Iwanbanaran.com – Cakkk…..Veda Ega Pratama, kembali menunjukkan performa gemilang dalam lanjutan Kejuaraan Dunia Moto3 2026 di Sirkuit Sachsenring, Jerman, Minggu (12/7/2026). Membalap untuk Honda Team Asia, Veda sukses melakukan aksi comeback impresif dengan finis di posisi kedelapan setelah memulai balapan dari grid ke-13. Start Ke-13, Finis Ke-8, dan Kembali Salip Hakim Danish !!
Jalannya Balapan: Duel KTM vs CFMOTO
Memulai balapan dari posisi terdepan (Pole Position), Brian Uriarte langsung memimpin rombongan sejak lampu hijau menyala. Namun, ia tidak bisa bernapas lega karena Maximo Quiles (CFMOTO Gaviota Aspar Team) terus menempel ketat di posisi kedua. Quiles bahkan sempat mencetak rekor putaran tercepat balapan yang baru (Fastest Lap) pada putaran ke-3 dengan catatan waktu 1 menit 25,227 detik.
Pertarungan sengit di grup depan melibatkan lima pembalap teratas yang terus saling tekan hingga putaran terakhir. Uriarte akhirnya berhasil menyentuh garis finis pertama dengan total waktu 33 menit 2,694 detik, hanya unggul tipis 0,063 detik dari Quiles yang harus puas berada di tempat kedua. Podium ketiga berhasil diamankan oleh pembalap asal Italia, Matteo Bertelle (LEVEL UP – MTA), yang finis 5,053 detik di belakang sang pemenang.
Veda Pratama Tampil Solid, Raih Top Speed Tertinggi
Pembalap muda asal Indonesia yang membela Honda Team Asia, Veda Pratama, menunjukkan performa yang sangat impresif. Mengawali balapan dengan baik, Veda berhasil menjaga konsistensi di tengah ketatnya persaingan sirkuit Sachsenring yang pendek dan teknis.
Veda akhirnya menyentuh garis finis di posisi ke-8 dengan catatan waktu total 33 menit 18,351 detik (selisih 15,657 detik dari Uriarte). Menariknya, data performa mencatat bahwa Veda Pratama sukses menorehkan kecepatan puncak tertinggi (Event Best Maximum Speed) sepanjang akhir pekan ini, yakni mencapai 216,4 km/jam yang ia cetak saat sesi balapan berlangsung, mengungguli motor-motor KTM yang mendominasi grid.
Analisis Performa Sektor: Di Mana Veda Pratama Mengungguli Lawan?
Sirkuit Sachsenring terkenal dengan karakternya yang pendek (3,7 km), sempit, dan didominasi oleh tikungan ke kiri yang mengalir konlong (flowing). Berdasarkan data catatan waktu per sektor, berikut adalah peta kekuatan Veda Pratama:
-
Sektor 1 (Tikungan 1 hingga Tikungan 3): Sektor pembuka yang lambat dan teknis setelah lintasan lurus utama. Di sini, Veda Pratama mencatatkan waktu yang cukup konsisten, namun sering kali tertahan oleh kepadatan rombongan. Keunggulan top speed motor Honda miliknya baru terlihat saat ia melakukan late-braking di Tikungan 1 (Omega).
-
Sektor 2 & 3 (Tikungan 4 hingga Tikungan 10 – The Waterfall Pre-stage): Ini adalah area mengalir di mana pembalap harus menjaga momentum sudut kemiringan motor. Sektor ini didominasi oleh motor-motor KTM dan CFMOTO yang memiliki kelincahan sasis sedikit lebih unggul di tikungan kiri beruntun. Veda kehilangan rata-rata 0,15 hingga 0,2 detik per putaran di area ini dibanding kelompok lima besar terdepan.
-
Sektor 4 (Tikungan 11 The Waterfall hingga Lintasan Lurus Utama): Sektor ini menjadi panggung utama bagi Veda Pratama. Tikungan 11 (The Waterfall) yang merupakan turunan buta berkecepatan tinggi ke arah kanan membutuhkan nyali besar. Keberanian Veda di titik ini, dikombinasikan dengan akselerasi keluar dari Tikungan 13, memungkinkannya mencetak kecepatan puncak tertinggi akhir pekan ini di angka 216,4 km/jam. Keunggulan aerodinamika dan manajemen girboks di trek lurus ini menjadi senjata utama Veda untuk melakukan aksi salip (overtaking) sebelum garis finis.
Head-to-Head Honda Team Asia: Veda Pratama vs Eddie O’Shea
Balapan GP Jerman 2026 ini menunjukkan dinamika yang menarik di dalam garasi Honda Team Asia. Meskipun kedua pembalap berhasil mengamankan poin ganda untuk tim, Veda Pratama berhasil mengungguli rekan setimnya, Eddie O’Shea, lewat performa yang lebih klinis.
| Metrik Evaluasi | Veda Pratama (Posisi 8) | Eddie O’Shea (Posisi 10) |
| Total Waktu Balapan | 33 menit 18,351 detik | 33 menit 18,483 detik |
| Selisih Waktu (Gap) | +15,657 detik dari P1 | +15,789 detik dari P1 |
| Waktu Putaran Terbaik | 1 menit 25,985 detik (Lap 3) | 1 menit 26,012 detik (Lap 5) |
| Kecepatan Puncak (Top Speed) | 216,4 km/jam (Event Best) | 213,8 km/jam |
| Konsistensi Paruh Kedua | Stabil di kisaran 1’26,2 – 1’26,5 | Fluktuatif akibat degradasi ban belakang |
Catatan Kekuatan Veda
-
Manajemen Ban: Di paruh pertama balapan (hingga lap 10), O’Shea sempat menempel ketat Veda dengan selisih kurang dari 0,2 detik. Namun memasuki paruh kedua, gaya balap Veda yang lebih halus di tikungan panjang Sachsenring membuat ban belakangnya bertahan lebih baik. Hasilnya, Veda mampu mempertahankan ritme di angka 1 menit 26,3 detik, sementara O’Shea mulai kedodoran dan turun ke ritme 1 menit 26,7 detik.
-
Duel Lap Terakhir: Pada putaran penentu, O’Shea mencoba memanfaatkan slipstream Veda di sektor terakhir. Namun, keunggulan top speed Veda (216,4 km/jam) membuatnya mampu mempertahankan posisi ke-8 di garis finis, hanya unggul tipis 0,132 detik dari Ryusei Yamanaka (P9) dan Eddie O’Shea (P10) yang finis hampir bersamaan.
Catatan waktu terbaik per putaran milik Veda dibukukan pada putaran ke-3 dengan waktu 1 menit 25,985 detik. Hasil finis ke-8 ini memberinya tambahan 8 poin penting untuk klasemen kejuaraan dunia cak
Banyak Pembalap Tumbang
Karakter sirkuit Sachsenring yang menuntut konsistensi memakan banyak korban. Tercatat beberapa pembalap mengalami kecelakaan (crashed out) dan gagal finis, di antaranya:
-
Valentin Perrone dan Marcos Uriarte langsung terlibat insiden di putaran pembuka (putaran 1).
-
Casey O’Gorman sempat terjatuh pada putaran ke-7, masuk ke pit, kembali ke lintasan, sebelum akhirnya resmi menyudahi balapan di dalam pit pada putaran ke-15.
-
Scott Ogden terjatuh pada putaran ke-7 namun masih bisa melanjutkan balapan hingga finis di posisi 17.
-
Joel Esteban dan Adrian Cruces mengalami kecelakaan bersamaan pada putaran ke-7 dan harus dibawa ke Medical Centre.
Last….Veda akhirnya menyentuh garis finis di peringkat ke-8 dengan selisih waktu +15,657 detik dari sang pemenang balapan, Brian Uriarte. Keberhasilan mengamankan posisi 10 besar ini sekaligus membawa angin segar bagi posisinya di papan klasemen kejuaraan dunia. Dengan finis di posisi kedelapan, Veda berhak membawa pulang tambahan 8 poin. Hasil ini membuat posisinya di klasemen sementara Kejuaraan Dunia Moto3 kembali menyalip rival sengitnya asal Malaysia, Hakim Danish. Pada balapan kali ini, Hakim Danish yang membela tim AEON Credit – MT Helmets – MSI hanya mampu finis di posisi ke-12 dan mendapatkan 4 poin. Berkat hasil tersebut, Veda Ega Pratama kini naik ke peringkat ke-6 klasemen sementara dengan total koleksi 90 poin, unggul empat angka atas Hakim Danish yang menguntit di peringkat ke-7 dengan 86 poin dari sebelumnya sama-sama 82 poin. Performa solid di GP Jerman 2026 ini menjadi modal berharga bagi Veda Pratama untuk terus bersaing di papan atas Moto3 dan menjaga momentum positif pada seri-seri berikutnya. Gooo Vedaaaa….(iwb)
Hasil Balapan Moto3 Jerman 2026 (Top 10):
-
Brian Uriarte (SPA) – KTM | 33’02.694
-
Maximo Quiles (SPA) – KTM | +0.063
-
Matteo Bertelle (ITA) – KTM | +5.053
-
Marco Morelli (ARG) – KTM | +5.060
-
Rico Salmela (FIN) – KTM | +5.139
-
Adrian Fernandez (SPA) – HONDA | +8.626
-
Jesus Rios (SPA) – HONDA | +11.418
-
Veda Pratama (INA) – HONDA | +15.657
-
Ryusei Yamanaka (JPN) – KTM | +15.774
-
Eddie O’Shea (GBR) – HONDA | +15.789

Iwanbanaran.com – Cakkk….perjalanan kualifikasi Moto3 di Sirkuit Sachsenring, Jerman, penuh dengan kejutan dramatis bagi pembalap muda andalan Indonesia, Veda Ega Pratama. Setelah sempat mencuri perhatian dunia dengan menjadi yang tercepat di sesi latihan, Veda akhirnya harus puas mengamankan posisi start ke-13 dalam sesi Kualifikasi 2 (Q2).
Pada akhir sesi kualifikasi, Brian Uriarte dari tim Red Bull KTM Ajo sukses mengamankan posisi start terdepan. Sayang Veda Ega Pratama harus puas menempati urutan ke-13 dengan selisih waktu (gap) hanya 0,693 detik dari sang polesitter. Walau meleset dari target barisan depan (front row), posisi start di baris kelima ini tetap membuka peluang besar bagi Veda untuk merangsek ke zona poin saat balapan utama.
Last…Balapan utama Moto3 Jerman akan berlangsung sepanjang 23 putaran (lap). Ini menjadi kesempatan emas bagi pembalap berusia 17 tahun tersebut untuk bangkit membayar kegagalan finis (DNF) pada seri sebelumnya di Assen, sekaligus menambah pundi-pundi poin penting di klasemen kejuaraan dunia Moto3 2026. Veda Start P13…..tantangan besar Mendobrak KTM !! semoga bisa cak…(iwb)
Iwanbanaran.com – Cakkk…Suzuki resmi memperkenalkan pembaruan untuk salah satu motor dirt bike kasta tertinggi mereka, Suzuki RM-Z450 model tahun 2027. Motor yang menyandang status sebagai salah satu mesin kompetisi paling tangguh di kelasnya ini kembali hadir dengan membawa sejumlah penyempurnaan teknis untuk memberikan pengalaman berkendara yang lebih presisi, bertenaga, dan adaptif di lintasan motocross. Dan auranya sangarrrr cakkk….
Selain itu, manajemen pengaturan mesin kini jauh lebih praktis berkat dukungan MX-Tuner 2.0. Melalui aplikasi di smartphone, pengendara bisa mengubah peta pengapian (mapping ECU) dan suplai bahan bakar secara instan di paddock sesuai dengan karakter sirkuit atau kondisi tanah yang dihadapi (berlumpur, gembur, atau keras).

Iwanbanaran.com – Cakk….Sesi Latihan Bebas Pertama (FP1) MotoGP Jerman yang berlangsung di Sirkuit Sachsenring menyajikan kejutan sekaligus drama. Pembalap Trackhouse Aprilia, Raul Fernandez, berhasil keluar sebagai yang tercepat setelah mencatatkan waktu terbaik di menit-menit akhir sesi, mengungguli sang “King of Sachsenring”, Marc Marquez yang crash. Waduhhh….
Marquez kembali ke lintasan dan bahkan sempat memimpin lembaran waktu dengan catatan 1 menit 20,880 detik di sisa 25 menit sesi. Ia akhirnya menyudahi FP1 di posisi kedua, terpaut tipis 0,051 detik dari Fernandez, sebuah catatan impresif mengingat Marquez tidak melakukan pergantian ke ban baru di akhir sesi.
Sementara itu, Jack Miller (Pramac) melengkapi posisi lima besar. Pimpinan klasemen sementara, Jorge Martin (Aprilia), harus puas berada di posisi ke-10 pada sesi pembuka ini. Nasib kurang beruntung dialami Maverick Vinales (Tech3 KTM) yang mengalami kecelakaan hebat di Tikungan 11 pada pertengahan sesi, namun beruntung ia bisa berjalan tanpa cedera serius dan finis di posisi ke-11.
Hasil 10 Besar FP1 MotoGP Jerman:
















Iwanbanaran.com – Cakkk….Akhir pekan ini (10–12 Juli 2026), perhatian seluruh pencinta balap motor dunia akan tertuju penuh pada Sirkuit Sachsenring, Jerman. Trek ikonik yang melingkar berlawanan arah jarum jam ini bukan sekadar balapan biasa bagi seorang Marc Marquez, melainkan sebuah panggung di mana sejarah besar berpotensi kembali ditulis ulang oleh Marc. Yup…Tatap GP Jerman: Peluang Emas Marc Marquez Samai Rekor Kemenangan Bersejarah Giacomo Agostini !!
Angka 9 kemenangan ini akan membawa Marquez menyamai rekor legendaris milik Giacomo Agostini, pemegang gelar juara dunia terbanyak dalam sejarah. Agostini merupakan satu-satunya pembalap dalam sejarah grand prix yang mampu memenangkan 9 balapan kelas premier di satu lintasan yang sama, yang ia cetak di sirkuit Imatra (Finlandia) dan sirkuit Spa-Francorchamps (Belgia).
Domenicali juga menegaskan bahwa hingga saat ini, sama sekali tidak ada pembahasan internal di Borgo Panigale mengenai rencana penjualan perusahaan. Walaupun secara teori keputusan untuk membeli atau menjual sebuah brand sepenuhnya merupakan hak prerogatif pemilik saham sesuai dengan kebutuhan korporasi mereka, posisi Ducati saat ini tergolong sangat aman.
“Di Assen kami sudah tahu sejak awal bahwa kami harus menahan diri dan menderita, tetapi kami tetap berhasil mengendalikan situasi dan membawa pulang poin penting untuk kejuaraan,” ungkap Marc Marquez menjelang GP Jerman.
Meski begitu, sirkuit ini tetap menyajikan tantangan teknis tinggi lewat tikungan kanan menurun yang sangat ikonik dan ekstrem bernama ‘The Waterfall’ pada T11, sebuah turunan tajam yang menuntut fokus penuh serta stabilitas motor yang tinggi.
Meskipun Bagnaia sempat memenangkan GP Jerman pada tahun 2024 lalu—memanfaatkan jatuhnya Jorge Martin di dua lap terakhir saat memimpin balapan—Pecco secara terbuka mengakui bahwa Sachsenring bukanlah sirkuit favoritnya.