsisten dan memaksimalkan setiap peluang, sementara tekanan berat justru menghujam pundak para pebalap Aprilia. Marco Bezzecchi maupun Martin sama sekali belum pernah memiliki pengalaman bertarung dalam memperebutkan gelar juara dunia MotoGP secara langsung melawan pebalap sekaliber Marquez. Di 2024 Marc saat itu hanya mencoba beradaptasi tanpa mengejar poin juara dunia. Tekanan mental inilah yang menjadi batu sandungan terbesar. Ketika dihadapkan pada situasi krusial di barisan depan, ketenangan mental sering kali runtuh cak…

    Last….Menyongsong seri-seri berikutnya seperti di Red Bull Ring, Austria, Aprilia sebenarnya masih memegang kartu As berupa performa motor RS-GP yang sangat mumpuni. Secara teori, karakteristik sirkuit tersebut sangat cocok dengan paket teknis mereka. Kendati demikian, insiden di Misano memberikan pelajaran berharga bagi kubu Noale: tidak ada komponen aerodinamika, sasis, atau peta mesin baru yang diciptakan insinyur untuk mengatasi tekanan mental dan inkonsistensi pebalap di lintasan. Jika Aprilia benar-benar ingin mewujudkan mimpi meraih titel juara dunia MotoGP, para pebalapnya harus segera belajar mengatasi tekanan psikologis saat melawan sang maestro, Marc Marquez. Yup…melawan sang macan yang ditakuti dari dulu hingga sekarang memang tidak mudah…kita tunggu saja kebangkitan pasukan Aprilia dimasa depan….(iwb)