Iwanbanaran.com – Cakkk….sepertinya masa keemasan kendaraan EV soal subsidi pemerintah pelan-pelan mulai dicabut. Asas keadilan mulai ditegakkan (haiyaahhh). Hal ini berdasarkan update-an terbaru soal regulasi kendaraan listrik (KBLBB) di tanah air. Kalau selama ini kita dimanjain dengan “pajak nol rupiah” alias gratis tis buat PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) dan BBNKB, sekarang skemanya berubah total Kangbro !!!
Jadi cak…dari update paling fresh kemarin, Berdasarkan Permendagri No. 11 Tahun 2026 yang diteken Pak Tito Karnavian, mobil listrik sekarang nggak lagi jadi objek yang dikecualikan dari pajak. Artinya apa? Secara “default” atau aturan dasar, mobil listrik itu SEKARANG KENA PAJAK. Titik!
Terus, kenapa aturannya berubah? Nah, di dalam pasal 14 aturan tersebut, perhitungan pajak sekarang bener-bener ngelihat dua faktor utama: NJKB (Nilai Jual Kendaraan Bermotor) dan Bobot Koefisien. Yang bikin IWB garuk-garuk kepala, bobot koefisien ini dihitung berdasarkan tingkat kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan.
Dan tahu nggak sampeyan? Di lampiran aturan itu, ternyata nggak ada bedanya antara mobil listrik sama mobil bensin konvensional (ICE). Sebagai contoh, BYD M6 punya koefisien 1,050—sama persis kayak koefisien Daihatsu Xenia! Jadi secara “kertas”, pemerintah nganggep beban jalan yang ditimbulkan mobil listrik sama aja kayak mobil bensin. Waduhhh…
Apakah bakal langsung mahal pajaknya? Eits, tunggu dulu… jangan langsung lemes bin galau. Meskipun secara aturan pusat sudah nggak otomatis nol rupiah, tapi pemerintah pusat masih ngasih “celah” buat pemerintah daerah (Pemda) untuk ngasih insentif.
Jadi intinya begini:
-
Nggak Seragam Lagi: Dulu mungkin nasional rata-rata dibebasin. Sekarang, tiap daerah bebas nentuin sendiri mau dikasih diskon berapa persen atau malah tetep digratisin.
-
Tergantung Daerah: Kalau Pemda DKI Jakarta mau tetep gratisin (0%), ya monggo. Tapi kalau Pemda lain mutusin buat narik pajak 10% atau 20% dari dasar pengenaan, ya mereka punya payung hukumnya sekarang.
IWB pribadi ngelihat ini sebagai langkah transisi pemerintah. Mungkin karena populasi EV sudah makin banyak, pemerintah mulai mikirin maintenance jalanan yang juga butuh dana dari pajak kendaraan. Tapi ya itu, buat sampeyan yang baru mau meminang mobil listrik, wajib banget cek aturan di daerah masing-masing nantinya. Jangan sampe kaget pas STNK turun, angkanya nggak nol lagi, mringis tenan nanti!
Last…aturan ini memang bikin bingung karena kebijakan angka diserahkan ke pemerintah daerah…amsyong sih cak. Soalnya kalau sudah dikasih payung hukum dari pemerintah pusat, kebiasaan daerah pasti di “push” karena aji mumpung untuk menambah pendapatan daerah. Namun disisi yang lain, ketimpangan antara pajak EV dan ICE memang kebangetan tenan. Lhaa piyeee…sebagai contoh, mosok pajak pertahun BYD Sealion 7 yang harganya 600 jutaan hanya dikenakan 500 ribu rupiah alias masih lebih murah dari motor PCX IWB yang kena 600 ribuan. Kan ora adil tenan…wong sugih malah disubsidi, iyooo ora wkwkwk (pembeli mobil listrik rata-rata punya kemampuan ekonomi diatas rata-rata). Kalau motor listrik full subsidi baru IWB setuju. Menurut sampeyan sendiri piye cak….setuju nggak dengan revisi aturan subsidi ini ? monggo berikan opininya…. (IWB)
